Selasa, 14 Oktober 2008

BERANIKANLAH UNTUK MEMPERBARUI DIRI

BERANIKANLAH UNTUK MEMPERBARUI DIRI


Beranikanlah untuk memperbarui diri,
karena tidak mungkin sebuah pribadi yang lama
berhak bagi sesuatu yang baru.


Mulai hari ini, marilah kita bersungguh-sungguh untuk mengganti setiap dan semua cara kita yang tidak sesuai lagi bagi kebesaran yang kita inginkan bagi diri kita sendiri. Bila banyak dari yang Anda inginkan belum mengambil bentuk nyatanya yang menjadikan kehidupan Anda lebih utuh, dan bila banyak dari keinginan Anda hanya menjadi penyemangat bagi Anda untuk merajut lebih banyak keinginan baru, maka Anda harus tulus menerima bahwa ada yang harus diperbarui.

Sadarilah bahwa,
Tidak semua keinginan untuk menjadi,
disertai dengan upaya membangun kepantasan untuk menjadi.

Maka pertanyaannya kepada Anda, Apakah yang sedang Anda kerjakan hari ini adalah upaya bernilai yang akan menjadikan Anda pantas menerima yang Anda minta? Ataukah Anda sedang bekerja untuk menunggu waktu pulang?

Jangan heran, karena ada di antara kita yang ketidak-sabarannya bukanlah terhadap lambatnya reaksi pasar atau kekurang-sigapan organisasinya, tetapi terutama terhadap lambatnya kedatangan akhir minggu ini.


Sebagian dari kita sedang tidak sabar untuk membangun hasil-hasil super dalam pekerjaan kita, dan sebagian lagi sedang tidak sabar untuk menghidari pekerjaan.
Mereka berbeda, tetapi mereka memiliki kesamaan yang akut; yaitu keduanya menginginkan keberhasilan melalui pekerjaan mereka. Yang satu menginginkan keberhasilan melalui yang dikerjakannya, dan yang satu ini menginginkan keberhasilan dari pekerjaan yang kalau bisa dihindarinya.


Ada beberapa dada yang menjadi sesak karena membaca ini.
Tetapi berbahagialah, karena itu tanda bahwa Anda mengenali keharusan untuk memperbaruhi diri.

Pribadi yang baru berhak bagi yang baru.
Segera setelah mengerti,
berlakulah seperti yang Anda mengerti.
Karena,
bila yang Anda lakukan tidak berhubungan dengan pengertian baik,
untuk apakah yang Anda lakukan itu?

Sahabat-sahabat Indonesia yang super,
Saya berharap bahwa sapa sederhana saya ini dapat hadir bersama Anda dalam kesibukan Anda hari ini. Ingatlah bahwa kesibukan Anda tidak boleh hanya berkenaan dengan pengumpulan uang, tetapi juga termasuk kesibukan untuk menjadikan diri Anda sebagai pencerah bagi kehidupan mereka yang penting dalam kehidupan Anda.

Sudahkah Anda menelepon istri atau suami Anda di tempat kerjanya atau di rumah?
Teleponlah, dan katakan bahwa Anda menelepon hanya untuk mengatakan terima kasih atas kesediaannya untuk menua bersama Anda. Beritahulah dia bahwa Anda menyayanginya. Katakanlah bahwa Anda kangen, dan ingin segera memeluknya. Mintalah maaf bila Anda belum bisa membuatnya merasa sebagai yang paling penting dalam hidup Anda.

Anda dilahirkan dengan hati yang lembut, gunakanlah.
http://www.mtsuperclub.com

Minggu, 14 September 2008

Aku dan hobi yang ekstreeem...

Keluar-Masuk Hutan Menembus Malam Ramadan
Monday, 15 September 2008

Bersepeda menelusuri lereng gunung dan keluar-masuk hutan memang asyik.Namun bagaimana bila dilakukan di malam hari? Pasti lebih seru dan menantang dibanding bersepeda siang hari.


INILAH yang dilakukan beberapa kelompok sepeda di Kota Bandung sejak Sabtu (13/9) malam hingga pagi kemarin. Mereka menembus dinginnya malam hanya dengan ditemani cahaya bulan.

SINDO yang berkesempatan mengikuti kegiatan ini ikut merasakan kehangatan di malam itu. Sehabis salat tarawih mereka mulai mengayuh sepeda dari rumah masing- masing ke tempat berkumpul di Taman Cikapayang, Dago,Kota Bandung.Sekitar 35 orang mengikuti acara nite riding (bersepeda malam) ini. Menjelang tengah malam, satu persatu sepeda disusun rapi di atas tiga mobil bak terbuka.

Para pemilik sepeda pun bergabung di atas mobil untuk melakukan perjalanan menuju daerah Palintang,Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung. Salah seorang penggagas acara nite riding Satiya Adi Wasana mengatakan, rute yang dilewati itu sangat menantang,apalagi dilewati saat malam hari. ”Rutenya mulai Pelintang, Gunung Manglayang, Bukit Tunggul,Gunung Kasur,Cibodas, Maribaya,Gua Pakar,dan berakhir di daerah Dago,”papar Satiya yang akrab dipanggil Tiyo.

Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar empat jam dengan medan naik-turun. Sekitar pukul 23.00 WIB, rombongan tiba di sebuah lapangan kecil di daerah Palintang.Satu persatu sepeda diturunkan. Peserta kemudian bersiap menyalakan lampu depan dan belakang, menyiapkan pelindung tubuh, serta beberapa perlengkapan lain. Rombongan tidak hanya didominasi pria, terdapat juga dua wanita bernyali besar.

Salah satunya Ella, yang mengaku baru kali ini mengikuti perjalanan malam dengan rute keluar-masuk hutan. ”Baru pertama kali saya ikut acara NR (nite ridding). Penasaran karena banyak yang bilang seru dan menantang,” ungkap warga Kota Cimahi ini.Wanita lainnya, Joan, mengaku tertarik bersepeda malam karena diajak beberapa teman. ”Kebetulan ada yang ngajak untuk bersepeda malam-malam,” ujar perempuan asal Jakarta ini.

Rute pertama dilalui dengan menyusuri punggung dan tebing bukit-bukit di sekitar Gunung Manglayang.Para peserta disuguhi tanjakan disertai batu-batu. Jalur pun sering berubah-ubah menjadi turunan cukup panjang. ”Kalo nggak hati-hati dan pengontrolan sepeda yang tidak cermat,bisa-bisa terjatuh,” ungkap seorang anggota Bandung All Mountain (BAM), Aldi.

Hal lain yang harus dipersiapkan adalah kekuatan tangan,karena getaran sepeda di atas jalan terjal sangat besar. Jika tidak kuat,bisa jadi tubuh terlempar dan akan mendarat bebas di atas tanah. Hampir dua jam lebih para penggila sepeda ini melewati rute tersebut. Saat melalui jalan desa, turunannya pun tak kalah seru. Sekitar pukul 02.00 WIB rombongan memasuki kawasan Air Terjun Maribaya, Lembang, dan langsung menembus Hutan Maribaya.

Melewati jalan setapak, kontrol kemudi pun harus dijaga. Dengan pandangan terbatas dan hanya mengandalkan lampu kecil, para pesepeda dituntut selalu waspada. Setelah beberapa kilometer melalu jalan setapak di tengah hutan, rombongan pun masuk ke kawasan Taman Hutan Raya Ir H Juanda. Rute yang dilewati pun adalah jalan setapak. Di sini mereka harus hati-hati karena di beberapa titik terdapat genangan air yang membuat jalan licin. Baru pada sekitar pukul 03.00 WIB rombongan memasuki Gua Belanda yang menjadi ikon Taman Hutan Raya Ir H Juanda.

Hanya beberapa menit berkumpul di depan Gua Belanda,akhirnya rombongan pun mengakhiri perjalanan dengan meluncur ke daerah Dago dan pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan tersebut tidak jarang peserta menghadapi kendala,mulai jatuh hingga ban bocor. (yugi prasetyo)

Rabu, 27 Agustus 2008

Rileksnya Kaum Lelaki

Manfaat Sering Melihat payudara

"Studi Payudara dan Anjuran-anjurannya"
Studi yang dimuat di New England Journal of Medicine tersebut mengatakan bahwa menatap buah dada yang seksi selama 10 menit bisa disamakan dengan latihan aerobik selama 30 menit. Penelitian dilakukan oleh Dr Karen Bouncer dan koleganya di tiga rumah sakit di Frankfurt, Jerman, yang melibatkan 200 lelaki. Seratus orang disuruh melihat payudara secara teratur setiap hari, sebaliknya seratus lelaki lainnya justru dilarang untuk melihatnya. Studi dilakukan selama lima tahun dan hasilnya menunjukkan kelompok pengintip dada perempuan mempunyai tekanan darah lebih rendah, denyut nadi lebih lambat saat istirahat, dan mengalami gangguan pembuluh darah jantung lebih rendah.

"Kenikmatan seksual memacu denyut jantung dan memperlancar sirkulasi darah," kata Dr Bouncer. "Kami percaya jika lelaki memandang dada ukuran 'cup D' secara teratur, mereka akan hidup lebih panjang empat atau lima tahun". Dia menganjurkan kaum lelaki, terutama usia di atas 30 tahun, untuk menonton acara TV seperti Baywatch dan majalah-majalah panas seperti Playboy, yang menampilkan perempuan-perempuan berdada besar.

Para peneliti juga mencatat nama-nama selebritis berdada seksi yang dianggap bisa 'menyehatkan' lelaki, diantaranya Dolly Parton, Heather Locklear, Anna Nicole Smith, dan Demi Moore. Kalau selebritis Indonesia , siapa ya kira-kira?

Jadi dianjurkan untuk para lelaki harus mengikuti terapi ini secara teratur antara lain: Dirumah: Harus suka melihat-lihat payudara isteri, kalau isteri ogah coba kebelakang lihat payudara pembantu (usahakan cari pembantu yg payudaranya gede, ini semata-mata untuk terapi umur panjang saja). Alternative lainnya, berlangganan majalah Playboy atau sering nonton Blue Film.

Di Kantor: Usahakan bergaul dengan teman cewek yg punya payudara gede atau sesuai dengan selera masing-masing. Coba curi-curi pandangan untuk melihat payudara tersebut selama 10 menit saja. Alangkah baiknya kalo punya temen cewek yg bisa memback-up terapi ini, dengan kata lain dapat memperlihatkan payudaranya hanya selama 10 menit saja setiap harinya.

