Senin, 26 Mei 2008

Semangat, Tak Perlu Mati, Meski Sedetik



SEMANGAT BOCAH PENDERITA KANKER GETAH BENING
Cita-cita Tak Lekang oleh Sakit

Badannya kurus. Beratnya kini tak lebih dari 23 Kg. Meski begitu, semangat bocah berusia 12 tahun ini tak pernah reda sedikitpun. Padahal, penyakit kanker getah bening yang menggerogoti tubuhnya sejak setahun lalu membuat perbedaan 180 derajat pada kondisi tubuhnya.


Namanya Dea Nuraeni. Gadis mungil kelahiran Karawang, 26 September 1996 ini tidak berbeda dengan teman mainnya yang lain. Setahun lalu, Dea masih bisa berjalan layaknya teman seusianya. Tapi, penyakit yang dideritanya membuatnya tidak bisa beraktifitas seperti biasanya. “Penyakitku namanya Non Hodgkin's Maligna Lymphoma (NHML). Itu artinya penyakit kanker getah bening,” seloroh Dea dengan polos.


Dea rupanya tahu betul penyakit yang kini dideritanya. Dia juga sepertinya tahu, tubuhnya kini mulai berubah. Badannya lebih kurus, dan jalannya juga sudah tak normal lagi. Tapi entah kenapa, anak pertama dari dua bersaudara ini tetap memperlihatkan ketegarannya. Bahkan, dengan santainya, bocah berkerudung ini menceritakan penyakit dan cita-citanya sekaligus. “Aku pengen jadi guru. Sebab, jadi guru itu tugas mulia dan bisa menyenangkan anak-anak,” ujarnya.


Kini, sehari-hari Dea harus pergi ke sekolahnya di SDN Nagasari VIII di Jalan RH Sastrakusuma, Karawang, diantar ayahnya yang bernama Dudi Herwanto, 34, dengan menggunakan becak. Beruntung, Kepala Sekolah (kasek) Mimin Suminarsih menghibahkan sebuah kursi roda untuk digunakan Dea selama berada di sekolah. Dea mengaku, cukup terbantu dengan adanya kursi roda. Meski tidak bisa lagi melakukan kegemarannya bermain karet dan senam, Dea merasa tetap berbahagia berada bersama teman-temannya di sekolah.


Selepas pulang sekolah, Dea biasa mengajar baca-tulis serta mengaji bagi 20 orang anak kecil di sekitar rumahnya. Meski kondisi tubuh Dea sudah tak seperti dulu, mengajar anak-anak kecil merupakan tugas dan tanggungjawabnya. Dea juga mengaku, lulus dari SD ini, dia akan tetap melanjutkan belajarnya ke SMP. Baginya, cita-citanya untuk terus bersekolah dalam kondisi apapun merupakan proses panjangnya menggapai cita-citanya sebagai pendidik kelak. “Selama aku dan orangtuaku masih mampu, aku harus gapai cita-cita jadi guru,” tandasnya.


Ayah Dea, Dudi Herwanto, 34, mengungkapkan, sebelumnya berat badan anaknya itu bisa mencapai 29 Kg. Suatu hari setahun yang lalu, anaknya terserang panas tinggi. Setelah dibawa ke puskesmas, dokter tidak mendiagnosis apapun. Diapun membawa Dea ke dokter lainnya. Waktu itu, dokter sempat memvonisnya terserang tipes. Setelah sempat dirawat, panas Dea tak kunjung turun. Karena tak punya biaya, Dudi mengaku terpaksa membiarkan anaknya berbaring dirawat di rumahnya. Setelah membawa ke RSUD Karawang, dokter di sana menyarankan Dea di bawa ke RSHS Bandung. Di sanalah, Dea diketahui menderita kanker getah bening.


Di RSHS, Dea sempat dirawat selama enam bulan. Dudi mengaku, dia bersama istrinya Supriatin, 32, merasa sedih dengan penyakit yang diderita anaknya. “Tapi rupanya Dea tidak mau putus sekolah. Bahkan dia tidak mau keluar sekolah hanya karena sakitnya. Dan dia memilih tetap bertahan di sekolah, sambil sesekali sesuai jadwal kami harus menjalani kemoterapi di RSHS,” jelasnya.


Kasek SDN Nagasari VIII Mimin Suminarsih mengatakan, Dea termasuk anak berprestasi. Sejak kelas tiga, Dea selalu menduduki ranking pertama di kelasnya. Anaknya juga terbilang aktif dan rajin. Karena Dea terus memaksa bersekolah, Mimin akhirnya menuruti permintaannya tersebut. “Di sekolah juga dia ternyata tidak minder. Bahkan semangat belajarnya sepertinya tidak pernah surut. Kami kagum punya anak seperti dia,” tuturnya. (raka zaipul) // Dimuat di Harian Seputar Indonesia (SINDO) bulan Mei 2008



Satu lagi, pelajaran moral yang bisa dapatkan; apapun kondisi kita, tetap ada hal penting yang harus diselamatkan, yaitu SEMANGAT...

