7 September 2007 in Artikel, Dunia, Feature, Kisah-Nyata, Sosial
[batak news; cerita dari india kiriman anneke priskila]
Kasih yang tak terduga.
Artikel berisi cerita ringan ini berasal dari India, lalu diteruskan Anneke Priskila ke imelku; bataknews [at] gmail [dot] com. Anneke bekerja dan tinggal di Medan. Dia seorang kawan yang baik, berdarah Tionghoa, pengikut Yesus Kristus yang lembut hati, dan belum menikah.
ISTERIKU BERKATA KEPADA aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”
Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu, yang tampak ketakutan. Air matanya banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt, yaitu nasi khas India; curd rice. Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun.
Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”. Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”
Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “Boleh ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan saya habiskan. Tapi saya akan minta….”
Dia agak ragu-ragu sejenak. “Akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”
Aku menjawab, “Oh, pasti, sayang.”
Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih, ayah?”
“Yah, pasti,” jawabku sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah-mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “Janji”. Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.” Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok.”
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku, dan juga ibuku) tertuju kepadanya.
Ternyata Sindu minta agar kepalanya dipangkas hingga botak licin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata, “Permintaan gila! Anak perempuan dibotakin. Tidak mungkin!”
Ibuku juga menggerutu. “Jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.”
Aku coba membujuk: “Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain? Kami semua akan sedih melihatmu botak.”
Tapi Sindu tetap dengan pilihannya. “Tidak ada, yah. Tak ada keinginan lain,” kata Sindu.
Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.”
Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu, dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan harta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”
Lalu aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kau sudah gila?”
“Tidak,” jawabku, “kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi.”
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah. Sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu, tunggu saya.” Yang mengejutkanku, ternyata kepala anak laki-laki itu botak juga. Aku sempat berpikir, mungkin botak model jaman sekarang.
Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata padaku, “Anak anda, Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia.”
Wanita itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu. “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak. Dia tidak mau pergi ke sekolah, takut diejek oleh teman-teman sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Dan saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”
Mendengar cerita itu, aku berdiri terpaku, dan aku menangis. “Malaikat kecilku, tolong ajarkan aku tentang kasih.”
www.blogberita.com
Senin, 25 Februari 2008
Senin, 11 Februari 2008
Buat 10, Seharusnya Mereka Syahid, Tuhan
Bandung, 9 Februari 2008. Pukul 20.30 WIB
BANDUNG-10 remaja terpaksa harus meregang nyawa sia-sia ketika menyaksikan sebuah pertunjukan band aliran 'Punk' di Gedung Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/2/2008) pukul 20.00 WIB. Akibat peristiwa ini, acara launching grub band tersebut terhenti beberapa saat.
Informasi yang diperoleh di lapangan menyebutkan, kesepuluh remaja tersebut tewas akibat terinjak-injak penonton konser yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Kejadian tersebut berawal ketika, ratusan anggota 'Punk' Bandung tidak kebagian tiket launching album grup band Punk bernama 'Beside'. Sontak karena tidak kebagian tiket, ratusan punkers ini nekat menerobos pintu masuk.
Jumlah aparat dan petugas yang tidak memadai, membuat para punkers yang bertindak brutal itu tak dapat dicegah. Namun hal ini justru berakibat maut. Karena ada ratusan orang yang berjejalan masuk, beberapa penonton yang sudah berada di dalam gedung panik. Mereka pun berebutan untuk keluar.
Akibat berdesak-desakan dan pintu masuk dan keluar dijadikan satu, terjadilah peristiwa maut tersebut. Sepuluh pemuda tewas seketika akibat terinjak-injak dan tiga orang mengalami luka-luka serius. Kini kesembilan remaja tewas dan tiga korban luka-luka sudah dilarikan ke RS Hasan Sadikin, Bandung. Sementara satu korban tewas dilarikan ke RS Immanuel. (OKEZONE, 9/2/08, 23:55 wib)
Sungguh fantastis dunia musik kita...
Sebagai bagian dari fanatisme, 'berkorban' adalah hal penting. Dan dalam kepercayaan sebagian besar agama, berkorban demi sebuah kepercayaan dinamakan syahid. Ah, andai aku bisa meminta kepada Tuhan, agar ke-10 bocah yang menjadi korban tragedi AACC masuk surga, dan mereka menjadi syahid. Sebab, untuk fanatisme mereka terhadap musik, mereka adalah pejuang garda depan pembela musik. Musik metal atau cadas tepatnya...
Sekali lagi, semua perjuangan butuh pengorbanan. Tapi seharusnya tidak sia-sia, kawan..
Okey, kalian sendiri yang menilai semua ini. Ternyata, bukan hanya musik cadas yang kerap membawa korban. Musik melow-gumelow juga suka membawa korban. Lihat saja konser Ungu, Sheila On-7 dan musik sejabana yang membawa korban. Sungguh fantastis. Jika aku, mungkin tidak seberani mereka dalam hal ini. Demi fanatisme, berjuang di garda depan, dan kembali kehadapanNya...
Di lead berita di atas, dikatakan, 10 remaja harus meregang nyawa sia-sia. Kata sia-sia aku tebalkan dan garis bawahi, karena ini persoalan persepsi. Bagi orang lain, mereka akan sia-sia. Bagi teman mereka yang berjuang bersama dalam fanatisme yang sama pula, hmmm, aku pikir mereka adalah pahlawan. Entah dalam kamus edisi mana, mereka tetap disebut pahlawan.