Di Jalanan: Mata boleh jelalatan untuk melihat-lihat payudara perempuan di halte, di bus atau dimana saja, tapi hati-hati kalau lagi mengendarai mobil jangan sampai tubrukan.

Di Cafe atau di Karaoke: Usahakan untuk mendapatkan Ladies Companion yang sesuai dengan selera yang mana semata-mata untuk terapi, bukan untuk selingkuh.

Untuk sang isteri : Harus 100% mem back-up suami untuk terapi umur panjang ini, kalau perlu bahkan menjalani terapi-terapi yang diperlukan.

Just rilex.... :)

Senin, 18 Agustus 2008

Hitamku dan Memilih...

Hitamku
* andra and the backbone

masih adakah separuh hatiku
yang kuberikan hanya untukmu
kuharap engkau masih menyimpannya
jangan kau pernah melupakannya

maafkan kata yang tlah terucap
akan kuhapus jika kumampu
andai kudapat meyakinkanmu
kuhapus hitamku

masih adakah separuh janjiku
yang kubisikkan hanya padamu
kuharap engkau masih mengingatnya
jangan kau pernah melupakannya

andai kudapat memutar waktu
semuanya takkan terjadi

kuhapus hitamku untukmu
(simpan separuh hatimu)
kuhapus hitamku untukmu
(simpan separuh janjimu)
kuhapus hitamku untukmu
(simpan separuh hatimu)
(simpan separuh janjimu)


*** Jika hitamku bisa kuhapus
Jika masa lalu bisa kurusak
Jika waktu bisa kudobrak
Antara mau dan tidak aku melakukannya
Jika memang itu semua bisa membuat kamu menerimaku tanpa cela,
aku mungkin melakukannya
atas nama penyesalan

Tapi, itu mungkin, kataku!
Karena aku, ingin kamu memahami hal terindah dalam cinta
yakni menerima seseorang apa adanya
Terlebih, jika semua tak kulakukan saat itu,
aku mungkin tak pernah belajar
Bahwa cinta, terlebih hidup,
adalah tentang kesederhanaan. Tidak pernah lebih

Aku mungkin tidak melakukan hal itu
tidak menghapus hitamku
hanya untuk memelukmu

yang harus kulakukan adalah menjadi baik
Baik, karena aku sadar selalu ada kebaikan
Baik, karena itu yang kudapatkan
Baik, karena kamu, juga mereka selalu berbuat ini

Aku akan pilih caraku.
Seperti kamu pernah berkata padaku, "kita yang mengejar waktu, atau waktu yang mengejar kita? Membahagiakan orang lain, atau dibahagiakan orang lain?"
Katamu saat itu, jawablah oleh hatiku.
Tapi aku menjawab, memilih adalah persoalan hati
Dan dari sanalah kebenaran itu datang...


Dan aku telah memilih...
Semoga ini benar...

-raka-

Kata orang, ini merdeka...

Aku tidak pernah habis pikir, kenapa orang-orang menyebut kemarin, 17 Agustus dengan kata 'merdeka'. Sebab, dari tahun ke tahun, pada hari itu, aku tidak melihat bahwa orang-orang merasa merdeka. Adapun, yang kulihat sepanjang hari itu adalah ramai. Jadi, bukan kemerdekaan, tapi keramaian. Ada orang panjat pinang, balap karung, balap becak, main bola pakai sarung hingga cepat-cepat makan kerupuk.

Beberapa kejadian pada 17 Agustus kemarin semakin menggoyah 'iman'-ku soal definisi merdeka ini. Okey, aku ceritakan. Malam hari, sekitar pukul 22.00 WIB lebih, aku dan teman-teman kantor pergi nongkrong ke daerah Dago, Kota Bandung. Karena malam minggu kami jarang keluar, maka kami putuskan nongkrong sambil makan jagung bakar serut yang enak. Biasa, tak ada obrolan lagi jika sudah begini selain ngalor-ngidul dengan tema 'betapa menyebalkannya hidup di perusahaan besar, dengan penghargaan yang minim terhadap karyawan/kontributornya'. Obrolannya memang asyik, karena 'yang namanya membicarakan langkah-langkah revolusi' memang memacu semangat kami. Anehnya, jika bicara soal ini, hati kecilku sering berbisik, 'ya itu seh resiko lu jadi karyawan ya tertindas'... hahahaha...

Obrolan di sebuah tenda jagung-roti-pisang bakar dan kopi-susu berakhir sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, tepat kami menghabiskan detik-detik menuju 17 Agustus 2008 dengan tertawa terbahak-bahak. Ternyata obrolan belum selesai. Karena si ibu pemilik sudah melirik-lirik kami yang tidak mau pergi juga, kami putuskan memahami ibu itu. Ini namanya empati. Pergi sebelum diusir pemilik tenda. Dan kami lanjutkan di sebuah minimarket 24 jam di Jalan Supratman, Bandung. Teman-teman memilih sebotol bir, ada juga bir 'zero'. Tapi, aku memilih sebotol air mineral plus ciki kesayangan, 'chitato' (dan ini memang iklan... hahaha).

Obrolan masih seputar tema menghujat oknum perusahaan. Dan parahnya, semakin pagi kami semakin berani menghujat mereka-mereka yang dalam persepi kami (berdasarkan penuturan narasumber rahasia) memang layak untuk dihujat. Seorang teman yang mengaku polos, akhirnya terpengaruh juga. Sepertinya, dalam hatinya dia berkata, "damn, gue tertipu!!". Pukul 05.00 WIB lebih dikit, kita bubar dengan senyum puas. Aku pikir, semua dari kita pasti berkata dalam hatinya, "lihat saja nanti kalian!!" hahahaha...

17 Agustus 2008 pukul 06.00 WIB aku tidur. Dan baru pukul 11.00 WIB aku bangun. Anehnya, hari itu tidak ada perasaan istimewa. Di lapangan dekat rumah, katanya ada pawai dan perlombaan agustusan. Tapi tak dihiraukan. Paling, bapak-bapak berbaju wanita sebagai badut yang tampil juga. Setiap tahun selalu begitu. Aneh juga ya, kok aku sinis?? hahaha...

Aku memutuskan pergi ke kantor meski libur. Inilah kejadian yang menegangkan. Sekitar pukul 14.00 WIB, satpam berkata padaku, "mas, ada tamu di depan". Aku ke depan. Dari jauh aku lihat seorang berbadan tegap dengan seragam kebesaran berwarna hijau, lengkap dengan atribut pangkat di sana-sini sudah duduk santai. Tersenyum saat aku datang, menyalamiku dan menyapaku gagah. "Saya diminta panglima datang ke sini, mas," katanya singkat. Hah, panglima mana neh??

Aku persingkat cerita. Memang dia diminta panglima datang ke kantor saya. Ada sedikit komplain atas advetorial yang sebetulnya berasal dari pusat dan aku lihat materinya dari sebuah departemen yang mengurusi pohon-pohon di seluruh Endonesia, dan menterinya saat ini sedang terkena kasus dan disorot media.

"Jadi mas, minyak ini tuh bukan untuk minyak goreng, bahaya karena ada kandungan racunnya sekitar 2%. Di militer saja kita pakai untuk bahan bakar kendaraan perang. Jadi kebayang kan bahanya," jelas Bapak itu dengan senyum khasnya. Menawan sekali saudara-saudara. Aku mengangguk, sambil tersenyum kecil dan berkata dalam hati, "ah dasar departemen pusat, kayak gini aja gak dibenerin. Bahaya buat masyarakat ini". Setelah aku jelaskan dengan elegan, Bapak itu tersenyum dan pergi dikawal ajudannya. "Terima kasih ya mas," katanya singkat. "Selamat jalan pak, selamat berjuang," kataku. Tapi dalam hati tentunya.

Sore harinya aku makan. Di warung nasi padang langganan, tiba-tiba nasi habis. Wah gawat, karena asyik ikut pawai, ibu-ibu sampai lupa masak buat keluarganya. Aku pindah ke warteg di sebelahnya. Warteg yang mungil. Ada di perempatan jalan besar. Dari etalasenya saja, hanya ada beberapa masakan sederhana. Seorang ibu lumayan berumur tersenyum dan menawarkan masakannya. Aku lebih memilih menu nasi, sayur kangkung dan dua buah tahu kuning. Tak lupa, kata ibu itu ada sambal goang, sambal yang katanya diolah tanpa terasi.

Aku makan dengan lahap. Menu yang sangat sederhana. Di hari 'merdeka' ini, aku sangat menikmati makan sangat sederhana ini. Sayup-sayup, aku dengar pembicaraan antara si ibu warteg dengan seorang bapak-bapak. Si ibu berniat memberikan beberapa lauk untuk suami si bapak. Si bapak sempat menolak, karena tidak enak mungkin. Tapi si ibu memaksa. Katanya buat isti dan keluarga si bapak. Si bapak akhirnya menerima, sambil berkata, "kalau saya punya uang berapapun di saku saya, pasti saya berikan buat bayar ini semua. Tapi, saya gak punya uang sepeserpun bu".

Dengan senyum, si ibu berkata, "gak apa-apa, pak. Kok kayak gitu dipikirin". Setelah ucapkan terima kasih banyak-banyak, si bapak pergi dengan senyum. Di belakangku, terdengar si ibu tengah bercanda dengan anak separuh bayanya. Aku menoleh, sambil tersenyum. Karena si ibu lemparkan senyum duluan. Anak dan ibu yang sederhana itu rupanya tengah berbagi sepotong buah mangga yang cukup kuning, masih sepertinya. Mereka begitu bahagia. Sepotong mangga baginya begitu enak. Sama sepertiku, sepiring nasi, sayur kangkung dan dua buah tahu goreng plus sambal goang hari itu begitu nikmat.

Dengan lahap nasi itu habis. Kata ibu warung, empat ribu rupiah harganya. Sore itu, setelah keluar dari pintu warteg mungil, aku cukup sadar.

Membicarakan betapa menyebalkannya perusahaan, atau lebih tepatnya oknum di perusahaan besar tempatku bekerja, nongkrong dan baru tidur pada pagi hari, bertemu pak tentara berpangkat Letkol dengan seragam lengkap pangkat setelah upacara agustusan, mendengar pembicaraan bapak yang tak punya uang dan diberi lauk oleh si ibu warung, hingga betapa bahagianya ibu warung dan anaknya dalam kesederhaan.

Aku sadar, bahwa kesederhanaan bukan alasan untuk tak memberi. Tidak punya hal berlebih, bukan alasan untuk tak berbagi. Aku sadar, bahwa aku harusnya bersyukur bisa makan seadanya (meski materi berlebih) dengan sangat nikmat. Orang-orang kaya itu belum tentu begini. Mereka yang jadi bos-bos belum tentu se'merdeka' ini.