Aku menemui Dea dan berbincang dengannya. Tak ada raut wajah kesedihan yang aku lihat. Bahkan, tak ada tanda-tanda penyesalan atau rasa kecewa atas takdir yang diterimanya itu. Dea, sejak awal berbincang hingga akhir, tetap tersenyum...

Gadis sebelia ini, sudah mengalami hal yang bagi kebanyakan orang terasa berat. Kalau aku boleh menebak-nebak, Dea ingin memperlihatkan kepada semua orang, ketika fisik tak lagi baik, hati dan pikiran harus tetap baik. Itulah anugerah Tuhan...


Selain pesan moral di atas, aku mendapat lagi hal berkesan dari hasil kerja menjadi penyambung informasi alias jurnalis. Suatu ketika, salah seorang temanku memanggilku. Dia mengaku pamannya Dea. Dan sambil bercerita, dia mengucap banyak terima kasih kepadaku. Begini ceritanya, sambil membawa koran SINDO yang meliput Dea, dia berupaya meminta bantuan. Alhasil, katanya Dea mendapatkan kursi roda baru dari seseorang yang cukup punya uang. Sehingga, sangat terbantulah Dea. Selain itu, dia juga mengaku, berharap beberapa donatur lagi membantu Dea untuk membiayai biaya kemoterapinya.


Mendengar semua ini ada kesejukan di hati. Inilah setitik hasil sebuah upaya kecil mewartakan kenyataan hidup yang getir. Betapa hanya ada sedikit orang yang tidak ingin mengorbankan semangatnya, hanya karena fisik sudah tak kuat. Ini tentunya adalah kondisi nyata negeri ini. Pendidikan, dalam kondisi apapun sangat amat berharga dimata para siswa desa-desa. Tapi justru, dimata para pemilik negeri ini, semuanya tidak berharga.


Dea-dea yang lain akan terus lahir...

Mereka akan membangun negeri ini dengar semangat yang tak pernah mati...

Siapa mau ikut??


salam hangat untuk bocah-bocah penggila ilmu, di jalan hingga tanah becek di kampung...

kakandamu ini, tidak berarti tanpa kalian..

-raka-

Kamis, 15 Mei 2008

Okey, Aku Pulang....

Ah.....
Aku masih menarik nafas panjang hingga satu hari ini...
Bukan keluhan. Ini adalah bentuk syukur. Lebih tepatnya syukur atas sebuah perpisahan.

Kemarin malam, hape-ku berdering. Sebuah panggilan dari teman sekantor di kota kembang sana. Dia menjelaskan, hasil bergumul dengan para gegedug media tempatku bekerja sudah tak bisa ditawar lagi. "Kamu harus pulang," katanya. Dengan sedikit basa-basi, aku akan menempati sebuah rubrik spesial yang katanya oke punya.

"Okey, aku pulang," kataku.

Tak lupa, tidak lama kemudian, beberapa teman dan orang yang kusayangi kuhubungi. Tak dinyana, semuanya berkata, "Selamat datang kembali ke rumah. Kami menunggumu," kata mereka sambil senyum dan ada yang tertawa juga. Kembali ke rumah, dengan sambutan tawa hangat mereka. Sungguh luar biasa....

Ah....
Setahun yang lalu, kota panas ini telah meng-hitam-kan aku dengan berbagai hal. Kulitku tentu menghitam. Sikapku juga sepertinya demikian (hahahaha). Tapi ini semua kuanggap sebuah proses panjang dan pencarian terhadap sesuatu yang entah apa, dan tak pernah berujung. Berat rasanya. Sebuah mitos yang sering dikumandangkan warga di sini, "Jika kamu sudah minum air dari sungai Citarum lebih dari tiga kali, maka kamu akan betah dan berat meninggalkan kota ini," kata mereka. Dan itu rupanya terbukti.... hehehe...

Aku paling tidak suka perpisahan. Dan hingga kini, tak banyak orang yang sudah dekat di kota ini yang kuceritakan aku akan pindah. Sementara, atau bahkan untuk waktu yang lama. Aku hanya senang mengenang sesuatu. Dan rupanya, dengan prilaku seperti itu, kita akan berat melupakan semuanya. Padahal, itu tidak bagus untuk kesehatan. Pasalnya, kita akan bergantung kepada sesuatu yang sudah lepas dari kita. Sudah jadi bayangan. Pergi...