Aku, akan mengangkat topi, dan mengibarkan bendera setengah tiang bagi mereka. Mereka masih belia, dan mereka akan dikenang. Dunia musik pasti bersedih. Underground, meski tak semua suka, dia adalah tetap musik. Musik dan gaya hidup. Jadi, ini adalah bagian dari hari berkabung nasional bagi dunia musik. Para penikmat musik, jika kemarin kau kibarkan bendera setengah tiang untuk almarhum Soeharto, kini saatnya kau lakukan hal yang sama untuk mereka. Buat 10, seharusnya mereka syahid...
Salam perdamaian, dan semoga tenang dengan alunan musik dari malaikat di sana...
Kami akan menyusul. Dengan syahid dalam kamus Tuhan, tentunya...
salam hangat penuh do'a, adik-ku...
-raka-
BANDUNG-10 remaja terpaksa harus meregang nyawa sia-sia ketika menyaksikan sebuah pertunjukan band aliran 'Punk' di Gedung Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/2/2008) pukul 20.00 WIB. Akibat peristiwa ini, acara launching grub band tersebut terhenti beberapa saat.
Informasi yang diperoleh di lapangan menyebutkan, kesepuluh remaja tersebut tewas akibat terinjak-injak penonton konser yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Kejadian tersebut berawal ketika, ratusan anggota 'Punk' Bandung tidak kebagian tiket launching album grup band Punk bernama 'Beside'. Sontak karena tidak kebagian tiket, ratusan punkers ini nekat menerobos pintu masuk.
Jumlah aparat dan petugas yang tidak memadai, membuat para punkers yang bertindak brutal itu tak dapat dicegah. Namun hal ini justru berakibat maut. Karena ada ratusan orang yang berjejalan masuk, beberapa penonton yang sudah berada di dalam gedung panik. Mereka pun berebutan untuk keluar.
Akibat berdesak-desakan dan pintu masuk dan keluar dijadikan satu, terjadilah peristiwa maut tersebut. Sepuluh pemuda tewas seketika akibat terinjak-injak dan tiga orang mengalami luka-luka serius. Kini kesembilan remaja tewas dan tiga korban luka-luka sudah dilarikan ke RS Hasan Sadikin, Bandung. Sementara satu korban tewas dilarikan ke RS Immanuel. (OKEZONE, 9/2/08, 23:55 wib)
Sungguh fantastis dunia musik kita...
Sebagai bagian dari fanatisme, 'berkorban' adalah hal penting. Dan dalam kepercayaan sebagian besar agama, berkorban demi sebuah kepercayaan dinamakan syahid. Ah, andai aku bisa meminta kepada Tuhan, agar ke-10 bocah yang menjadi korban tragedi AACC masuk surga, dan mereka menjadi syahid. Sebab, untuk fanatisme mereka terhadap musik, mereka adalah pejuang garda depan pembela musik. Musik metal atau cadas tepatnya...
Sekali lagi, semua perjuangan butuh pengorbanan. Tapi seharusnya tidak sia-sia, kawan..
Okey, kalian sendiri yang menilai semua ini. Ternyata, bukan hanya musik cadas yang kerap membawa korban. Musik melow-gumelow juga suka membawa korban. Lihat saja konser Ungu, Sheila On-7 dan musik sejabana yang membawa korban. Sungguh fantastis. Jika aku, mungkin tidak seberani mereka dalam hal ini. Demi fanatisme, berjuang di garda depan, dan kembali kehadapanNya...
Di lead berita di atas, dikatakan, 10 remaja harus meregang nyawa sia-sia. Kata sia-sia aku tebalkan dan garis bawahi, karena ini persoalan persepsi. Bagi orang lain, mereka akan sia-sia. Bagi teman mereka yang berjuang bersama dalam fanatisme yang sama pula, hmmm, aku pikir mereka adalah pahlawan. Entah dalam kamus edisi mana, mereka tetap disebut pahlawan.
Aku, akan mengangkat topi, dan mengibarkan bendera setengah tiang bagi mereka. Mereka masih belia, dan mereka akan dikenang. Dunia musik pasti bersedih. Underground, meski tak semua suka, dia adalah tetap musik. Musik dan gaya hidup. Jadi, ini adalah bagian dari hari berkabung nasional bagi dunia musik. Para penikmat musik, jika kemarin kau kibarkan bendera setengah tiang untuk almarhum Soeharto, kini saatnya kau lakukan hal yang sama untuk mereka. Buat 10, seharusnya mereka syahid...
Salam perdamaian, dan semoga tenang dengan alunan musik dari malaikat di sana...
Kami akan menyusul. Dengan syahid dalam kamus Tuhan, tentunya...
salam hangat penuh do'a, adik-ku...
-raka-
Soal Menantu SBY
hari ini hampir tidak ada ide buat curhat di blog...
Hujan masih terus mengguyur kota ini. Kota yang tidak pernah terpikirkan sedikitpun aku akan singgah di sini. Kota pertanian, sekaligus industri kaliber internasional. Tapi, biasalah, dasar birokrat negeri ini, tak pernah bisa memanfaatkan peluang yang ada... Tik.