Hari itu, hingga detik ini, aku sadar. Bahwa kemerdekaan barulah sekadar wacana. Dan tidak merdeka adalah kenyataan...

Aku tengah mencari. Berjanji, kelak aku pasti bisa mengenal semuanya...

-dari hati, untuk kalian yang 'merdeka-

Jumat, 08 Agustus 2008

I Don't Want To Talk About It

by rod steward

I can tell by your eyes
That you've prob'ly been cryin' for ever
And the stars in the sky
Don't mean nothin' to you
They're a mirror
I don't wanna talk about it
How you broke my heart
If I stay here just a little bit longer
If I stay here won't you listen to my heart.
Oh
oh heart
If I stand all alone
Will the shadow hide the color of my heart

Blue fall the tears
Black fall the nights
Tears and the stars
Don't mean nothin' to you
They're a mirror
I don't wanna talk about it
. . .


akan mengiringi "kepergianku"...
sebuah pilihan terhebat
karena yakin, sesulit apapun, semuanya bisa berubah. dan harapan selalu ada...

dengan ucapan menerima dan memberi kasih. tak lupa maaf...
-raka-

Selasa, 05 Agustus 2008

Terima kasih buat BBV....



Dari Obrolan hingga Berteman
Monday, 04 August 2008

BANDUNG (SINDO) – Nge-blog kini bukan lagi sekedar hobi. Blog sudah menjelma menjadi sebuah gaya hidup modern. Pelakunya atau biasa disebut blogger bukan lagi sekumpulan anak muda, melainkan ada artis hingga politisi.

Komunitas blog pun bermunculan. Pada skala universal, ada komunitas blog besar yakni Bloggerian dan Blogbugs. Berkaca kepada dua komunitas ini, pada 5 Juli 2002, terbentuklah komunitas weblog regional pertama di Indonesia bernama Bandung Blog Village (BBV).

Presiden BBV Mohamad Iqbal atau akrab disapa Ikez menjelaskan, para anggota BBV yang mengusung nama Bandung berarti blogger-nya merupakan orang Bandung atau mereka yang tinggal atau pernah ke Bandung. Jadi, sebenarnya anggota BBV tidak melulu orang asli Bandung.

”Mereka yang merantau ke Bandung atau pernah singgah di Bandung juga bisa jadi anggota kami,” ujar Ikez kepada SINDO kemarin. Menurut dia, BBV sendiri bukanlah komunitas kaku, yang harus mengikuti format tertentu. Hingga enam tahun perjalanannya,BBV justru jadi ajang persahabatan para anggotanya.

Saat ini para anggotanya yang mayoritas sudah bekerja memilih berkumpul setiap akhir pekan di Bandung. ”Saat berkumpul, kami habiskan waktu berbagi cerita bersama- sama,” ucapnya. Anggota BBV, sambung Ikez, ada dari kalangan mahasiswa, pekerja, penulis hingga ibu rumah tangga.

Setiap kali berkumpul, sering diadakan diskusi dan obrolan seputar blog dan perkembangan dunia internet terbaru. Selain itu, kegiatan mereka di luar biasanya diselingi sepak bola bersama dan minum susu murni di Lapangan Gasibu, Kota Bandung. ”Nah, dari sinilah biasanya para blogger dari komunitas lain kenal kami. Jika habis bermain bola, kemudian minum susu murni, itulah kebiasaan anak-anak BBV,” jelasnya. Kegiatan lain yang pernah dilakukan anggota BBV adalah menjadi relawan saat gempa dan tsunami menimpa Yogyakarta pada Mei 2006 lalu.

Meski bergelut di bidang sosial, dia mengaku komunitas ini belum memiliki satu rencana pun agar bisa berinteraksi di kegiatan sosial. ”Karena sampai saat ini BBV masih buat senang-senang saja dalam hal positif.Kami masih bahas seputar blog saja, belum ada misi khusus,” kata Ikez.

Meski demikian, BBV yang sebentar lagi akan melakukan regenerasi, kemungkinan bisa lebih mengembangkan BBV lebih beragam lagi aktivitasnya. Jadi, selain sebagai ajang berceloteh bagi para blogger, BBV juga bisa jadi ajang bersahabat dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain.

”Di BBV, kita pasti berceloteh di blog, setelah itu kita bersahabat bersama anggota lain, bahkan ada juga yang dapat jodoh,” ujar Ikez yang memiliki blog http://i.provoknation.com ini.

Dapet Pekerjaan Karena Nge-Blog
SESEORANG dikatakan sebagai blogger, apabila memiliki blog dan menulis di blog tersebut. Menurut anggota Bandung Blog Village (BBV) Adham Somantrie, banyak sekali hal yang bisa dilakukan seseorang ketika terjun ke dunia maya dan menjadi blogger. "Tulisan kita bisa dibaca orang lain, bahkan bisa juga diminta untuk dipublikasikan," ujar Adham.

Adham mengatakan, dengan bergabung di BBV tentunya menambah teman. Pastinya, efek domino dari banyak teman tersebut adalah bisa mendapatkan banyak informasi yang bisa digali. Bahkan, setiap orang bisa saling mengerti dan mengetahui karakter asli anggota di dunia nyata. "Ada juga yang dapat pekerjaan dari seringnya kita bergaul dan menambah link," kata Juara 1 Telkom.tv Blog Competition 2008 ini yang blog-nya bisa diakses di http://adhamsomantrie.com ini.

Presiden BBV Mohamad Iqbal atau akrab disapa Ikez menambahkan, dirinya bisa mendapatkan pekerjaan di bidang informasi dan teknologi (IT) saat ini karena mendapat informasi dari anggota BBV lainnya. Ke depan, Ikez dan teman-temannya akan berupaya melakukan kampanye gemar menulis di blog kepada generasi muda. "Di blog kan kita bisa berkreativitas. Jika ada yang mau bergabung di BBV, silakan kunjungi saja www.bbv.or.id," ujarnya. (raka zaipul)

Kamis, 31 Juli 2008

Be positive, always!!!


If you think you have huge tension, look at them!!!
So, be positive, always!!!
inna ma'al usri yusron...

Rabu, 16 Juli 2008

Black and White

The best poem of 2006
This poem was nominated by UN as the best poem of 2006, Written by an
African Kid


Black and White

When I born, I black
When I grow up, I black
When I go in Sun, I black
When I scared, I black
When I sick, I black
And when I die, I still black

And you white fellow
When you born, you pink
When you grow up, you white
When you go in sun, you red
When you cold, you blue
When you scared, you yellow
When you sick, you green
And when you die, you gray

And you calling me colored?

Rabu, 09 Juli 2008

Thank you for loving me....

by bonjovi

It's hard for me to say the things
I want to say sometimes
There's no one here but you and me
And that broken old street light
Lock the doors
We'll leave the world outside
All I've got to give to you
Are these five words when I

Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
For parting my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me
Thank you for loving me

I never knew I had a dream
Until that dream was you
When I look into your eyes
The sky's a different blue Cross my heart
I wear no disguise
If I tried, you'd make believe
That you believed my lies

Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
For parting my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me

You pick me up when I fall down
You ring the bell before they count me out
If I was drowning you would part the sea
And risk your own life to rescue me

Lock the doors
We'll leave the world outside
All I've got to give to you
Are these five words when I

Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
You parted my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me

When I couldn't fly
Oh, you gave me wings
You parted my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me

Jumat, 27 Juni 2008

Suatu hari bersama dua gadis cantik...


Suatu hari bersama dua gadis cantik dan pintar...
meski agak narsis, tapi biarlah...
Gambar atas bersama Miss Indonesia 2008 Sandra Angelia
Gambar bawah bersama Miss Indonesia 2007 Kamidia Radisti
semuanya diambil di puncak Al-Karim Hills Lembang, Bandung
pada Rabu, 25 Juni 2008

Semoga menjadi motivasi kalian semua,
keep smiling...

-raka-

Sabtu, 14 Juni 2008

Simply Life


Simply Life, Enjoy Your Life

Selasa, 10 Juni 2008

Lebih Dekat dengan Realita... #1

Biar lebih dramatis, cerita ini kuambil dari kisah nyata. Begini ceritanya, suatu malam aku pergi mengantar seseorang ke Terminal Leuwipanjang, Bandung. Setelah mengantarnya naik bus jurusan kota artis "no comment" dan sedikit melakukan ritual cipika-cipiki, aku pergi ke tempat aku memarkirkan motorku.

Seperti biasa, aku membayar parkir kepada seorang tukang parkir yang memakai gaun malam; jaket tebal dan sebatang rokok mengepul. Karena tidak ada receh, aku memberinya selembar uang lima ribu. Saat itu, dia memberi uang kembalian tiga ribu perak. Aku santai saja, karena sekarang tukang parkir suka seenaknya menentukan tarif. Saat aku tengah sibuk menyalakan motor, tiba-tiba si tukang parkir yang rupanya orang batak itu berkata kepadaku sambil menyerahkan kepingan uang logam yang katanya berjumlah seribu perak. Dengan logat Batak khas dia berkata, "Kang, tadi kembalianya baru tiga ribu, ini seribu lagi."

Aku menerima uang tersebut, sambil sedikit terpana. Pelajaran berharga malam itu, bahwa masih ada orang yang sebetulnya secara ekonomi pas-pasan, bahkan bisa dibilang sangat, tapi tidak mau mengambil hak orang lain. Dia melihat aku yang sudah pasrah dengan kembalian seadanya, ternyata tidak mengurungkan niatnya memberi kembalian tambahan. Orang lain, atau tukang parkir lain tidak melakukan hal itu. Bahkan, aku pernah ribut gara-gara persoalan kembalian parkir ini.

Hidup, bagi kebanyakan orang saat ini memang tengah susah. Dan kadang, kesusahan itu kerap dijadikan alasan untuk berbuat seenaknya, hingga mengambil hak orang lain. Bahkan, ironisnya, orang yang kelebihan harta pun, seperti pejabat dan beberapa orang kaya, malah sibuk mengambil hak banyak orang alias korupsi. Jenderal pun kini terjerumus. Entah itu dijebak atau sengaja, tapi yang jelas kita sekarang melihat, bahwa setiap orang kini tidak bisa bebas dari hukum. Kecuali beberapa golongan orang yang punya keturunan dengan penguasa lama saat ini. Belum tersentuh mungkin.