Aku masih belum bisa menuliskan banyak hal dalam kenangananku di kota yang penuh gairah ini. Mulai dari pertemuan pertama dengan saudara-saudara yang hebat, berbagai skandal, menjaili pejabat daerah, hingga membuat konflik sudah jadi bagian dari kenakalanku menjadi jurnalis muda yang semaunya. Biarlah semua itu aku kenang. Toh, jarak kita tidak terlalu jauh.

Yang paling aku ingat, aku pergi ke kota ini dengan "nol" persiapan. Tanpa ada teman satupun dan hanya membawa diri dan sedikit peralatan seadanya. Namun, seiring perjalanan, semua kini berbeda. Dan aku meninggalkan teman, saudara dan kenangan indah di kota ini...

Aku hanya mengingat Michael Buble kini. Sayup-sayup lagu yang sejak dulu menemani kini terdengar lebih merdu. "I wanna go home...".
Tunggu aku, semuanya....
Dalam bagian yang lain, akan kuceritakan bagaimana indahnya kota ini...


"Home" by Michael Buble

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home

May be surrounded
by A million people
I Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky, I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
Cause this was not your dream
But you always believed in me

Another winter day has come
And gone away
In even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home

And I’m surrounded by
A million people I
Still feel all alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know

Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home
Let me go home
It will all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home


Aku pulang, karena menang...
Dan semuanya, terima kasih...

-raka-

Rabu, 07 Mei 2008

Simply Life (dari masa ke masa)

ini dia simply life....

Berusaha mewujudkan apa yang akhirnya bisa kita dapat dalam hidup ini. Bukan sekadar apa yang kita mau, tapi juga apa yang seharusnya kitadapatkan. Santai saja, karena tidak semua yang kita mau pasti kita dapet. Hidup bukan memunguti puing-puing yang berceceran yang akan kita susun menjadi sebuah bangunan yang akan kita tinggali. Hidup itu bukan soal menemukan, tetapi mencari. Toh, kadang kala beberapa hal telah menjadi bagian dari dunia kita.

Semalam dan pagi ini ada sesuatu yang berubah. Apa jadinya bila kita memutuskan untuk mengambil hal ini, bukan yang itu? Semalam tadi, ada sedikit kejujuran yang terungkap saat kita tahu bahwa orang yang kita sayangi begitu peduli dengan perasaan kita. Tapi hidup harus berbeda, karena kita merasa itulah yang harus kita pilih.

Ada yang berubah di sini, di kota ini. Semua teman sibuk mencari diri, mencari makna dan tentunya hidup yang dinamakan bahagia. Mereka menjadi pelaku sejarah, dan semoga sukses mengukir sejarahnya sendiri dengan tinta emas versi mereka sendiri. Ada dua banci diperempatan jalan layang yang berubah penampilan. Berusaha menggoda para pengemudi mobil dengan kecrek bekas tutup botol. "Ih, abang baek dech!" kata mereka. Rambut keduanya pendek berwarna dan berpakaian yang aduhai seksinya. Siapa yang bernafsu??Kalian tentunya....hehehehe...

Saban pagi (kala itu, sekitar dua tahun lalu) saat saya sering melintas lagi jalan itu, mereka kerap ada. Dan sepertinya akan terus ada, karena bagi mereka itulah episode yang harus mereka jalani. Sutradara telah memutuskan peran mereka. Menjadi banci kecrek dengan bayaran semau penonton. Sutradara tak memberi mereka bayaran. Sutrada hanya memberi mereka nyawa. Itu saja. Selebihnya, ada akal, nafsu dan hati. Seharusnya mereka gunakan itu.

Ya, simply life adalah tentang peran. Bagaimana kita memerankan karakter kita sebaik mungkin. Temanku si fulan sedang berperan sebagai jurnalis, dan dia kini merasa hidupnya cukup bermakna. Karena dengan peran itu dia jadi tahu kebobrokan para pejabat negeri ini yang doyan mencuri hak orang lain. Satu lagi sedang berperan menjadi putra daerah. Mengukir sejarah dengan unjuk kabisa yang kelak dinilai banyak juri. Ada juga yang berbahagia karena memenangkan sebuah kompetisi bergengsi. "The dreams come true," kata temanku. Wuuuaaah, keren! Mendapatkan sesuatu yang kita inginkan artinya mimpi telah menjadi kenyataan. Hmmm, manusiawi ya.... Aama hal manusiawinya dengan orang yang bersikap sesuai dengan apa yang orang lain berikan kepada kita.

Simply life memang tentang memilih peran. Menjadi sesuatu, seseorang atau menjadi apapun bagi apapun juga siapapun. Tidak ada yang egois saat kita berpikir, "ini hidup gue!". Toh, kita tidak pernah memaksa orang lain untuk menjadi apa yang kita mau. Kita memilih peran kita sendiri. Dan menjadi diri sendiri adalah peran tersulit dalam hidup ini. Karena sederhana, kita memang tidak hidup sendiri. Ambil apa yang kamu mau, atau tidaksama sekali. Karena kemarin telah lewat, dan esok kita tidak pernah tahu. Kita hanya hidup untuk hari ini, dan bermimpi untuk esok hari.

