Biar lebih dramatis, cerita ini kuambil dari kisah nyata. Begini ceritanya, suatu malam aku pergi mengantar seseorang ke Terminal Leuwipanjang, Bandung. Setelah mengantarnya naik bus jurusan kota artis "no comment" dan sedikit melakukan ritual cipika-cipiki, aku pergi ke tempat aku memarkirkan motorku.
Seperti biasa, aku membayar parkir kepada seorang tukang parkir yang memakai gaun malam; jaket tebal dan sebatang rokok mengepul. Karena tidak ada receh, aku memberinya selembar uang lima ribu. Saat itu, dia memberi uang kembalian tiga ribu perak. Aku santai saja, karena sekarang tukang parkir suka seenaknya menentukan tarif. Saat aku tengah sibuk menyalakan motor, tiba-tiba si tukang parkir yang rupanya orang batak itu berkata kepadaku sambil menyerahkan kepingan uang logam yang katanya berjumlah seribu perak. Dengan logat Batak khas dia berkata, "Kang, tadi kembalianya baru tiga ribu, ini seribu lagi."
Aku menerima uang tersebut, sambil sedikit terpana. Pelajaran berharga malam itu, bahwa masih ada orang yang sebetulnya secara ekonomi pas-pasan, bahkan bisa dibilang sangat, tapi tidak mau mengambil hak orang lain. Dia melihat aku yang sudah pasrah dengan kembalian seadanya, ternyata tidak mengurungkan niatnya memberi kembalian tambahan. Orang lain, atau tukang parkir lain tidak melakukan hal itu. Bahkan, aku pernah ribut gara-gara persoalan kembalian parkir ini.
Hidup, bagi kebanyakan orang saat ini memang tengah susah. Dan kadang, kesusahan itu kerap dijadikan alasan untuk berbuat seenaknya, hingga mengambil hak orang lain. Bahkan, ironisnya, orang yang kelebihan harta pun, seperti pejabat dan beberapa orang kaya, malah sibuk mengambil hak banyak orang alias korupsi. Jenderal pun kini terjerumus. Entah itu dijebak atau sengaja, tapi yang jelas kita sekarang melihat, bahwa setiap orang kini tidak bisa bebas dari hukum. Kecuali beberapa golongan orang yang punya keturunan dengan penguasa lama saat ini. Belum tersentuh mungkin.
Curhatan yang agak berat ini, aku tulis hanya ingin sekadar berbagi. Bahwa meski keadaan sulit, kejujuran harus tetap menjadi senjata kita dalam berbuat. Tak ada alasan bagi mereka tidak jujur, dan merugikan orang lain saat mereka tengah dalam keadaan sulit. Apalagi bagi para pejabat yang dengan teganya mengkorupsi kekayaan milik rakyat. Itu keji namanya. Hingga kini aku terus berpikir, bagaimana caranya aku bisa kaya dengan kejujuran?
Kisah lain soal Orang Batak
Di kota perantauanku dulu, di Karawang, aku punya cukup banyak orang batak. Dua orang batak jadi sahabatku. Mereka tak seperti orang Batak yang kukenal itu. Mereka adalah Batak yang sudah agak ke-Sunda-an. Basun disebutnya, disingkat Batak-Sunda.
Pernah, saat aku akan meninggalkan kota itu, seorang sahabat Batak-ku berkata, "Orang Batak itu kalau suka sama seseorang dia bilang, kalau gak suka, dia juga bilang blak-blakan". Dia juga bilang, tidak semua orang Batak bisa diajak baik.
Parahnya, kita sering becanda dengan mengejek-ejek asal daerah masing-masing. Aku, yang sejak lahir berwajah blester, tepatnya mirip orang Timur Tengah, sering dipanggilnya "Dasar Arab gelo". Dia juga sering memanggil teman kita yang lainnya dengan sebutan "Sunda Gelo" atau yang lainnya. Dan aku, juga sering mengejeknya "Batak Sialan" atau ejekan lainnya.
Aku sedang tidak berbicara soal yang menyinggung SARA. Justru aku hanya ingin berbagai, pelajaran selanjutnya adalah, dengan keakraban dan sikap saling menerima ditambah beberapa sikap saling mengerti, aku pikir persoalan yang menyangkut SARA seharusnya tidak ada lagi.
Kita saling bercanda hingga mengejek, tapi tidak pernah ada dari kita yang mengejek berlebihan dan terjadi pertengkaran. Semuanya berjalan apa adanya, bahkan begitu akrab. Aku kadang tidak mengerti, kenapa di beberapa bagian tempat, sering ada percekcokan hanya karena persoalan SARA sepele. Saling menerima dan terbuka jadi kunci. Tapi kadang, kita sering enggan untuk terbuka.
Kisah soal SARA juga kerap dialami para warga etnis Tionghoa. Meski sekarang, praktik diskriminasi sudah bisa dikatakan tidak ada, terutama di kota besar. Tapi, seperti ada trauma, masih ada saja mereka yang enggan membuka diri. Padahal, beberapa orang Tionghoa yang sudah mendulang sukses di kehidupannya, justru menganggap aku sebagai saudaranya.
Mereka juga malah sering mengingatkan, agar warga keturunan lainnya tidak menutup diri dan bersikap eksklusif, mentang-mentang punya duit dan menguasai perekonomian. Dan sama halnya, dia juga bilang, bahwa sikap membuka diri menjadi kunci utama agar pergaulan menjadi akrab, dan jauh dari perseteruan.
Dalam sebuah situs, iseng-iseng saya mendapati sebuah puisi karya Tokoh Sastrawan Tionghoa Bu Ru Liang atau Soeria Disastra. Begini puisinya;
Tak pernah kau cinakan aku
Dimatamu aku Tionghoa
Dihatimu aku Indonesia
Tak pernah kau Islamkan diri
Diwajahmu aku lihat cahaya illahi
Didadamu aku dengar
Degup jantung ibu pertiwi
Kau dan aku ketemu di jalan
Lalu kita sejalan
Dengan kau aku tak sendiri
Di bumi pertiwi
Puisinya sederhana, namun dalam. Kita memang tak pernah ingin lahir dalam keadaan Cina, Arab, Sunda, Batak, atau suku lainnya. Kita adalah kita saat dilahirkan. Tak ada yang meminta, pun bisa menolaknya. Jadi, apa alasan kita saat ini berseteru atas nama SARA?
Indah rasanya jika saat ini, kita tidak lagi memikirkan soal SARA dan hal sepele yang kadang membuat orang-orang berseteru. Yang perlu kita pikirkan saat ini adalah persoalan menggapai kebahagiaan dan kesuksesan bersama. Dengan agak-agak retoris dan jiwa patriot yang sok-sok tinggi, saya ingin mengatakan, bangsa ini sudah jenuh dengan keributan-keributan orang-orang yang sok jago berantem. Bangsa ini juga sudah muak dengan omong kosong para politisi busuk yang sebetulnya tengah melawan hati nuraninya sendiri.
Bangsa ini perlu perubahan. Tidak lagi mengurusi hal sepele, tapi sudah mulai berpikir jauh ke depan. Okeylah, aku tidak berpikir tulisan ini akan menjadi apa-apa buat kalian. Yang jelas, di blog ini, aku hanya ingin berbagi. Basa-basi penting dan tidak penting, itu akan kembali pada bagaimana kita melihat apa yang terjadi di dekat kita. Selalu ada jalan keluar dan selalu ada yang keren dalam hidup kita. Inilah "simply life" yang pernah aku tulis sebelumnya.
Selamat melihat, mendengar dan merasakan. Bangkit, dan pergilah jauh.
-raka-