Curhatan yang agak berat ini, aku tulis hanya ingin sekadar berbagi. Bahwa meski keadaan sulit, kejujuran harus tetap menjadi senjata kita dalam berbuat. Tak ada alasan bagi mereka tidak jujur, dan merugikan orang lain saat mereka tengah dalam keadaan sulit. Apalagi bagi para pejabat yang dengan teganya mengkorupsi kekayaan milik rakyat. Itu keji namanya. Hingga kini aku terus berpikir, bagaimana caranya aku bisa kaya dengan kejujuran?

Kisah lain soal Orang Batak
Di kota perantauanku dulu, di Karawang, aku punya cukup banyak orang batak. Dua orang batak jadi sahabatku. Mereka tak seperti orang Batak yang kukenal itu. Mereka adalah Batak yang sudah agak ke-Sunda-an. Basun disebutnya, disingkat Batak-Sunda.

Pernah, saat aku akan meninggalkan kota itu, seorang sahabat Batak-ku berkata, "Orang Batak itu kalau suka sama seseorang dia bilang, kalau gak suka, dia juga bilang blak-blakan". Dia juga bilang, tidak semua orang Batak bisa diajak baik.

Parahnya, kita sering becanda dengan mengejek-ejek asal daerah masing-masing. Aku, yang sejak lahir berwajah blester, tepatnya mirip orang Timur Tengah, sering dipanggilnya "Dasar Arab gelo". Dia juga sering memanggil teman kita yang lainnya dengan sebutan "Sunda Gelo" atau yang lainnya. Dan aku, juga sering mengejeknya "Batak Sialan" atau ejekan lainnya.

Aku sedang tidak berbicara soal yang menyinggung SARA. Justru aku hanya ingin berbagai, pelajaran selanjutnya adalah, dengan keakraban dan sikap saling menerima ditambah beberapa sikap saling mengerti, aku pikir persoalan yang menyangkut SARA seharusnya tidak ada lagi.

Kita saling bercanda hingga mengejek, tapi tidak pernah ada dari kita yang mengejek berlebihan dan terjadi pertengkaran. Semuanya berjalan apa adanya, bahkan begitu akrab. Aku kadang tidak mengerti, kenapa di beberapa bagian tempat, sering ada percekcokan hanya karena persoalan SARA sepele. Saling menerima dan terbuka jadi kunci. Tapi kadang, kita sering enggan untuk terbuka.

Kisah soal SARA juga kerap dialami para warga etnis Tionghoa. Meski sekarang, praktik diskriminasi sudah bisa dikatakan tidak ada, terutama di kota besar. Tapi, seperti ada trauma, masih ada saja mereka yang enggan membuka diri. Padahal, beberapa orang Tionghoa yang sudah mendulang sukses di kehidupannya, justru menganggap aku sebagai saudaranya.

Mereka juga malah sering mengingatkan, agar warga keturunan lainnya tidak menutup diri dan bersikap eksklusif, mentang-mentang punya duit dan menguasai perekonomian. Dan sama halnya, dia juga bilang, bahwa sikap membuka diri menjadi kunci utama agar pergaulan menjadi akrab, dan jauh dari perseteruan.

Dalam sebuah situs, iseng-iseng saya mendapati sebuah puisi karya Tokoh Sastrawan Tionghoa Bu Ru Liang atau Soeria Disastra. Begini puisinya;

Tak pernah kau cinakan aku
Dimatamu aku Tionghoa
Dihatimu aku Indonesia
Tak pernah kau Islamkan diri
Diwajahmu aku lihat cahaya illahi
Didadamu aku dengar
Degup jantung ibu pertiwi
Kau dan aku ketemu di jalan
Lalu kita sejalan
Dengan kau aku tak sendiri
Di bumi pertiwi

Puisinya sederhana, namun dalam. Kita memang tak pernah ingin lahir dalam keadaan Cina, Arab, Sunda, Batak, atau suku lainnya. Kita adalah kita saat dilahirkan. Tak ada yang meminta, pun bisa menolaknya. Jadi, apa alasan kita saat ini berseteru atas nama SARA?

Indah rasanya jika saat ini, kita tidak lagi memikirkan soal SARA dan hal sepele yang kadang membuat orang-orang berseteru. Yang perlu kita pikirkan saat ini adalah persoalan menggapai kebahagiaan dan kesuksesan bersama. Dengan agak-agak retoris dan jiwa patriot yang sok-sok tinggi, saya ingin mengatakan, bangsa ini sudah jenuh dengan keributan-keributan orang-orang yang sok jago berantem. Bangsa ini juga sudah muak dengan omong kosong para politisi busuk yang sebetulnya tengah melawan hati nuraninya sendiri.

Bangsa ini perlu perubahan. Tidak lagi mengurusi hal sepele, tapi sudah mulai berpikir jauh ke depan. Okeylah, aku tidak berpikir tulisan ini akan menjadi apa-apa buat kalian. Yang jelas, di blog ini, aku hanya ingin berbagi. Basa-basi penting dan tidak penting, itu akan kembali pada bagaimana kita melihat apa yang terjadi di dekat kita. Selalu ada jalan keluar dan selalu ada yang keren dalam hidup kita. Inilah "simply life" yang pernah aku tulis sebelumnya.

Selamat melihat, mendengar dan merasakan. Bangkit, dan pergilah jauh.
-raka-

Senin, 26 Mei 2008

Semangat, Tak Perlu Mati, Meski Sedetik



SEMANGAT BOCAH PENDERITA KANKER GETAH BENING
Cita-cita Tak Lekang oleh Sakit

Badannya kurus. Beratnya kini tak lebih dari 23 Kg. Meski begitu, semangat bocah berusia 12 tahun ini tak pernah reda sedikitpun. Padahal, penyakit kanker getah bening yang menggerogoti tubuhnya sejak setahun lalu membuat perbedaan 180 derajat pada kondisi tubuhnya.


Namanya Dea Nuraeni. Gadis mungil kelahiran Karawang, 26 September 1996 ini tidak berbeda dengan teman mainnya yang lain. Setahun lalu, Dea masih bisa berjalan layaknya teman seusianya. Tapi, penyakit yang dideritanya membuatnya tidak bisa beraktifitas seperti biasanya. “Penyakitku namanya Non Hodgkin's Maligna Lymphoma (NHML). Itu artinya penyakit kanker getah bening,” seloroh Dea dengan polos.


Dea rupanya tahu betul penyakit yang kini dideritanya. Dia juga sepertinya tahu, tubuhnya kini mulai berubah. Badannya lebih kurus, dan jalannya juga sudah tak normal lagi. Tapi entah kenapa, anak pertama dari dua bersaudara ini tetap memperlihatkan ketegarannya. Bahkan, dengan santainya, bocah berkerudung ini menceritakan penyakit dan cita-citanya sekaligus. “Aku pengen jadi guru. Sebab, jadi guru itu tugas mulia dan bisa menyenangkan anak-anak,” ujarnya.


Kini, sehari-hari Dea harus pergi ke sekolahnya di SDN Nagasari VIII di Jalan RH Sastrakusuma, Karawang, diantar ayahnya yang bernama Dudi Herwanto, 34, dengan menggunakan becak. Beruntung, Kepala Sekolah (kasek) Mimin Suminarsih menghibahkan sebuah kursi roda untuk digunakan Dea selama berada di sekolah. Dea mengaku, cukup terbantu dengan adanya kursi roda. Meski tidak bisa lagi melakukan kegemarannya bermain karet dan senam, Dea merasa tetap berbahagia berada bersama teman-temannya di sekolah.


Selepas pulang sekolah, Dea biasa mengajar baca-tulis serta mengaji bagi 20 orang anak kecil di sekitar rumahnya. Meski kondisi tubuh Dea sudah tak seperti dulu, mengajar anak-anak kecil merupakan tugas dan tanggungjawabnya. Dea juga mengaku, lulus dari SD ini, dia akan tetap melanjutkan belajarnya ke SMP. Baginya, cita-citanya untuk terus bersekolah dalam kondisi apapun merupakan proses panjangnya menggapai cita-citanya sebagai pendidik kelak. “Selama aku dan orangtuaku masih mampu, aku harus gapai cita-cita jadi guru,” tandasnya.


Ayah Dea, Dudi Herwanto, 34, mengungkapkan, sebelumnya berat badan anaknya itu bisa mencapai 29 Kg. Suatu hari setahun yang lalu, anaknya terserang panas tinggi. Setelah dibawa ke puskesmas, dokter tidak mendiagnosis apapun. Diapun membawa Dea ke dokter lainnya. Waktu itu, dokter sempat memvonisnya terserang tipes. Setelah sempat dirawat, panas Dea tak kunjung turun. Karena tak punya biaya, Dudi mengaku terpaksa membiarkan anaknya berbaring dirawat di rumahnya. Setelah membawa ke RSUD Karawang, dokter di sana menyarankan Dea di bawa ke RSHS Bandung. Di sanalah, Dea diketahui menderita kanker getah bening.


Di RSHS, Dea sempat dirawat selama enam bulan. Dudi mengaku, dia bersama istrinya Supriatin, 32, merasa sedih dengan penyakit yang diderita anaknya. “Tapi rupanya Dea tidak mau putus sekolah. Bahkan dia tidak mau keluar sekolah hanya karena sakitnya. Dan dia memilih tetap bertahan di sekolah, sambil sesekali sesuai jadwal kami harus menjalani kemoterapi di RSHS,” jelasnya.


Kasek SDN Nagasari VIII Mimin Suminarsih mengatakan, Dea termasuk anak berprestasi. Sejak kelas tiga, Dea selalu menduduki ranking pertama di kelasnya. Anaknya juga terbilang aktif dan rajin. Karena Dea terus memaksa bersekolah, Mimin akhirnya menuruti permintaannya tersebut. “Di sekolah juga dia ternyata tidak minder. Bahkan semangat belajarnya sepertinya tidak pernah surut. Kami kagum punya anak seperti dia,” tuturnya. (raka zaipul) // Dimuat di Harian Seputar Indonesia (SINDO) bulan Mei 2008



Satu lagi, pelajaran moral yang bisa dapatkan; apapun kondisi kita, tetap ada hal penting yang harus diselamatkan, yaitu SEMANGAT...

Aku menemui Dea dan berbincang dengannya. Tak ada raut wajah kesedihan yang aku lihat. Bahkan, tak ada tanda-tanda penyesalan atau rasa kecewa atas takdir yang diterimanya itu. Dea, sejak awal berbincang hingga akhir, tetap tersenyum...

Gadis sebelia ini, sudah mengalami hal yang bagi kebanyakan orang terasa berat. Kalau aku boleh menebak-nebak, Dea ingin memperlihatkan kepada semua orang, ketika fisik tak lagi baik, hati dan pikiran harus tetap baik. Itulah anugerah Tuhan...