Tidak ada yang salah dalam hidup ini. Satu-satunya kesalahan adalah menyesali peran yang kita mainkan. Setiap orang punya peran yang hebat dan dia bisa menjadi aktor terbaik dalam hidup ini, asal dia bisa memilihnya dengan baik. Hidup itu selalu tentang mencari. Apapun yang kita lakukan, "lu keren, man!" Karena ini bagian dari simply life. Dan dalam simply life, semua hal bisa terjadi.
Percaya dech....


Okey, simply life ini aku tulis sekitar dua tahun lalu...
Dan dua tahun ini, dengan perubahan yang cukup berharga -- saat aku kini ada di sebuah kota yang berbeda, dengan orang sekitar yang berbeda, dengan kehidupan dan peran yang terbilang berbeda, dan semua hal yang kita lihat, dengarkan dan rasakan berbeda -- rupanya hanya simply life ini yang tak berbeda.

"Karena sampai kapanpun, saat kamu bersyukur, saat kamu banyak memberi, kamu akan mendapat lebih dari semuanya. Dan aku pikir itulah yang bernama BAHAGIA"

hahahahaha....
Sebuah persembahan pertama kala itu. Dan ini, tentu adalah persembahan selamanya....

-raka-

Selasa, 06 Mei 2008

Bagi 1 Mei (May Day)

Bagi hari kesatu di bulan Mei yang cerah ini...
Seluruh dunia merayakannya dengan nama May Day
Bersatulah buruh di dunia dengan warna-warni atribut mereka
dengan warna-warni kepentingan mereka. Jika boleh mengklaim, semua akan kembali pada persoalan perut...

Tapi satu Mei ini, aku tak akan bercerita soal May Day. Aku akan bercerita perkara satu tahun yang penuh rasa di Kota ini, kota yang panas dengan berbagai cerita hangat di dalamnya...

Satu Mei tahun yang lalu, aku, dengan ketidaktahuan soal kota ini, soal watak dan emosi orang di kota ini, dan dengan segala ketidaktahuan yang aku miliki, memulai sebuah perjalanan. Menjadi jurnalis adalah pilihan mematikan. Apa sebab? Rupanya, menjadi jurnalis itu cukup menantang maut. Dalam artian luas, kemanapun kamu harus pergi, menguasai wilayah seorang diri, dan menantang kerasnya hukum jalanan. Hukum dimana jika kau tak hati-hati, maka kau akan celaka dua-belas...

Aku cukup ingat, sewaktu ribuan buruh memakai kaos merah menyuarakan nurani mereka-atas nama kebutuhan perut tiap orang buruh dan mewakili anak-anak mereka yang masih kecil dan jelas kelaparan, istri mereka yang harap-harap cemas saat sang suami pulang (dan istri para buruh ini selalu memikirkan; "Apakah suamiku akan pulang membawa nasi dan susu bayi kita hari ini?"). Semua kegetiran tersebut masih jelas bagiku: seorang jurnalis coba-coba dan yang boro-boro tahu dunianya sendiri, apalagi dunia orang lain. Tapi, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku pergi jauh dari keluarga...

Tuhan memang selalu Maha Pengasih dan Penyayang...
Setahun yang lalu dan kini semuanya telah berbeda...
Jika tahun lalu aku memilih bersama para buruh ini, tahun ini, dengan beberapa kejenuhan, aku malah memilih pergi naik gunung (wilayah dingin di kota panas ini) dengan menggunakan motor trail pinjaman seorang pejabat yang baik hati. Dengan banyak orang kami beranjak pergi. Tak lupa, aku mengajak dia: "yang selalu diberkati"

Singkat cerita, kami bercanda ria di sebuah villa dengan kolam ikan dan sangat dekat dengan sungai besar yang indah. Suasananya begitu akrab. Apalagi, dangdutan nyawer tiga/empat gadis muda penyanyi dangdut (yang tidak terlalu cantik+bahenol) menyemarakkan suasana bapak-bapak yang kegirangan tidak didampingi istrinya. Mereka tertawa, membagikan saweran seribu perak satu persatu kepada penyanyi itu. Girang gemirang suasana...


Baiklah... aku akan lanjutkan cerita...
Ada keramaian yang harus kuhampiri.
Gapleh, beberapa orang muda gak ada kerjaan (diantaranya ada pejabat lho), kopi dan mereka menitip padaku beberapa potong gorengan. Agar suasana lebih hangat tanpa perut keroncongan...

Aku meluncur sebentar...
Inilah kota ini; Karawang, sayang...

-raka-