Duduk sendiri bukanlah hal yang menyenangkan. Meski ditemani penjelajahan dunia maya gratis dengan teknologi 'area panas', tapi tetap saja membosankan... Monday is holiday... Libur yang aneh. Dan saat ini, jreeeenggg, ada hiburan tiga dara cantik baru datang. Eh, Annisa Pohan ternyata... salah lagi. Ada Annisa Pohan, menantu Presiden SBY... Damn! Dua kali aku salah soal Annisa Pohan ini...
Begini ceritanya. Anaknya SBY itu kan tugas di kota ini sebagai tentara. Waktu itu, aku diundang meliput acara mereka di markas mereka. You know-lah, jika ada di markas tentara, yang kita lihat hanyalah wajah-wajah garang berhati keras... Tidak semua sih. Ada juga yang hantinya Bimbo abis lah... Nah, sewakti lagi enak-enaknya membidikkan kamera, tiba-tiba aku bilang ke rekan sesama profesi di sampingku, "Eh, ada cewek cantiiikk banggeett... tuuuh," sambil menunjuk. Tiba-tiba... (mata kukerdipkan dulu). "Eh, salah... itu Annisa Pohan... Salah, pantesan catik banget...hahahaha," kataku. Yah, sudah dua kali menyangka cewek cantik itu ternyata Annisa Pohan... Dan didepanku kini, Annisa Pohan hanya berjalan-jalan memilih menu didampingi seorang pengawal berwajah sangar... Aku pikir dia Paspampres deh...
Dia memang cantik. Itu saja...
Ya sudah, ada juga sedikit ide buat nulis... Baguslah. Untung kamu dateng Annisa Pohan...
Eh ralat, Paspampres-nya ada dua... Satu lagi nyusul di belakang, jalan sendiri dengan wajah sangar juga. Tapi apa hatinya sedang galau, ya, sehingga dia pasang wajah sangar itu??
Lumayan terhiburlah, karena kamu lewat, Annisa Pohan...
Sambil menunggu teman yang akan datang sejam lagi...
cuaca cukup baik untuk hari libur ini,
-raka-
Hujan masih terus mengguyur kota ini. Kota yang tidak pernah terpikirkan sedikitpun aku akan singgah di sini. Kota pertanian, sekaligus industri kaliber internasional. Tapi, biasalah, dasar birokrat negeri ini, tak pernah bisa memanfaatkan peluang yang ada... Tik.
Duduk sendiri bukanlah hal yang menyenangkan. Meski ditemani penjelajahan dunia maya gratis dengan teknologi 'area panas', tapi tetap saja membosankan... Monday is holiday... Libur yang aneh. Dan saat ini, jreeeenggg, ada hiburan tiga dara cantik baru datang. Eh, Annisa Pohan ternyata... salah lagi. Ada Annisa Pohan, menantu Presiden SBY... Damn! Dua kali aku salah soal Annisa Pohan ini...
Begini ceritanya. Anaknya SBY itu kan tugas di kota ini sebagai tentara. Waktu itu, aku diundang meliput acara mereka di markas mereka. You know-lah, jika ada di markas tentara, yang kita lihat hanyalah wajah-wajah garang berhati keras... Tidak semua sih. Ada juga yang hantinya Bimbo abis lah... Nah, sewakti lagi enak-enaknya membidikkan kamera, tiba-tiba aku bilang ke rekan sesama profesi di sampingku, "Eh, ada cewek cantiiikk banggeett... tuuuh," sambil menunjuk. Tiba-tiba... (mata kukerdipkan dulu). "Eh, salah... itu Annisa Pohan... Salah, pantesan catik banget...hahahaha," kataku. Yah, sudah dua kali menyangka cewek cantik itu ternyata Annisa Pohan... Dan didepanku kini, Annisa Pohan hanya berjalan-jalan memilih menu didampingi seorang pengawal berwajah sangar... Aku pikir dia Paspampres deh...
Dia memang cantik. Itu saja...
Ya sudah, ada juga sedikit ide buat nulis... Baguslah. Untung kamu dateng Annisa Pohan...
Eh ralat, Paspampres-nya ada dua... Satu lagi nyusul di belakang, jalan sendiri dengan wajah sangar juga. Tapi apa hatinya sedang galau, ya, sehingga dia pasang wajah sangar itu??
Lumayan terhiburlah, karena kamu lewat, Annisa Pohan...
Sambil menunggu teman yang akan datang sejam lagi...
cuaca cukup baik untuk hari libur ini,
-raka-
Minggu, 10 Februari 2008
Banyak Cara Berterima Kasih
Wah, masih ada waktu rupanya....
Aku selalu suka kesederhanaan... Tidak terlalu peduli dengan hari apa ini, atau betapa berartinya 24 tahun yang lalu pada hari ini, aku suka kesederhanaan...
Akhirnya, ada banyak cara bagi kita untuk berterima kasih kepada semuanya, terutama Tuhan. Karena katanya, bahagia itu bagaimana cara kita berterima kasih kepada Tuhan... Boleh percaya, boleh tidak... Tapi aku akan berkata dengan caraku, "alhamdulillaah..."
Karena hari ini, masih ada kesederhanaan buatku. Semoga buat kalian juga...
Oh ya, terima kasih sahabat semua, rela menyibukkan jari tangannya yang mungil untuk mengucap do'a bagiku... "Semoga ini, semoga itu, semoga begini, begitu, begindang, dll..."