Selain pesan moral di atas, aku mendapat lagi hal berkesan dari hasil kerja menjadi penyambung informasi alias jurnalis. Suatu ketika, salah seorang temanku memanggilku. Dia mengaku pamannya Dea. Dan sambil bercerita, dia mengucap banyak terima kasih kepadaku. Begini ceritanya, sambil membawa koran SINDO yang meliput Dea, dia berupaya meminta bantuan. Alhasil, katanya Dea mendapatkan kursi roda baru dari seseorang yang cukup punya uang. Sehingga, sangat terbantulah Dea. Selain itu, dia juga mengaku, berharap beberapa donatur lagi membantu Dea untuk membiayai biaya kemoterapinya.


Mendengar semua ini ada kesejukan di hati. Inilah setitik hasil sebuah upaya kecil mewartakan kenyataan hidup yang getir. Betapa hanya ada sedikit orang yang tidak ingin mengorbankan semangatnya, hanya karena fisik sudah tak kuat. Ini tentunya adalah kondisi nyata negeri ini. Pendidikan, dalam kondisi apapun sangat amat berharga dimata para siswa desa-desa. Tapi justru, dimata para pemilik negeri ini, semuanya tidak berharga.


Dea-dea yang lain akan terus lahir...

Mereka akan membangun negeri ini dengar semangat yang tak pernah mati...

Siapa mau ikut??


salam hangat untuk bocah-bocah penggila ilmu, di jalan hingga tanah becek di kampung...

kakandamu ini, tidak berarti tanpa kalian..

-raka-

Kamis, 15 Mei 2008

Okey, Aku Pulang....

Ah.....
Aku masih menarik nafas panjang hingga satu hari ini...
Bukan keluhan. Ini adalah bentuk syukur. Lebih tepatnya syukur atas sebuah perpisahan.

Kemarin malam, hape-ku berdering. Sebuah panggilan dari teman sekantor di kota kembang sana. Dia menjelaskan, hasil bergumul dengan para gegedug media tempatku bekerja sudah tak bisa ditawar lagi. "Kamu harus pulang," katanya. Dengan sedikit basa-basi, aku akan menempati sebuah rubrik spesial yang katanya oke punya.

"Okey, aku pulang," kataku.

Tak lupa, tidak lama kemudian, beberapa teman dan orang yang kusayangi kuhubungi. Tak dinyana, semuanya berkata, "Selamat datang kembali ke rumah. Kami menunggumu," kata mereka sambil senyum dan ada yang tertawa juga. Kembali ke rumah, dengan sambutan tawa hangat mereka. Sungguh luar biasa....

Ah....
Setahun yang lalu, kota panas ini telah meng-hitam-kan aku dengan berbagai hal. Kulitku tentu menghitam. Sikapku juga sepertinya demikian (hahahaha). Tapi ini semua kuanggap sebuah proses panjang dan pencarian terhadap sesuatu yang entah apa, dan tak pernah berujung. Berat rasanya. Sebuah mitos yang sering dikumandangkan warga di sini, "Jika kamu sudah minum air dari sungai Citarum lebih dari tiga kali, maka kamu akan betah dan berat meninggalkan kota ini," kata mereka. Dan itu rupanya terbukti.... hehehe...

Aku paling tidak suka perpisahan. Dan hingga kini, tak banyak orang yang sudah dekat di kota ini yang kuceritakan aku akan pindah. Sementara, atau bahkan untuk waktu yang lama. Aku hanya senang mengenang sesuatu. Dan rupanya, dengan prilaku seperti itu, kita akan berat melupakan semuanya. Padahal, itu tidak bagus untuk kesehatan. Pasalnya, kita akan bergantung kepada sesuatu yang sudah lepas dari kita. Sudah jadi bayangan. Pergi...

Aku masih belum bisa menuliskan banyak hal dalam kenangananku di kota yang penuh gairah ini. Mulai dari pertemuan pertama dengan saudara-saudara yang hebat, berbagai skandal, menjaili pejabat daerah, hingga membuat konflik sudah jadi bagian dari kenakalanku menjadi jurnalis muda yang semaunya. Biarlah semua itu aku kenang. Toh, jarak kita tidak terlalu jauh.

Yang paling aku ingat, aku pergi ke kota ini dengan "nol" persiapan. Tanpa ada teman satupun dan hanya membawa diri dan sedikit peralatan seadanya. Namun, seiring perjalanan, semua kini berbeda. Dan aku meninggalkan teman, saudara dan kenangan indah di kota ini...

Aku hanya mengingat Michael Buble kini. Sayup-sayup lagu yang sejak dulu menemani kini terdengar lebih merdu. "I wanna go home...".
Tunggu aku, semuanya....
Dalam bagian yang lain, akan kuceritakan bagaimana indahnya kota ini...


"Home" by Michael Buble

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home

May be surrounded
by A million people
I Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky, I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
Cause this was not your dream
But you always believed in me

Another winter day has come
And gone away
In even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home

And I’m surrounded by
A million people I
Still feel all alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know

Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home
Let me go home
It will all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home


Aku pulang, karena menang...
Dan semuanya, terima kasih...

-raka-

Rabu, 07 Mei 2008

Simply Life (dari masa ke masa)

ini dia simply life....

Berusaha mewujudkan apa yang akhirnya bisa kita dapat dalam hidup ini. Bukan sekadar apa yang kita mau, tapi juga apa yang seharusnya kitadapatkan. Santai saja, karena tidak semua yang kita mau pasti kita dapet. Hidup bukan memunguti puing-puing yang berceceran yang akan kita susun menjadi sebuah bangunan yang akan kita tinggali. Hidup itu bukan soal menemukan, tetapi mencari. Toh, kadang kala beberapa hal telah menjadi bagian dari dunia kita.

Semalam dan pagi ini ada sesuatu yang berubah. Apa jadinya bila kita memutuskan untuk mengambil hal ini, bukan yang itu? Semalam tadi, ada sedikit kejujuran yang terungkap saat kita tahu bahwa orang yang kita sayangi begitu peduli dengan perasaan kita. Tapi hidup harus berbeda, karena kita merasa itulah yang harus kita pilih.

Ada yang berubah di sini, di kota ini. Semua teman sibuk mencari diri, mencari makna dan tentunya hidup yang dinamakan bahagia. Mereka menjadi pelaku sejarah, dan semoga sukses mengukir sejarahnya sendiri dengan tinta emas versi mereka sendiri. Ada dua banci diperempatan jalan layang yang berubah penampilan. Berusaha menggoda para pengemudi mobil dengan kecrek bekas tutup botol. "Ih, abang baek dech!" kata mereka. Rambut keduanya pendek berwarna dan berpakaian yang aduhai seksinya. Siapa yang bernafsu??Kalian tentunya....hehehehe...

Saban pagi (kala itu, sekitar dua tahun lalu) saat saya sering melintas lagi jalan itu, mereka kerap ada. Dan sepertinya akan terus ada, karena bagi mereka itulah episode yang harus mereka jalani. Sutradara telah memutuskan peran mereka. Menjadi banci kecrek dengan bayaran semau penonton. Sutradara tak memberi mereka bayaran. Sutrada hanya memberi mereka nyawa. Itu saja. Selebihnya, ada akal, nafsu dan hati. Seharusnya mereka gunakan itu.

Ya, simply life adalah tentang peran. Bagaimana kita memerankan karakter kita sebaik mungkin. Temanku si fulan sedang berperan sebagai jurnalis, dan dia kini merasa hidupnya cukup bermakna. Karena dengan peran itu dia jadi tahu kebobrokan para pejabat negeri ini yang doyan mencuri hak orang lain. Satu lagi sedang berperan menjadi putra daerah. Mengukir sejarah dengan unjuk kabisa yang kelak dinilai banyak juri. Ada juga yang berbahagia karena memenangkan sebuah kompetisi bergengsi. "The dreams come true," kata temanku. Wuuuaaah, keren! Mendapatkan sesuatu yang kita inginkan artinya mimpi telah menjadi kenyataan. Hmmm, manusiawi ya.... Aama hal manusiawinya dengan orang yang bersikap sesuai dengan apa yang orang lain berikan kepada kita.

Simply life memang tentang memilih peran. Menjadi sesuatu, seseorang atau menjadi apapun bagi apapun juga siapapun. Tidak ada yang egois saat kita berpikir, "ini hidup gue!". Toh, kita tidak pernah memaksa orang lain untuk menjadi apa yang kita mau. Kita memilih peran kita sendiri. Dan menjadi diri sendiri adalah peran tersulit dalam hidup ini. Karena sederhana, kita memang tidak hidup sendiri. Ambil apa yang kamu mau, atau tidaksama sekali. Karena kemarin telah lewat, dan esok kita tidak pernah tahu. Kita hanya hidup untuk hari ini, dan bermimpi untuk esok hari.

Tidak ada yang salah dalam hidup ini. Satu-satunya kesalahan adalah menyesali peran yang kita mainkan. Setiap orang punya peran yang hebat dan dia bisa menjadi aktor terbaik dalam hidup ini, asal dia bisa memilihnya dengan baik. Hidup itu selalu tentang mencari. Apapun yang kita lakukan, "lu keren, man!" Karena ini bagian dari simply life. Dan dalam simply life, semua hal bisa terjadi.
Percaya dech....


Okey, simply life ini aku tulis sekitar dua tahun lalu...
Dan dua tahun ini, dengan perubahan yang cukup berharga -- saat aku kini ada di sebuah kota yang berbeda, dengan orang sekitar yang berbeda, dengan kehidupan dan peran yang terbilang berbeda, dan semua hal yang kita lihat, dengarkan dan rasakan berbeda -- rupanya hanya simply life ini yang tak berbeda.

"Karena sampai kapanpun, saat kamu bersyukur, saat kamu banyak memberi, kamu akan mendapat lebih dari semuanya. Dan aku pikir itulah yang bernama BAHAGIA"

hahahahaha....
Sebuah persembahan pertama kala itu. Dan ini, tentu adalah persembahan selamanya....

-raka-

Selasa, 06 Mei 2008

Bagi 1 Mei (May Day)

Bagi hari kesatu di bulan Mei yang cerah ini...
Seluruh dunia merayakannya dengan nama May Day
Bersatulah buruh di dunia dengan warna-warni atribut mereka
dengan warna-warni kepentingan mereka. Jika boleh mengklaim, semua akan kembali pada persoalan perut...

