Keluar-Masuk Hutan Menembus Malam Ramadan
Monday, 15 September 2008
Bersepeda menelusuri lereng gunung dan keluar-masuk hutan memang asyik.Namun bagaimana bila dilakukan di malam hari? Pasti lebih seru dan menantang dibanding bersepeda siang hari.
INILAH yang dilakukan beberapa kelompok sepeda di Kota Bandung sejak Sabtu (13/9) malam hingga pagi kemarin. Mereka menembus dinginnya malam hanya dengan ditemani cahaya bulan.
SINDO yang berkesempatan mengikuti kegiatan ini ikut merasakan kehangatan di malam itu. Sehabis salat tarawih mereka mulai mengayuh sepeda dari rumah masing- masing ke tempat berkumpul di Taman Cikapayang, Dago,Kota Bandung.Sekitar 35 orang mengikuti acara nite riding (bersepeda malam) ini. Menjelang tengah malam, satu persatu sepeda disusun rapi di atas tiga mobil bak terbuka.
Para pemilik sepeda pun bergabung di atas mobil untuk melakukan perjalanan menuju daerah Palintang,Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung. Salah seorang penggagas acara nite riding Satiya Adi Wasana mengatakan, rute yang dilewati itu sangat menantang,apalagi dilewati saat malam hari. ”Rutenya mulai Pelintang, Gunung Manglayang, Bukit Tunggul,Gunung Kasur,Cibodas, Maribaya,Gua Pakar,dan berakhir di daerah Dago,”papar Satiya yang akrab dipanggil Tiyo.
Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar empat jam dengan medan naik-turun. Sekitar pukul 23.00 WIB, rombongan tiba di sebuah lapangan kecil di daerah Palintang.Satu persatu sepeda diturunkan. Peserta kemudian bersiap menyalakan lampu depan dan belakang, menyiapkan pelindung tubuh, serta beberapa perlengkapan lain. Rombongan tidak hanya didominasi pria, terdapat juga dua wanita bernyali besar.
Salah satunya Ella, yang mengaku baru kali ini mengikuti perjalanan malam dengan rute keluar-masuk hutan. ”Baru pertama kali saya ikut acara NR (nite ridding). Penasaran karena banyak yang bilang seru dan menantang,” ungkap warga Kota Cimahi ini.Wanita lainnya, Joan, mengaku tertarik bersepeda malam karena diajak beberapa teman. ”Kebetulan ada yang ngajak untuk bersepeda malam-malam,” ujar perempuan asal Jakarta ini.
Rute pertama dilalui dengan menyusuri punggung dan tebing bukit-bukit di sekitar Gunung Manglayang.Para peserta disuguhi tanjakan disertai batu-batu. Jalur pun sering berubah-ubah menjadi turunan cukup panjang. ”Kalo nggak hati-hati dan pengontrolan sepeda yang tidak cermat,bisa-bisa terjatuh,” ungkap seorang anggota Bandung All Mountain (BAM), Aldi.
Hal lain yang harus dipersiapkan adalah kekuatan tangan,karena getaran sepeda di atas jalan terjal sangat besar. Jika tidak kuat,bisa jadi tubuh terlempar dan akan mendarat bebas di atas tanah. Hampir dua jam lebih para penggila sepeda ini melewati rute tersebut. Saat melalui jalan desa, turunannya pun tak kalah seru. Sekitar pukul 02.00 WIB rombongan memasuki kawasan Air Terjun Maribaya, Lembang, dan langsung menembus Hutan Maribaya.
Melewati jalan setapak, kontrol kemudi pun harus dijaga. Dengan pandangan terbatas dan hanya mengandalkan lampu kecil, para pesepeda dituntut selalu waspada. Setelah beberapa kilometer melalu jalan setapak di tengah hutan, rombongan pun masuk ke kawasan Taman Hutan Raya Ir H Juanda. Rute yang dilewati pun adalah jalan setapak. Di sini mereka harus hati-hati karena di beberapa titik terdapat genangan air yang membuat jalan licin. Baru pada sekitar pukul 03.00 WIB rombongan memasuki Gua Belanda yang menjadi ikon Taman Hutan Raya Ir H Juanda.
Hanya beberapa menit berkumpul di depan Gua Belanda,akhirnya rombongan pun mengakhiri perjalanan dengan meluncur ke daerah Dago dan pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan tersebut tidak jarang peserta menghadapi kendala,mulai jatuh hingga ban bocor. (yugi prasetyo)
Minggu, 14 September 2008
Langganan:
Postingan (Atom)