"Amiiin," kataku.
Pada akhirnya, aku yang memutuskan....
Jadilah selalu "siapa-siapa" dalam kesederhanaan...
-raka-
Aku selalu suka kesederhanaan... Tidak terlalu peduli dengan hari apa ini, atau betapa berartinya 24 tahun yang lalu pada hari ini, aku suka kesederhanaan...
Akhirnya, ada banyak cara bagi kita untuk berterima kasih kepada semuanya, terutama Tuhan. Karena katanya, bahagia itu bagaimana cara kita berterima kasih kepada Tuhan... Boleh percaya, boleh tidak... Tapi aku akan berkata dengan caraku, "alhamdulillaah..."
Karena hari ini, masih ada kesederhanaan buatku. Semoga buat kalian juga...
Oh ya, terima kasih sahabat semua, rela menyibukkan jari tangannya yang mungil untuk mengucap do'a bagiku... "Semoga ini, semoga itu, semoga begini, begitu, begindang, dll..."
"Amiiin," kataku.
Pada akhirnya, aku yang memutuskan....
Jadilah selalu "siapa-siapa" dalam kesederhanaan...
-raka-
Sabtu, 09 Februari 2008
Hujan, Kue Keranjang dan Hari Esok
Hari ini hujan abisss... Selepas berselancar gretongan dengan 'area panas' di sebuah cafe yang lumayan oke di kota ini, aku memutuskan bergabung memancing di hujan hari dengan teman-teman... Hebat kan? Sewaktu hujan deras malah memancing. Oh ya, aku sebetulnya tidak suka memancing. Tapi, karena tempat memancingnya oke dan aku berharap mendapatkan karedok gratis dan secangkir teh manis hangat di tempat mancing itu, aku putuskan dengan sedikit kenekatan pergi menghadang hujan deras... Sungguh sebuah pengorbanan, bukan? Sebab, sesuatu yang gratis itu juga ternyata butuh pengorbanan.... hahahaha...
Sudahlah, dan aku tiba. Dan karedok serta teh manis hangat itu aku dapatkan juga. Gratis. Catat itu! Selepas lelah memancing, kami pulang ke rumah masing-masing, masih dengan situasi menerjang badai dan hujan di jalan raya... Mantap! Dan sampailah di rumah. Menggantung semua pakaian yang basah, lalu mandi. Setelah itu, kamu tahu??? Ya, sepotong kue keranjang yang aku sisakan dari gigitan liar sewaktu imlek kemarin, masih ada. Waw, sensasinya luar biasa, mba!!! Dengan lahap kuhabiskan dodol cina itu tanpa tersisa sedikitpun... Habislah sudah. Ironisnya, setelah dodol cina gratis itu habis, aku masih ketagihan. Damn, aku addicted dodol cina ternyata... "Kayak drugs, ya? Tapi pasti bisa sembuh, kan?" Ada yang tahu percakapan dalam video klip apakah itu???
Setelah dodol cina itu habis, aku putuskan menonton dvd bajakan di laptop tukul-ku. Ya, kali ini "Warlords" jadi pilihanku. Ada Jet Lee dan Andy Lau duet maut di pelem ini. Luar biasa juga! Tapi dasar dvd bajakan, pas mau habis, tiba-tiba..... dret...dret...dret... film terhenti. Damn again!!! Tak bisa kusalahkan penjual dvd bajakan di bandung itu. Habis inilah resikonya, kau beli murah, kau nikmati hanya separuhnya. Karena harga memang tidak bisa berbohong, tuan. Yah, seperti apa yach rasanya nonton pelem bagus tapi terhenti di jalan??? Seperti "gituan" tapi terhenti di tengah-tengah yah rasanya.... Anjriiit, teu ngeunah nya pasti... hehehe...
Hujan reda. Dan aku memilih pergi jalan-jalan mencari makan. Rupanya ada konser band di tengah hujan. Awet juga penontonnya mau bertahan. Ah lewat saja lah, gak rame! Makan, beli chitato, tango dan susu kesukaanku, lalu ke warnet dan hasilnya, cerita inilah... Kalian sungguh beruntung bisa membaca cerita ini...
Okey, hujan sudah, kue keranjang sudah, dan kini tinggal hari esok.
10 Februari 2008, aku akan mengulang hari, mengulang tahun... Selamat buatku dan buat kalian semua tentunya... Esok, seperti biasa, ritual sewaktu bangun pagi nanti, aku akan menghadap cermin dan berkata "Selamat ulang tahun aku!". Ah, malu rasanya. Semakin tua tapi semakin aneh saja sikapku ini. Aku ini orang yang seenaknya, tapi ingin hidup bahagia. Aku bukan orang idealis, tapi punya etika hidup yang aku sendiri sulit menjabarkannya. Yang pasti, kalau aku seperti ini, itulah artinya bagi kalian... Setiap orang ingin bahagia dengan keegoisannya masing-masing. Tapi bagaimana menyatukan itu semua. Sebab, kita tentu tidak ingin bahagia sendiri. Pada akhirnya ada seseorang dan banyak orang yang kita pilih sebagai teman hidup kita, bukan? Ngomong-ngomong, bahagia itu apa yah? Kok semua orang mau sih bahagia?