Tapi satu Mei ini, aku tak akan bercerita soal May Day. Aku akan bercerita perkara satu tahun yang penuh rasa di Kota ini, kota yang panas dengan berbagai cerita hangat di dalamnya...

Satu Mei tahun yang lalu, aku, dengan ketidaktahuan soal kota ini, soal watak dan emosi orang di kota ini, dan dengan segala ketidaktahuan yang aku miliki, memulai sebuah perjalanan. Menjadi jurnalis adalah pilihan mematikan. Apa sebab? Rupanya, menjadi jurnalis itu cukup menantang maut. Dalam artian luas, kemanapun kamu harus pergi, menguasai wilayah seorang diri, dan menantang kerasnya hukum jalanan. Hukum dimana jika kau tak hati-hati, maka kau akan celaka dua-belas...

Aku cukup ingat, sewaktu ribuan buruh memakai kaos merah menyuarakan nurani mereka-atas nama kebutuhan perut tiap orang buruh dan mewakili anak-anak mereka yang masih kecil dan jelas kelaparan, istri mereka yang harap-harap cemas saat sang suami pulang (dan istri para buruh ini selalu memikirkan; "Apakah suamiku akan pulang membawa nasi dan susu bayi kita hari ini?"). Semua kegetiran tersebut masih jelas bagiku: seorang jurnalis coba-coba dan yang boro-boro tahu dunianya sendiri, apalagi dunia orang lain. Tapi, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku pergi jauh dari keluarga...

Tuhan memang selalu Maha Pengasih dan Penyayang...
Setahun yang lalu dan kini semuanya telah berbeda...
Jika tahun lalu aku memilih bersama para buruh ini, tahun ini, dengan beberapa kejenuhan, aku malah memilih pergi naik gunung (wilayah dingin di kota panas ini) dengan menggunakan motor trail pinjaman seorang pejabat yang baik hati. Dengan banyak orang kami beranjak pergi. Tak lupa, aku mengajak dia: "yang selalu diberkati"

Singkat cerita, kami bercanda ria di sebuah villa dengan kolam ikan dan sangat dekat dengan sungai besar yang indah. Suasananya begitu akrab. Apalagi, dangdutan nyawer tiga/empat gadis muda penyanyi dangdut (yang tidak terlalu cantik+bahenol) menyemarakkan suasana bapak-bapak yang kegirangan tidak didampingi istrinya. Mereka tertawa, membagikan saweran seribu perak satu persatu kepada penyanyi itu. Girang gemirang suasana...


Baiklah... aku akan lanjutkan cerita...
Ada keramaian yang harus kuhampiri.
Gapleh, beberapa orang muda gak ada kerjaan (diantaranya ada pejabat lho), kopi dan mereka menitip padaku beberapa potong gorengan. Agar suasana lebih hangat tanpa perut keroncongan...

Aku meluncur sebentar...
Inilah kota ini; Karawang, sayang...

-raka-

Jumat, 18 April 2008

emosi=bahagia

Ternyata, duduk dalam emosi tak memberi apa-apa...
berdiri dalam emosi apalagi.
tidur dalam emosi? silahkan coba....
melamun dalam emosi? bisa dicoba...
tertawa sambil emosi? pahit amat...

Hari ini, adalah hari yang penuh emosi. Emosi dalam arti sempit. Menyebalkan kata orang...
Tapi, rupanya Tuhan memang sutradara yang hebat. Dia jadikan emosi ini pelajaran bagi umatnya. Bisakah dengan emosi, umatnya tetap bersyukur kepadaNya? Cobaan cukup berat bagiku. Sebab, aku adalah orang paling emosional di jagat raya ini...

Betapa tidak, tanpa alasan yang jelas, bisa saja mood-ku berubah drastis... Sialan. Hari ini, aku dibuat emosi oleh diriku sendiri. Kesimpulan ini aku dapatkan saat aku mencoba sedikit merenungi nasib nahasku hari ini. Ternyata, kita dipermainkan perasaan sendiri. Jika sudah begini, kita akan merasa sangat bodoh sekali benar-benar bodoh amat banget edan....

Tapi sudahlah...
Ini adalah keisengan diriku sendiri. Yang menyadari, dengan emosi, tak pernah ada way-out yang dijanjikan itu. Dengan emosi, maka yang kau tunjukkan hanyalah kebodohanmu sendiri. Bahkan, dengan emosi, kau akan sangat amat mengetahui dimana sebenarnya ketololan dirimu kau simpan, dan akhirnya kau mainkan sendiri untuk membuatmu tertawa, juga membuat orang lain terpingkal-pingkal karena melihatmu tak ubahnya seekor monkey... hihihi...

Maka, dengan mencoba sepenuh hati, kutawarkan ini, kawan....
Untuk orang yang kusayangi, kucinta, dan mereka yang melakukan hal yang sama padaku...
Aku katakan, "Cukup sudah kau dipermainkan emosi. Kini, saatnya kau berpikir, apa sebenarnya yang kau inginkan. Dan buatlah emosi yang ada dalam dirimu bertekuk lutut padamu. Dengan ini, kau akan BAHAGIA...."


terima kasih, cinta.....
bukan lagu Afgan, tapi ini hanyalah keisengan tak berujung...
bahwa sampai kapanpun, emosi=bahagia...
hahahahahaha....

aku sayang kamu, cinta...
-raka-

Jumat, 14 Maret 2008

Hentikan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan!!!

Dear para pengunjung setia....
Semoga menjadi masukan berharga....

Banyak pihak dan yayasan yang telah mencoba menolong mereka dengan memberikan sekolah gratis, makanan gratis dan rumah singgah bagi mereka. Namun mereka tetap kembali ke jalan.
Mengapa? Karena Uang Anda! Karena setiap hari mereka memperoleh "uang gampang" paling sedikit Rp.25.000,- itu berarti dalam sebulan mereka bisa memperoleh Rp. 750.000 (bahkan bisa lebih kadang sampai 1 jt, setingkat dgn salary S1 di Bandung, sungguh mengenaskan). Jumlah yang cukup besar, tidak heran mereka memilih untuk tetap di jalan.

Tapi jika dibiarkan, 10-20 tahun lagi mereka akan tetap berada di jalanan dan bisa jadi menjadi preman yang tinggal di jalan dan melahirkan anak-anak kurang mampu dan yang tidak berpendidikan. Ini akan menjadi lingkaran setan di negara kita. Mereka bukannya tidak punya pilihan lain, apa yang bisa kita lakukan agar mereka tidak berada di jalanan lagi?

BERHENTI MEMBERIKAN UANG KEPADA
MEREKA!!!

Dengan begitu kita menolong mereka dari resiko-resiko berbahaya serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyambut uluran tangan yayasan dan melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depannya kelak. Lewat tindakan kita dan kesempatan yang kita berikan, kita secara tidak langsung sedang memulihkan hak-hak asasi anak menurut Konvensi hak anak PBB (diratifikasi Keppres RI No 36/1990) :

- Hak untuk hidup
- Hak untuk tumbuh dan berkembang
- Hak untuk memperoleh perlindungan
- Hak untuk berpartisipasi

Dengan kita berhenti memberikan "uang gampang" berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Di satu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan-yayasan yang berniat membantu mereka. Di sisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.

Jadi, mulai renungkan. Tidak selamanya kebaikan kita akan membawa kebaikan bagi orang lain. Malah, kebaikan kita bisa jadi keburukan bagi orang lain di masa depan kelak...

Semoga, setiap ayat yang kita sampaikan ini akan membawa anak-anak bangsa ini menuju masa depan yang lebih indah lagi...


salam hangat dari sudut jalanan yang pengap, demi masa depan lebih indah...
-raka-

Gaji Papa Berapa?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya. Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat. "

Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.

"Kalo satu hari Papa dibayar Rp.400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu
pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak
pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- ditangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew.

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.


(dari tetangga seberang sana, untuk kita berikan senyuman....)
salam hangat, jabat dan peluk erat
-raka-

Senin, 25 Februari 2008

Anak Perempuanku Minta Dipangkas Botak

7 September 2007 in Artikel, Dunia, Feature, Kisah-Nyata, Sosial


[batak news; cerita dari india kiriman anneke priskila]
Kasih yang tak terduga.

Artikel berisi cerita ringan ini berasal dari India, lalu diteruskan Anneke Priskila ke imelku; bataknews [at] gmail [dot] com. Anneke bekerja dan tinggal di Medan. Dia seorang kawan yang baik, berdarah Tionghoa, pengikut Yesus Kristus yang lembut hati, dan belum menikah.

ISTERIKU BERKATA KEPADA aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu, yang tampak ketakutan. Air matanya banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt, yaitu nasi khas India; curd rice. Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun.

Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”. Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “Boleh ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan saya habiskan. Tapi saya akan minta….”

Dia agak ragu-ragu sejenak. “Akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab, “Oh, pasti, sayang.”

Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih, ayah?”

“Yah, pasti,” jawabku sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah-mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “Janji”. Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.” Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku, dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu minta agar kepalanya dipangkas hingga botak licin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata, “Permintaan gila! Anak perempuan dibotakin. Tidak mungkin!”

Ibuku juga menggerutu. “Jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.”

Aku coba membujuk: “Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain? Kami semua akan sedih melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya. “Tidak ada, yah. Tak ada keinginan lain,” kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.”

Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu, dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan harta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Lalu aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kau sudah gila?”

“Tidak,” jawabku, “kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah. Sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu, tunggu saya.” Yang mengejutkanku, ternyata kepala anak laki-laki itu botak juga. Aku sempat berpikir, mungkin botak model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata padaku, “Anak anda, Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia.”

Wanita itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu. “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak. Dia tidak mau pergi ke sekolah, takut diejek oleh teman-teman sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Dan saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Mendengar cerita itu, aku berdiri terpaku, dan aku menangis. “Malaikat kecilku, tolong ajarkan aku tentang kasih.”

www.blogberita.com

Senin, 11 Februari 2008

Buat 10, Seharusnya Mereka Syahid, Tuhan

Bandung, 9 Februari 2008. Pukul 20.30 WIB

BANDUNG-10 remaja terpaksa harus meregang nyawa sia-sia ketika menyaksikan sebuah pertunjukan band aliran 'Punk' di Gedung Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/2/2008) pukul 20.00 WIB. Akibat peristiwa ini, acara launching grub band tersebut terhenti beberapa saat.

Informasi yang diperoleh di lapangan menyebutkan, kesepuluh remaja tersebut tewas akibat terinjak-injak penonton konser yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Kejadian tersebut berawal ketika, ratusan anggota 'Punk' Bandung tidak kebagian tiket launching album grup band Punk bernama 'Beside'. Sontak karena tidak kebagian tiket, ratusan punkers ini nekat menerobos pintu masuk.

