
SEMANGAT BOCAH PENDERITA KANKER GETAH BENING
Cita-cita Tak Lekang oleh Sakit
Badannya kurus. Beratnya kini tak lebih dari 23 Kg. Meski begitu, semangat bocah berusia 12 tahun ini tak pernah reda sedikitpun. Padahal, penyakit kanker getah bening yang menggerogoti tubuhnya sejak setahun lalu membuat perbedaan 180 derajat pada kondisi tubuhnya.
Namanya Dea Nuraeni. Gadis mungil kelahiran Karawang, 26 September 1996 ini tidak berbeda dengan teman mainnya yang lain. Setahun lalu, Dea masih bisa berjalan layaknya teman seusianya. Tapi, penyakit yang dideritanya membuatnya tidak bisa beraktifitas seperti biasanya. “Penyakitku namanya Non Hodgkin's Maligna Lymphoma (NHML). Itu artinya penyakit kanker getah bening,” seloroh Dea dengan polos.
Dea rupanya tahu betul penyakit yang kini dideritanya. Dia juga sepertinya tahu, tubuhnya kini mulai berubah. Badannya lebih kurus, dan jalannya juga sudah tak normal lagi. Tapi entah kenapa, anak pertama dari dua bersaudara ini tetap memperlihatkan ketegarannya. Bahkan, dengan santainya, bocah berkerudung ini menceritakan penyakit dan cita-citanya sekaligus. “Aku pengen jadi guru. Sebab, jadi guru itu tugas mulia dan bisa menyenangkan anak-anak,” ujarnya.
Kini, sehari-hari Dea harus pergi ke sekolahnya di SDN Nagasari VIII di Jalan RH Sastrakusuma, Karawang, diantar ayahnya yang bernama Dudi Herwanto, 34, dengan menggunakan becak. Beruntung, Kepala Sekolah (kasek) Mimin Suminarsih menghibahkan sebuah kursi roda untuk digunakan Dea selama berada di sekolah. Dea mengaku, cukup terbantu dengan adanya kursi roda. Meski tidak bisa lagi melakukan kegemarannya bermain karet dan senam, Dea merasa tetap berbahagia berada bersama teman-temannya di sekolah.
Selepas pulang sekolah, Dea biasa mengajar baca-tulis serta mengaji bagi 20 orang anak kecil di sekitar rumahnya. Meski kondisi tubuh Dea sudah tak seperti dulu, mengajar anak-anak kecil merupakan tugas dan tanggungjawabnya. Dea juga mengaku, lulus dari SD ini, dia akan tetap melanjutkan belajarnya ke SMP. Baginya, cita-citanya untuk terus bersekolah dalam kondisi apapun merupakan proses panjangnya menggapai cita-citanya sebagai pendidik kelak. “Selama aku dan orangtuaku masih mampu, aku harus gapai cita-cita jadi guru,” tandasnya.
Ayah Dea, Dudi Herwanto, 34, mengungkapkan, sebelumnya berat badan anaknya itu bisa mencapai 29 Kg. Suatu hari setahun yang lalu, anaknya terserang panas tinggi. Setelah dibawa ke puskesmas, dokter tidak mendiagnosis apapun. Diapun membawa Dea ke dokter lainnya. Waktu itu, dokter sempat memvonisnya terserang tipes. Setelah sempat dirawat, panas Dea tak kunjung turun. Karena tak punya biaya, Dudi mengaku terpaksa membiarkan anaknya berbaring dirawat di rumahnya. Setelah membawa ke RSUD Karawang, dokter di sana menyarankan Dea di bawa ke RSHS Bandung. Di sanalah, Dea diketahui menderita kanker getah bening.
Di RSHS, Dea sempat dirawat selama enam bulan. Dudi mengaku, dia bersama istrinya Supriatin, 32, merasa sedih dengan penyakit yang diderita anaknya. “Tapi rupanya Dea tidak mau putus sekolah. Bahkan dia tidak mau keluar sekolah hanya karena sakitnya. Dan dia memilih tetap bertahan di sekolah, sambil sesekali sesuai jadwal kami harus menjalani kemoterapi di RSHS,” jelasnya.
Kasek SDN Nagasari VIII Mimin Suminarsih mengatakan, Dea termasuk anak berprestasi. Sejak kelas tiga, Dea selalu menduduki ranking pertama di kelasnya. Anaknya juga terbilang aktif dan rajin. Karena Dea terus memaksa bersekolah, Mimin akhirnya menuruti permintaannya tersebut. “Di sekolah juga dia ternyata tidak minder. Bahkan semangat belajarnya sepertinya tidak pernah surut. Kami kagum punya anak seperti dia,” tuturnya. (raka zaipul) // Dimuat di Harian Seputar Indonesia (SINDO) bulan Mei 2008
Satu lagi, pelajaran moral yang bisa dapatkan; apapun kondisi kita, tetap ada hal penting yang harus diselamatkan, yaitu SEMANGAT...
Aku menemui Dea dan berbincang dengannya. Tak ada raut wajah kesedihan yang aku lihat. Bahkan, tak ada tanda-tanda penyesalan atau rasa kecewa atas takdir yang diterimanya itu. Dea, sejak awal berbincang hingga akhir, tetap tersenyum...
Gadis sebelia ini, sudah mengalami hal yang bagi kebanyakan orang terasa berat. Kalau aku boleh menebak-nebak, Dea ingin memperlihatkan kepada semua orang, ketika fisik tak lagi baik, hati dan pikiran harus tetap baik. Itulah anugerah Tuhan...
Selain pesan moral di atas, aku mendapat lagi hal berkesan dari hasil kerja menjadi penyambung informasi alias jurnalis. Suatu ketika, salah seorang temanku memanggilku. Dia mengaku pamannya Dea. Dan sambil bercerita, dia mengucap banyak terima kasih kepadaku. Begini ceritanya, sambil membawa koran SINDO yang meliput Dea, dia berupaya meminta bantuan. Alhasil, katanya Dea mendapatkan kursi roda baru dari seseorang yang cukup punya uang. Sehingga, sangat terbantulah Dea. Selain itu, dia juga mengaku, berharap beberapa donatur lagi membantu Dea untuk membiayai biaya kemoterapinya.
Mendengar semua ini ada kesejukan di hati. Inilah setitik hasil sebuah upaya kecil mewartakan kenyataan hidup yang getir. Betapa hanya ada sedikit orang yang tidak ingin mengorbankan semangatnya, hanya karena fisik sudah tak kuat. Ini tentunya adalah kondisi nyata negeri ini. Pendidikan, dalam kondisi apapun sangat amat berharga dimata para siswa desa-desa. Tapi justru, dimata para pemilik negeri ini, semuanya tidak berharga.
Dea-dea yang lain akan terus lahir...
Mereka akan membangun negeri ini dengar semangat yang tak pernah mati...
Siapa mau ikut??
salam hangat untuk bocah-bocah penggila ilmu, di jalan hingga tanah becek di kampung...
kakandamu ini, tidak berarti tanpa kalian..
-raka-