Malam semakin larut dan ramai saja... Malam yang panjang. Padahal sama saja seperti malam-malam lainnya. Panjang atau pendek, hanya faktor psikologis saja. Bagi yang jomblo, malam panjang ini tentu menyakitkan. Dan mereka berharap malam panjang jadi malam pendek saja. Nah, jomblo tidak bahagia lho katanya jika datang malam panjang ini. Apapula ini!!!
Eh, tiba-tiba jadi inget istilah barudak sewaktu kuliah dulu. Sewaktu mendekati deadline menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Ada istilah yang paling ditakuti semua orang yang berstatus mahasiswa. Istilah itu adalah STMJ alias "Semester Tujuh Masih Jomblo"... hahaha... Syukurlah, aku tidak mengalaminya. Tapi bagi mereka yang mengalaminya, sungguh menyakitkan. Bahkan, jika jomblo itu sudah kronis, niscaya sewaktu mereka mengerjakan skripsi akan lebih menyakitkan menjelang bab akhir dan sidang... Sebab, bisa dipastikan sewaktu wisuda tak ada PeWe a.k.a Pendamping Wisuda. Hah, sungguh menyakitkan... Meskipun kita mencoba cara menyewa PeWe, atau bawa temen/saudara yang cakep/cantik, tetap saja beban hidup kita sewaktu wisuda akan bertambah berat saja... Mengakui hal yang tidak sesuai fakta adalah menyakitkan... hiks...
Buatku sendiri, malam hari sebelum wisuda, di dalam aula yang tengah di dekor di kampusku itu, ada kenangan tersendiri... Waw, menakjubkan. Ada kenangan selama lebih empat tahun semasa kuliah yang menjadi cerita luar biasa. Dan patut menjadi kenangan. Ah, darah muda, darahnya para remaja-remaji kota kembang.... terima kasih, karena kamu cantik malam itu...
Esoknya, meski sekejap, tangan kita erat... Klik! Dan semuanya menjadi kenangan. Manis...
Oh ya, sekadar informasi, kue keranjang itu habis dalam waktu tiga hari lho...
Selamat berbahagia, jika bahagia ternyata menjadi dambaan semua umat manusia...
"Aku adalah bahagia, dan bahagia adalah aku"
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih ummi, ibu, ayah, kakak, adik, keluarga dan sahabat tercinta... Teman pernah berkata, "sampai bertemu di puncak kebahagiaan".
Kita akan ke sana...
Jreeeeenggg.... jadi melow, bukan?
-raka-
Sudahlah, dan aku tiba. Dan karedok serta teh manis hangat itu aku dapatkan juga. Gratis. Catat itu! Selepas lelah memancing, kami pulang ke rumah masing-masing, masih dengan situasi menerjang badai dan hujan di jalan raya... Mantap! Dan sampailah di rumah. Menggantung semua pakaian yang basah, lalu mandi. Setelah itu, kamu tahu??? Ya, sepotong kue keranjang yang aku sisakan dari gigitan liar sewaktu imlek kemarin, masih ada. Waw, sensasinya luar biasa, mba!!! Dengan lahap kuhabiskan dodol cina itu tanpa tersisa sedikitpun... Habislah sudah. Ironisnya, setelah dodol cina gratis itu habis, aku masih ketagihan. Damn, aku addicted dodol cina ternyata... "Kayak drugs, ya? Tapi pasti bisa sembuh, kan?" Ada yang tahu percakapan dalam video klip apakah itu???
Setelah dodol cina itu habis, aku putuskan menonton dvd bajakan di laptop tukul-ku. Ya, kali ini "Warlords" jadi pilihanku. Ada Jet Lee dan Andy Lau duet maut di pelem ini. Luar biasa juga! Tapi dasar dvd bajakan, pas mau habis, tiba-tiba..... dret...dret...dret... film terhenti. Damn again!!! Tak bisa kusalahkan penjual dvd bajakan di bandung itu. Habis inilah resikonya, kau beli murah, kau nikmati hanya separuhnya. Karena harga memang tidak bisa berbohong, tuan. Yah, seperti apa yach rasanya nonton pelem bagus tapi terhenti di jalan??? Seperti "gituan" tapi terhenti di tengah-tengah yah rasanya.... Anjriiit, teu ngeunah nya pasti... hehehe...
Hujan reda. Dan aku memilih pergi jalan-jalan mencari makan. Rupanya ada konser band di tengah hujan. Awet juga penontonnya mau bertahan. Ah lewat saja lah, gak rame! Makan, beli chitato, tango dan susu kesukaanku, lalu ke warnet dan hasilnya, cerita inilah... Kalian sungguh beruntung bisa membaca cerita ini...
Okey, hujan sudah, kue keranjang sudah, dan kini tinggal hari esok.
10 Februari 2008, aku akan mengulang hari, mengulang tahun... Selamat buatku dan buat kalian semua tentunya... Esok, seperti biasa, ritual sewaktu bangun pagi nanti, aku akan menghadap cermin dan berkata "Selamat ulang tahun aku!". Ah, malu rasanya. Semakin tua tapi semakin aneh saja sikapku ini. Aku ini orang yang seenaknya, tapi ingin hidup bahagia. Aku bukan orang idealis, tapi punya etika hidup yang aku sendiri sulit menjabarkannya. Yang pasti, kalau aku seperti ini, itulah artinya bagi kalian... Setiap orang ingin bahagia dengan keegoisannya masing-masing. Tapi bagaimana menyatukan itu semua. Sebab, kita tentu tidak ingin bahagia sendiri. Pada akhirnya ada seseorang dan banyak orang yang kita pilih sebagai teman hidup kita, bukan? Ngomong-ngomong, bahagia itu apa yah? Kok semua orang mau sih bahagia?