Jumlah aparat dan petugas yang tidak memadai, membuat para punkers yang bertindak brutal itu tak dapat dicegah. Namun hal ini justru berakibat maut. Karena ada ratusan orang yang berjejalan masuk, beberapa penonton yang sudah berada di dalam gedung panik. Mereka pun berebutan untuk keluar.

Akibat berdesak-desakan dan pintu masuk dan keluar dijadikan satu, terjadilah peristiwa maut tersebut. Sepuluh pemuda tewas seketika akibat terinjak-injak dan tiga orang mengalami luka-luka serius. Kini kesembilan remaja tewas dan tiga korban luka-luka sudah dilarikan ke RS Hasan Sadikin, Bandung. Sementara satu korban tewas dilarikan ke RS Immanuel. (OKEZONE, 9/2/08, 23:55 wib)

Sungguh fantastis dunia musik kita...
Sebagai bagian dari fanatisme, 'berkorban' adalah hal penting. Dan dalam kepercayaan sebagian besar agama, berkorban demi sebuah kepercayaan dinamakan syahid. Ah, andai aku bisa meminta kepada Tuhan, agar ke-10 bocah yang menjadi korban tragedi AACC masuk surga, dan mereka menjadi syahid. Sebab, untuk fanatisme mereka terhadap musik, mereka adalah pejuang garda depan pembela musik. Musik metal atau cadas tepatnya...

Sekali lagi, semua perjuangan butuh pengorbanan. Tapi seharusnya tidak sia-sia, kawan..
Okey, kalian sendiri yang menilai semua ini. Ternyata, bukan hanya musik cadas yang kerap membawa korban. Musik melow-gumelow juga suka membawa korban. Lihat saja konser Ungu, Sheila On-7 dan musik sejabana yang membawa korban. Sungguh fantastis. Jika aku, mungkin tidak seberani mereka dalam hal ini. Demi fanatisme, berjuang di garda depan, dan kembali kehadapanNya...

Di lead berita di atas, dikatakan, 10 remaja harus meregang nyawa sia-sia. Kata sia-sia aku tebalkan dan garis bawahi, karena ini persoalan persepsi. Bagi orang lain, mereka akan sia-sia. Bagi teman mereka yang berjuang bersama dalam fanatisme yang sama pula, hmmm, aku pikir mereka adalah pahlawan. Entah dalam kamus edisi mana, mereka tetap disebut pahlawan.

Aku, akan mengangkat topi, dan mengibarkan bendera setengah tiang bagi mereka. Mereka masih belia, dan mereka akan dikenang. Dunia musik pasti bersedih. Underground, meski tak semua suka, dia adalah tetap musik. Musik dan gaya hidup. Jadi, ini adalah bagian dari hari berkabung nasional bagi dunia musik. Para penikmat musik, jika kemarin kau kibarkan bendera setengah tiang untuk almarhum Soeharto, kini saatnya kau lakukan hal yang sama untuk mereka. Buat 10, seharusnya mereka syahid...

Salam perdamaian, dan semoga tenang dengan alunan musik dari malaikat di sana...
Kami akan menyusul. Dengan syahid dalam kamus Tuhan, tentunya...

salam hangat penuh do'a, adik-ku...
-raka-

Soal Menantu SBY

hari ini hampir tidak ada ide buat curhat di blog...

Hujan masih terus mengguyur kota ini. Kota yang tidak pernah terpikirkan sedikitpun aku akan singgah di sini. Kota pertanian, sekaligus industri kaliber internasional. Tapi, biasalah, dasar birokrat negeri ini, tak pernah bisa memanfaatkan peluang yang ada... Tik.

Duduk sendiri bukanlah hal yang menyenangkan. Meski ditemani penjelajahan dunia maya gratis dengan teknologi 'area panas', tapi tetap saja membosankan... Monday is holiday... Libur yang aneh. Dan saat ini, jreeeenggg, ada hiburan tiga dara cantik baru datang. Eh, Annisa Pohan ternyata... salah lagi. Ada Annisa Pohan, menantu Presiden SBY... Damn! Dua kali aku salah soal Annisa Pohan ini...

Begini ceritanya. Anaknya SBY itu kan tugas di kota ini sebagai tentara. Waktu itu, aku diundang meliput acara mereka di markas mereka. You know-lah, jika ada di markas tentara, yang kita lihat hanyalah wajah-wajah garang berhati keras... Tidak semua sih. Ada juga yang hantinya Bimbo abis lah... Nah, sewakti lagi enak-enaknya membidikkan kamera, tiba-tiba aku bilang ke rekan sesama profesi di sampingku, "Eh, ada cewek cantiiikk banggeett... tuuuh," sambil menunjuk. Tiba-tiba... (mata kukerdipkan dulu). "Eh, salah... itu Annisa Pohan... Salah, pantesan catik banget...hahahaha," kataku. Yah, sudah dua kali menyangka cewek cantik itu ternyata Annisa Pohan... Dan didepanku kini, Annisa Pohan hanya berjalan-jalan memilih menu didampingi seorang pengawal berwajah sangar... Aku pikir dia Paspampres deh...

Dia memang cantik. Itu saja...

Ya sudah, ada juga sedikit ide buat nulis... Baguslah. Untung kamu dateng Annisa Pohan...
Eh ralat, Paspampres-nya ada dua... Satu lagi nyusul di belakang, jalan sendiri dengan wajah sangar juga. Tapi apa hatinya sedang galau, ya, sehingga dia pasang wajah sangar itu??

Lumayan terhiburlah, karena kamu lewat, Annisa Pohan...
Sambil menunggu teman yang akan datang sejam lagi...

cuaca cukup baik untuk hari libur ini,
-raka-

Minggu, 10 Februari 2008

Banyak Cara Berterima Kasih

Wah, masih ada waktu rupanya....

Aku selalu suka kesederhanaan... Tidak terlalu peduli dengan hari apa ini, atau betapa berartinya 24 tahun yang lalu pada hari ini, aku suka kesederhanaan...

Akhirnya, ada banyak cara bagi kita untuk berterima kasih kepada semuanya, terutama Tuhan. Karena katanya, bahagia itu bagaimana cara kita berterima kasih kepada Tuhan... Boleh percaya, boleh tidak... Tapi aku akan berkata dengan caraku, "alhamdulillaah..."
Karena hari ini, masih ada kesederhanaan buatku. Semoga buat kalian juga...

Oh ya, terima kasih sahabat semua, rela menyibukkan jari tangannya yang mungil untuk mengucap do'a bagiku... "Semoga ini, semoga itu, semoga begini, begitu, begindang, dll..."
"Amiiin," kataku.

Pada akhirnya, aku yang memutuskan....

Jadilah selalu "siapa-siapa" dalam kesederhanaan...

-raka-

Sabtu, 09 Februari 2008

Hujan, Kue Keranjang dan Hari Esok

Hari ini hujan abisss... Selepas berselancar gretongan dengan 'area panas' di sebuah cafe yang lumayan oke di kota ini, aku memutuskan bergabung memancing di hujan hari dengan teman-teman... Hebat kan? Sewaktu hujan deras malah memancing. Oh ya, aku sebetulnya tidak suka memancing. Tapi, karena tempat memancingnya oke dan aku berharap mendapatkan karedok gratis dan secangkir teh manis hangat di tempat mancing itu, aku putuskan dengan sedikit kenekatan pergi menghadang hujan deras... Sungguh sebuah pengorbanan, bukan? Sebab, sesuatu yang gratis itu juga ternyata butuh pengorbanan.... hahahaha...

Sudahlah, dan aku tiba. Dan karedok serta teh manis hangat itu aku dapatkan juga. Gratis. Catat itu! Selepas lelah memancing, kami pulang ke rumah masing-masing, masih dengan situasi menerjang badai dan hujan di jalan raya... Mantap! Dan sampailah di rumah. Menggantung semua pakaian yang basah, lalu mandi. Setelah itu, kamu tahu??? Ya, sepotong kue keranjang yang aku sisakan dari gigitan liar sewaktu imlek kemarin, masih ada. Waw, sensasinya luar biasa, mba!!! Dengan lahap kuhabiskan dodol cina itu tanpa tersisa sedikitpun... Habislah sudah. Ironisnya, setelah dodol cina gratis itu habis, aku masih ketagihan. Damn, aku addicted dodol cina ternyata... "Kayak drugs, ya? Tapi pasti bisa sembuh, kan?" Ada yang tahu percakapan dalam video klip apakah itu???

Setelah dodol cina itu habis, aku putuskan menonton dvd bajakan di laptop tukul-ku. Ya, kali ini "Warlords" jadi pilihanku. Ada Jet Lee dan Andy Lau duet maut di pelem ini. Luar biasa juga! Tapi dasar dvd bajakan, pas mau habis, tiba-tiba..... dret...dret...dret... film terhenti. Damn again!!! Tak bisa kusalahkan penjual dvd bajakan di bandung itu. Habis inilah resikonya, kau beli murah, kau nikmati hanya separuhnya. Karena harga memang tidak bisa berbohong, tuan. Yah, seperti apa yach rasanya nonton pelem bagus tapi terhenti di jalan??? Seperti "gituan" tapi terhenti di tengah-tengah yah rasanya.... Anjriiit, teu ngeunah nya pasti... hehehe...

Hujan reda. Dan aku memilih pergi jalan-jalan mencari makan. Rupanya ada konser band di tengah hujan. Awet juga penontonnya mau bertahan. Ah lewat saja lah, gak rame! Makan, beli chitato, tango dan susu kesukaanku, lalu ke warnet dan hasilnya, cerita inilah... Kalian sungguh beruntung bisa membaca cerita ini...

Okey, hujan sudah, kue keranjang sudah, dan kini tinggal hari esok.
10 Februari 2008, aku akan mengulang hari, mengulang tahun... Selamat buatku dan buat kalian semua tentunya... Esok, seperti biasa, ritual sewaktu bangun pagi nanti, aku akan menghadap cermin dan berkata "Selamat ulang tahun aku!". Ah, malu rasanya. Semakin tua tapi semakin aneh saja sikapku ini. Aku ini orang yang seenaknya, tapi ingin hidup bahagia. Aku bukan orang idealis, tapi punya etika hidup yang aku sendiri sulit menjabarkannya. Yang pasti, kalau aku seperti ini, itulah artinya bagi kalian... Setiap orang ingin bahagia dengan keegoisannya masing-masing. Tapi bagaimana menyatukan itu semua. Sebab, kita tentu tidak ingin bahagia sendiri. Pada akhirnya ada seseorang dan banyak orang yang kita pilih sebagai teman hidup kita, bukan? Ngomong-ngomong, bahagia itu apa yah? Kok semua orang mau sih bahagia?

Malam semakin larut dan ramai saja... Malam yang panjang. Padahal sama saja seperti malam-malam lainnya. Panjang atau pendek, hanya faktor psikologis saja. Bagi yang jomblo, malam panjang ini tentu menyakitkan. Dan mereka berharap malam panjang jadi malam pendek saja. Nah, jomblo tidak bahagia lho katanya jika datang malam panjang ini. Apapula ini!!!

Eh, tiba-tiba jadi inget istilah barudak sewaktu kuliah dulu. Sewaktu mendekati deadline menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Ada istilah yang paling ditakuti semua orang yang berstatus mahasiswa. Istilah itu adalah STMJ alias "Semester Tujuh Masih Jomblo"... hahaha... Syukurlah, aku tidak mengalaminya. Tapi bagi mereka yang mengalaminya, sungguh menyakitkan. Bahkan, jika jomblo itu sudah kronis, niscaya sewaktu mereka mengerjakan skripsi akan lebih menyakitkan menjelang bab akhir dan sidang... Sebab, bisa dipastikan sewaktu wisuda tak ada PeWe a.k.a Pendamping Wisuda. Hah, sungguh menyakitkan... Meskipun kita mencoba cara menyewa PeWe, atau bawa temen/saudara yang cakep/cantik, tetap saja beban hidup kita sewaktu wisuda akan bertambah berat saja... Mengakui hal yang tidak sesuai fakta adalah menyakitkan... hiks...

Buatku sendiri, malam hari sebelum wisuda, di dalam aula yang tengah di dekor di kampusku itu, ada kenangan tersendiri... Waw, menakjubkan. Ada kenangan selama lebih empat tahun semasa kuliah yang menjadi cerita luar biasa. Dan patut menjadi kenangan. Ah, darah muda, darahnya para remaja-remaji kota kembang.... terima kasih, karena kamu cantik malam itu...
Esoknya, meski sekejap, tangan kita erat... Klik! Dan semuanya menjadi kenangan. Manis...


Oh ya, sekadar informasi, kue keranjang itu habis dalam waktu tiga hari lho...
Selamat berbahagia, jika bahagia ternyata menjadi dambaan semua umat manusia...
"Aku adalah bahagia, dan bahagia adalah aku"

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih ummi, ibu, ayah, kakak, adik, keluarga dan sahabat tercinta... Teman pernah berkata, "sampai bertemu di puncak kebahagiaan".
Kita akan ke sana...

Jreeeeenggg.... jadi melow, bukan?
-raka-

Jumat, 08 Februari 2008

Gigitan Liar pada Sebongkah Kue Keranjang

Imlek... dengan warna merah mentereng datang...

Wah, aku selalu suka jika Imlek datang. Bukan karena aku warga Tionghoa atau suka barongsai naga warna-warni itu. Ato bukan karena angpao yang isinya bisa mencapai setengah juta, jika kita hoki mencabutnya dari pohon ke-hoki-an. Tapi karena pada imlek ini, ada kue keranjang yang aku suka... atao lazim disebut dodol cina... ah, jauh-jauh amat, toh dodol itu juga dibuat dimana saja. Seperti dodol garut yang dibuatnya juga tidak melulu di garut..

Pada Imlek kemarin, vihara bersejarah Sian Jin Kupoh di Karawang aku kunjungi. Viharanya megah, dengan warna merah menyala dan ukiran naga besar-besar. Mungkin dibuat seperti itu agar para dewa-dewi tertarik turun ke bumi dan mampir di vihara tersebut. Satu hal yang paling tidak aku suka saat mengunjungi vihara adalah bau asap dupa yang yaaa ampyuuun... membuat mata berair-air, pediiihh... tapi aku heran, kenapa mereka kuat ya? Lebih herannya lagi, kok mereka bisa ya khusyuk beribadah dengan asap dupa mengepul dimana-mana? hmmm...

Singkat cerita, jalan-jalanlah aku... di sebuah rumah kesekiannya, rumah tempat aku singgah di negeri rantau ini, tiba-tiba.... jreeeenggg... ada kue keranjang di sana. Waw, langsung kuambil tanpa banyak omong. Biarlah, meski menjadi tamu, aku tak malu-malu mengambil kue keranjang tersebut. Kupotong tipis-tipis (karena rupanya aku masih punya malu juga jika memotongnya tebal-tebal) dan kulahap dengan mantap... aaahhh, ueeenak... Dan kusisakan kue keranjang itu sedikit... sebab, dalam tradisi ketimuran, kita tak lazim menghabiskan makanan di rumah orang. Sisakan buat keluarga mereka yang lain, kata orangtua dulu...

Eh, tak sengaja aku bertanya, "kalau beli dodol cina di sini di mana?". Si nyonya rumah bertanya, "emang buat apa?". "Ya buat dimakan," kataku. Dan tiba-tiba lagiiii, nyonya rumah berkata, "tuuh, ada dua bongkah lagi di lemari. Kamu ambil satu, gih.". (aku sedikit bengong dan pura-pura menutupi rasa bahagia dengan memberi muka bingung kepada nyonya rumah)

Dengan dalih akan ke kamar kecil, aku melangkah ke belakang. Di kamar kecil, aku tersenyum-senyum akan mendapat hoki sebuah dodol cina. Saat akan keluar dari kamar kecil, aku melangkah dan nyonya rumah berkata, "ambil tuh dodol cinanya." (dan dengan pelan-pelan sambil menahan rasa bahagia kuambil dodol cina dalam plastik merah tersebut). Diberilah aku dodol cina itu... DAN DODOL CINA BERPINDAH SATU KE TANGANKU KINI... hahahaha... aku tertawa lepas... dan langsung pamit pulang...

Besok malamnya, dengan tergesa-gesa kubuka plastik dodol cina itu. Karena tak ada pisau, dan setelah berpikir cukup panjang, KUGIGIT DENGAN LIAR SEBONGKAH DODOL CINA GRATIS TERSEBUT.... Maknyuuuussss.... Rasanya itu lho... tidak terlalu manis, lengket, legit, nempel di mulut dan nyap...nyap... (kata "nyap...nyap..." adalah gambaran kenikmatan dodol cina itu saat dimulut, sulit menggambarkannya dengan kata-kata)

Setelah sebagian dodol cina itu kugigit, kusimpan lagi... hahahahaha... tawa bahagia melantun menggema di kamarku... tak ada satu tetanggapun yang curiga dengan apa yang kulakukan saat itu... NAFSU LIARKU TERPENUHI SUDAH....

Terima kasih nyonya "dodol cina"
Gong Si Fat Chai... hayyiiikkk!!!

Rabu, 06 Februari 2008

Amplop: Haram Bagi Wartawan Kecil, Tapi Halal Bagi Petinggi Media

Amplop: Haram Bagi Wartawan Kecil, Tapi Halal Bagi Petinggi Media
30 Maret 2007 in Jurnalisme, Korupsi, Opini
[frans; batak news; surat dari seorang wartawan media internasional]

Lae, terharu aku membaca suratmu untuk AJI dan wartawan Indonesia. Banyak media nasional, baik cetak maupun elektronik, kerap menulis besar-besar di medianya bahwa wartawan mereka tidak boleh menerima amplop. Tapi saya tahu, para petinggi media menerima “amplop” yang lebih besar dari penguasa dan pengusaha agar bisa merekayasa berita.
Amplop haram bagi wartawan kecil tapi halal untuk para petinggi dan pemilik media. Ketidakadilan dan pembohongan publik inilah yang harus dilawan. Bukan dengan membolehkan wartawan menerima amplop tapi dengan mendesak agar perusahaan media memberikan upah yang layak untuk para wartawan.

Saya telah berkarir sebagai wartawan selama lebih dari 25 tahun, separuhnya di media nasional dan separuhnya di media internasional. Setelah berkeluarga dan dititipi anak-anak oleh Allah, saya memutuskan untuk bekerja di media internasional yang memang lebih menghargai kerja wartawan dengan upah yang layak seraya mengharamkan amplop.

Sebagai wartawan media internasional, saya bahkan pernah mentraktir makan anggota DPR dan pejabat tinggi ketika saya mengajak mereka untuk makan siang sambil mewawancarai mereka. Tentu saja biaya yang saya keluarkan untuk itu kemudian diganti oleh media tempat saya bekerja. Praktek semacam ini tidak saja memberikan harga diri kepada kita sebagai wartawan, tetapi juga membuat para narasumber tidak memandang rendah para wartawan.

Saya seringkali sedih kalau wartawan Indonesia dicap sebagai “wartawan nasi bungkus”: hanya dengan memberikan sebungkus nasi, narasumber bisa meminta seorang wartawan menulis berita seperti yang dikehendakinya. Lae, wartawan itu tak pernah “mati”, meskipun dia kini sudah bekerja di bidang lain. Lae dapat terus berkarya lewat blog Batak News. Selamat atas blog-nya dan salam untuk si kecil Gibran. Mudah-mudahan dia mengikuti jejak ayahnya dan menjadi penulis hebat seperti Kahlil Gibran.
http://www.blogberita.com

Kamis, 03 Januari 2008

Aku, Sang Penghibur

Unik sekali... Sungguh.
Seperti yang terlihat, terdengar, terasakan, dan terjadi...
inilah beberapa kata yang mencerminkan
betapa hingga kini, aku masih menjadi seorang penghibur
menghibur diri sendiri....
terima kasih, padi...

SANG PENGHIBUR
by PADI

setiap perkataan yang menjatuhkan
tak lagi kudengar dengan sungguh
juga tutur kata yang mencela
tak lagi kucerna dalam jiwa

aku bukanlah seorang yang mengerti
tentang kelihaian membaca hati
kuhanya pemimpi kecil yang berangan
tuk merubah nasibnya

oh, bukankah kupernah melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya, yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

kugerakkan langkah kaki
dimana cinta akan bertumpu
kulayangkan jauh mata memandang
tuk melanjutkan mimpi yang terputus

masih kucoba mengejar rinduku
meski peluh membasahi tanah
lelah penat tak menghalangiku
menemukan bahagia

oh, bukankah kubisa melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya

bukankah hidup ada perhentian
tak harus kencang terus berlari
kuhelakan nafas panjang
tuk siap berlari kembali
melangkahkan kaki menuju cahaya