Malam semakin larut dan ramai saja... Malam yang panjang. Padahal sama saja seperti malam-malam lainnya. Panjang atau pendek, hanya faktor psikologis saja. Bagi yang jomblo, malam panjang ini tentu menyakitkan. Dan mereka berharap malam panjang jadi malam pendek saja. Nah, jomblo tidak bahagia lho katanya jika datang malam panjang ini. Apapula ini!!!
Eh, tiba-tiba jadi inget istilah barudak sewaktu kuliah dulu. Sewaktu mendekati deadline menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Ada istilah yang paling ditakuti semua orang yang berstatus mahasiswa. Istilah itu adalah STMJ alias "Semester Tujuh Masih Jomblo"... hahaha... Syukurlah, aku tidak mengalaminya. Tapi bagi mereka yang mengalaminya, sungguh menyakitkan. Bahkan, jika jomblo itu sudah kronis, niscaya sewaktu mereka mengerjakan skripsi akan lebih menyakitkan menjelang bab akhir dan sidang... Sebab, bisa dipastikan sewaktu wisuda tak ada PeWe a.k.a Pendamping Wisuda. Hah, sungguh menyakitkan... Meskipun kita mencoba cara menyewa PeWe, atau bawa temen/saudara yang cakep/cantik, tetap saja beban hidup kita sewaktu wisuda akan bertambah berat saja... Mengakui hal yang tidak sesuai fakta adalah menyakitkan... hiks...
Buatku sendiri, malam hari sebelum wisuda, di dalam aula yang tengah di dekor di kampusku itu, ada kenangan tersendiri... Waw, menakjubkan. Ada kenangan selama lebih empat tahun semasa kuliah yang menjadi cerita luar biasa. Dan patut menjadi kenangan. Ah, darah muda, darahnya para remaja-remaji kota kembang.... terima kasih, karena kamu cantik malam itu...
Esoknya, meski sekejap, tangan kita erat... Klik! Dan semuanya menjadi kenangan. Manis...
Oh ya, sekadar informasi, kue keranjang itu habis dalam waktu tiga hari lho...
Selamat berbahagia, jika bahagia ternyata menjadi dambaan semua umat manusia...
"Aku adalah bahagia, dan bahagia adalah aku"
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih ummi, ibu, ayah, kakak, adik, keluarga dan sahabat tercinta... Teman pernah berkata, "sampai bertemu di puncak kebahagiaan".
Kita akan ke sana...
Jreeeeenggg.... jadi melow, bukan?
-raka-
Jumat, 08 Februari 2008
Gigitan Liar pada Sebongkah Kue Keranjang
Imlek... dengan warna merah mentereng datang...
Wah, aku selalu suka jika Imlek datang. Bukan karena aku warga Tionghoa atau suka barongsai naga warna-warni itu. Ato bukan karena angpao yang isinya bisa mencapai setengah juta, jika kita hoki mencabutnya dari pohon ke-hoki-an. Tapi karena pada imlek ini, ada kue keranjang yang aku suka... atao lazim disebut dodol cina... ah, jauh-jauh amat, toh dodol itu juga dibuat dimana saja. Seperti dodol garut yang dibuatnya juga tidak melulu di garut..
Pada Imlek kemarin, vihara bersejarah Sian Jin Kupoh di Karawang aku kunjungi. Viharanya megah, dengan warna merah menyala dan ukiran naga besar-besar. Mungkin dibuat seperti itu agar para dewa-dewi tertarik turun ke bumi dan mampir di vihara tersebut. Satu hal yang paling tidak aku suka saat mengunjungi vihara adalah bau asap dupa yang yaaa ampyuuun... membuat mata berair-air, pediiihh... tapi aku heran, kenapa mereka kuat ya? Lebih herannya lagi, kok mereka bisa ya khusyuk beribadah dengan asap dupa mengepul dimana-mana? hmmm...
Singkat cerita, jalan-jalanlah aku... di sebuah rumah kesekiannya, rumah tempat aku singgah di negeri rantau ini, tiba-tiba.... jreeeenggg... ada kue keranjang di sana. Waw, langsung kuambil tanpa banyak omong. Biarlah, meski menjadi tamu, aku tak malu-malu mengambil kue keranjang tersebut. Kupotong tipis-tipis (karena rupanya aku masih punya malu juga jika memotongnya tebal-tebal) dan kulahap dengan mantap... aaahhh, ueeenak... Dan kusisakan kue keranjang itu sedikit... sebab, dalam tradisi ketimuran, kita tak lazim menghabiskan makanan di rumah orang. Sisakan buat keluarga mereka yang lain, kata orangtua dulu...
Eh, tak sengaja aku bertanya, "kalau beli dodol cina di sini di mana?". Si nyonya rumah bertanya, "emang buat apa?". "Ya buat dimakan," kataku. Dan tiba-tiba lagiiii, nyonya rumah berkata, "tuuh, ada dua bongkah lagi di lemari. Kamu ambil satu, gih.". (aku sedikit bengong dan pura-pura menutupi rasa bahagia dengan memberi muka bingung kepada nyonya rumah)
Dengan dalih akan ke kamar kecil, aku melangkah ke belakang. Di kamar kecil, aku tersenyum-senyum akan mendapat hoki sebuah dodol cina. Saat akan keluar dari kamar kecil, aku melangkah dan nyonya rumah berkata, "ambil tuh dodol cinanya." (dan dengan pelan-pelan sambil menahan rasa bahagia kuambil dodol cina dalam plastik merah tersebut). Diberilah aku dodol cina itu... DAN DODOL CINA BERPINDAH SATU KE TANGANKU KINI... hahahaha... aku tertawa lepas... dan langsung pamit pulang...
Besok malamnya, dengan tergesa-gesa kubuka plastik dodol cina itu. Karena tak ada pisau, dan setelah berpikir cukup panjang, KUGIGIT DENGAN LIAR SEBONGKAH DODOL CINA GRATIS TERSEBUT.... Maknyuuuussss.... Rasanya itu lho... tidak terlalu manis, lengket, legit, nempel di mulut dan nyap...nyap... (kata "nyap...nyap..." adalah gambaran kenikmatan dodol cina itu saat dimulut, sulit menggambarkannya dengan kata-kata)
Setelah sebagian dodol cina itu kugigit, kusimpan lagi... hahahahaha... tawa bahagia melantun menggema di kamarku... tak ada satu tetanggapun yang curiga dengan apa yang kulakukan saat itu... NAFSU LIARKU TERPENUHI SUDAH....
Terima kasih nyonya "dodol cina"
Gong Si Fat Chai... hayyiiikkk!!!
Wah, aku selalu suka jika Imlek datang. Bukan karena aku warga Tionghoa atau suka barongsai naga warna-warni itu. Ato bukan karena angpao yang isinya bisa mencapai setengah juta, jika kita hoki mencabutnya dari pohon ke-hoki-an. Tapi karena pada imlek ini, ada kue keranjang yang aku suka... atao lazim disebut dodol cina... ah, jauh-jauh amat, toh dodol itu juga dibuat dimana saja. Seperti dodol garut yang dibuatnya juga tidak melulu di garut..
Pada Imlek kemarin, vihara bersejarah Sian Jin Kupoh di Karawang aku kunjungi. Viharanya megah, dengan warna merah menyala dan ukiran naga besar-besar. Mungkin dibuat seperti itu agar para dewa-dewi tertarik turun ke bumi dan mampir di vihara tersebut. Satu hal yang paling tidak aku suka saat mengunjungi vihara adalah bau asap dupa yang yaaa ampyuuun... membuat mata berair-air, pediiihh... tapi aku heran, kenapa mereka kuat ya? Lebih herannya lagi, kok mereka bisa ya khusyuk beribadah dengan asap dupa mengepul dimana-mana? hmmm...
Singkat cerita, jalan-jalanlah aku... di sebuah rumah kesekiannya, rumah tempat aku singgah di negeri rantau ini, tiba-tiba.... jreeeenggg... ada kue keranjang di sana. Waw, langsung kuambil tanpa banyak omong. Biarlah, meski menjadi tamu, aku tak malu-malu mengambil kue keranjang tersebut. Kupotong tipis-tipis (karena rupanya aku masih punya malu juga jika memotongnya tebal-tebal) dan kulahap dengan mantap... aaahhh, ueeenak... Dan kusisakan kue keranjang itu sedikit... sebab, dalam tradisi ketimuran, kita tak lazim menghabiskan makanan di rumah orang. Sisakan buat keluarga mereka yang lain, kata orangtua dulu...
Eh, tak sengaja aku bertanya, "kalau beli dodol cina di sini di mana?". Si nyonya rumah bertanya, "emang buat apa?". "Ya buat dimakan," kataku. Dan tiba-tiba lagiiii, nyonya rumah berkata, "tuuh, ada dua bongkah lagi di lemari. Kamu ambil satu, gih.". (aku sedikit bengong dan pura-pura menutupi rasa bahagia dengan memberi muka bingung kepada nyonya rumah)
Dengan dalih akan ke kamar kecil, aku melangkah ke belakang. Di kamar kecil, aku tersenyum-senyum akan mendapat hoki sebuah dodol cina. Saat akan keluar dari kamar kecil, aku melangkah dan nyonya rumah berkata, "ambil tuh dodol cinanya." (dan dengan pelan-pelan sambil menahan rasa bahagia kuambil dodol cina dalam plastik merah tersebut). Diberilah aku dodol cina itu... DAN DODOL CINA BERPINDAH SATU KE TANGANKU KINI... hahahaha... aku tertawa lepas... dan langsung pamit pulang...
Besok malamnya, dengan tergesa-gesa kubuka plastik dodol cina itu. Karena tak ada pisau, dan setelah berpikir cukup panjang, KUGIGIT DENGAN LIAR SEBONGKAH DODOL CINA GRATIS TERSEBUT.... Maknyuuuussss.... Rasanya itu lho... tidak terlalu manis, lengket, legit, nempel di mulut dan nyap...nyap... (kata "nyap...nyap..." adalah gambaran kenikmatan dodol cina itu saat dimulut, sulit menggambarkannya dengan kata-kata)
Setelah sebagian dodol cina itu kugigit, kusimpan lagi... hahahahaha... tawa bahagia melantun menggema di kamarku... tak ada satu tetanggapun yang curiga dengan apa yang kulakukan saat itu... NAFSU LIARKU TERPENUHI SUDAH....
Terima kasih nyonya "dodol cina"
Gong Si Fat Chai... hayyiiikkk!!!
Rabu, 06 Februari 2008
Amplop: Haram Bagi Wartawan Kecil, Tapi Halal Bagi Petinggi Media
Amplop: Haram Bagi Wartawan Kecil, Tapi Halal Bagi Petinggi Media
30 Maret 2007 in Jurnalisme, Korupsi, Opini
[frans; batak news; surat dari seorang wartawan media internasional]
Lae, terharu aku membaca suratmu untuk AJI dan wartawan Indonesia. Banyak media nasional, baik cetak maupun elektronik, kerap menulis besar-besar di medianya bahwa wartawan mereka tidak boleh menerima amplop. Tapi saya tahu, para petinggi media menerima “amplop” yang lebih besar dari penguasa dan pengusaha agar bisa merekayasa berita.
Amplop haram bagi wartawan kecil tapi halal untuk para petinggi dan pemilik media. Ketidakadilan dan pembohongan publik inilah yang harus dilawan. Bukan dengan membolehkan wartawan menerima amplop tapi dengan mendesak agar perusahaan media memberikan upah yang layak untuk para wartawan.
Saya telah berkarir sebagai wartawan selama lebih dari 25 tahun, separuhnya di media nasional dan separuhnya di media internasional. Setelah berkeluarga dan dititipi anak-anak oleh Allah, saya memutuskan untuk bekerja di media internasional yang memang lebih menghargai kerja wartawan dengan upah yang layak seraya mengharamkan amplop.
Sebagai wartawan media internasional, saya bahkan pernah mentraktir makan anggota DPR dan pejabat tinggi ketika saya mengajak mereka untuk makan siang sambil mewawancarai mereka. Tentu saja biaya yang saya keluarkan untuk itu kemudian diganti oleh media tempat saya bekerja. Praktek semacam ini tidak saja memberikan harga diri kepada kita sebagai wartawan, tetapi juga membuat para narasumber tidak memandang rendah para wartawan.
Saya seringkali sedih kalau wartawan Indonesia dicap sebagai “wartawan nasi bungkus”: hanya dengan memberikan sebungkus nasi, narasumber bisa meminta seorang wartawan menulis berita seperti yang dikehendakinya. Lae, wartawan itu tak pernah “mati”, meskipun dia kini sudah bekerja di bidang lain. Lae dapat terus berkarya lewat blog Batak News. Selamat atas blog-nya dan salam untuk si kecil Gibran. Mudah-mudahan dia mengikuti jejak ayahnya dan menjadi penulis hebat seperti Kahlil Gibran.
http://www.blogberita.com
30 Maret 2007 in Jurnalisme, Korupsi, Opini
[frans; batak news; surat dari seorang wartawan media internasional]
Lae, terharu aku membaca suratmu untuk AJI dan wartawan Indonesia. Banyak media nasional, baik cetak maupun elektronik, kerap menulis besar-besar di medianya bahwa wartawan mereka tidak boleh menerima amplop. Tapi saya tahu, para petinggi media menerima “amplop” yang lebih besar dari penguasa dan pengusaha agar bisa merekayasa berita.
Amplop haram bagi wartawan kecil tapi halal untuk para petinggi dan pemilik media. Ketidakadilan dan pembohongan publik inilah yang harus dilawan. Bukan dengan membolehkan wartawan menerima amplop tapi dengan mendesak agar perusahaan media memberikan upah yang layak untuk para wartawan.
Saya telah berkarir sebagai wartawan selama lebih dari 25 tahun, separuhnya di media nasional dan separuhnya di media internasional. Setelah berkeluarga dan dititipi anak-anak oleh Allah, saya memutuskan untuk bekerja di media internasional yang memang lebih menghargai kerja wartawan dengan upah yang layak seraya mengharamkan amplop.
Sebagai wartawan media internasional, saya bahkan pernah mentraktir makan anggota DPR dan pejabat tinggi ketika saya mengajak mereka untuk makan siang sambil mewawancarai mereka. Tentu saja biaya yang saya keluarkan untuk itu kemudian diganti oleh media tempat saya bekerja. Praktek semacam ini tidak saja memberikan harga diri kepada kita sebagai wartawan, tetapi juga membuat para narasumber tidak memandang rendah para wartawan.
Saya seringkali sedih kalau wartawan Indonesia dicap sebagai “wartawan nasi bungkus”: hanya dengan memberikan sebungkus nasi, narasumber bisa meminta seorang wartawan menulis berita seperti yang dikehendakinya. Lae, wartawan itu tak pernah “mati”, meskipun dia kini sudah bekerja di bidang lain. Lae dapat terus berkarya lewat blog Batak News. Selamat atas blog-nya dan salam untuk si kecil Gibran. Mudah-mudahan dia mengikuti jejak ayahnya dan menjadi penulis hebat seperti Kahlil Gibran.
http://www.blogberita.com
Langganan:
Postingan (Atom)