Aku akan dihadiahi rekor MURI. Tapi aku tolak. Sebab, kenapa hal yang begitu lumrah harus diberi penghargaan spesial (karena aku juga tidak suka diperlakukan spesial).
Begini ceritanya...
Sejak jumat hingga senin kemarin (21-23 Desember 2007) tiga pantai berbeda aku jelajahi satu persatu. Kata MURI ini luar biasa. Emang sih. Tapi kalau luar biasa, apa harus diberi penghargaan??? Gak usah kataku. Nah, pada Jumat (22/12) aku pergi ke pantai Tanjung Bali dan pantai Sarakan, tepatnya di Desa Tambaksari, Kec Tirtajaya, Kab Karawang. Waw, pantainya indah. Meski sudah banyak bangunan yang hancur karena abrasi, tapi keindahan pasir putih (sedikit hitam juga) tetap terlihat. Pohon-pohon kelapa yang berjajar sudah habis diterjang angin. Ada yang tersungkur ke pasir dan sebagian tetap berdiri tanpa nyiur. Dari 80 rumah, yang tersisa hanya sekitar 20 rumah. Sisanya sudah mengungsi setahun lalu. Mereka yang ada, bertahan dengan terpaksa. "Bingung mau pindah kemana lagi," kata mereka.
Seandainya kalian biasa kesana. Ada satu masjid tersisa. Berdiri kokoh menunggu abrasi berikutnya menghantam. Tapi dia terlihat kokoh diantara tiga rumah di sekitarnya yang siap hancur diterpa satu angin lagi. Hanya pondasi-pondasi yang tersisa dari beberapa bangunan yang sempat megah kala itu. Meski begitu, aku justru melihat ada kedamaian di tempat itu. Mereka, yang setiap pagi, siang, sore dan malam diterpa angin, tetap kokoh bertahan hidup. "Anginnya terdengar indah di sana. Deru ombaknya bersiulan kencang memanggil setiap jiwa untuk melompat ke laut, dan bermain bersama pasir, laut, angin, matahari, kerang, ikan, nyiur, langit, ombak, juga tawa anak kecil yang tersisa. Pernahkah kalian bermain seasyik ini dengan mereka semua?"
Pada Sabtu (22/12), tepatnya esok harinya, aku pergi ke pesisir laut Pisangan, tepatnya di sekitar wilayah Desa Sedari, Kec Cibuaya, Kab Karawang. Perjalanan kali ini ditempuh sungguh luar biasa. Melewati jalan rusak, berjalan di sekitar luasnya tambak yang sepi, menyusuri pasir pantai, dan berkejaran dengan angin laut yang menderu kencang saat menyapa telinga. Sungguh menyenangkan, sayang. Kali ini, keluhan saudaraku di sana atas banjir yang menyapa mereka sebentar, tapi katanya sungguh merepotkan. Tapi untungnya mereka tidak menyalahkan alam, apalagi menyalahkan Tuhan seperti orang-orang yang terkena bencana sebelumnya. "Semua karena Tuhan, kita hanya pasrah saja," kata mereka yang suka menyalahkan Tuhan. Pliss deh... Jangan-jangan banjir datang karena kita tidak menjaga lingkungan. Jangan-jangan longsor datang karena kita sering membabat hutan seenaknya. Jangan-jangan air laut pasang datang karena bumi sudah terlalu panas dan akhirnya beberapa bagian yang dulunya "es" kini mencair... So, apa kita masih coba menyalahkan Tuhan? Nyanyian Ebiet G Ade sepertinya tepat... "bercermin dan banyaklah bercermin...."
Menyusuri laut Pisangan dan Desa Sedari sungguh luar biasa. Pantai yang sepi, bau ikan, derasnya ombak dan kencangnya angin membuat kita sadar, betapa indah hidup ini jika kita mau sedikit berupaya memberi kepada alam, bukan hanya sekadar memakainya... atau kita lebih banyak melecehkannya....
Minggu (23/12) pantai Tanjung Baru, Desa Pasir Jaya, Kec Cilamaya Kulon, Kab Karawang aku sambangi. Wah, ini lebih parah. Perjalanan kutempuh dengan berpeluh keringat, titik darah penghabisan, terperosok dua kali (belum lagi terperosok yang kecil-kecil beberapa kali) dan akhirnya saudara-saudara.... sampai juga ke pantainya. Di sana mengambil beberapa gambar, menikmati derunya ombak dan angin (di setiap pantai deru angin dan ombak berbeda), berbincang dengan orang-orang baik penjaga pantai, dan tentunya menikmati santapan khas pantai... Kali ini ikan etong bakar yang besar disuguhkan tuan penjaga pantai. GRATIS. Hanya dengan modal senyum lho...
Ada keluh kesah dari mereka, para penjaga pantai. Tapi biar bagaimanapun, ada tawa, senyum, canda, ditambah sedikit tangis yang disembunyikan. "Hidup itu terlalu indah. Kami menangis, tapi cukup dalam hati. Selebihnya kami harus tersenyum," kata para penjaga pantai itu...
Kawan, coba tanyakan dalam hati terdalam kita, "kehidupan seperti apa yang sebetulnya kita inginkan?"
"Setiap hari kita terbangun dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi hari ini. Hari ini kita tidak pernah tahu akan bertemu dengan siapa, dan siapa lagi yang akan menjadi teman, sahabat atau saudara kita. Kita tidak pernah tahu kita akan berada di mana nanti dan dalam situasi apa. Hari ini kita bisa mendengar angin pantai. Besok kita akan merasakan nyanyian pohon-pohon di atas gunung yang meminta kita untuk terus menjaga mereka. Setiap hari adalah kejutan. Kita tidak pernah tahu esok lusa matahari seperti apa yang akan menyapa kita. Kita tidak pernah tahu malam nanti akan tidur seperti apa, atau bahkan kita akan terus terjaga malam ini. Setiap hari, selalu ada senyum orang-orang miskin pinggiran, para petani, buruh, kernet, supir, tukang nasi, pedagang di pasar, para PSK, waria, para pengangguran, gadis-gadis imut, mahasiswi, tante-tante ceria, pejabat, para wakil rakyat, tentara, polisi, wartawan, para penuntut kebahagiaan, pedagang asongan yang semuanya mewarnai hidup kita... Kita selalu inginkan dan bertanya, kehidupan seperti apa yang kita inginkan? Dan kita kerap menjawab, KEBAHAGIAAN..."
Sayang, kita sebetulnya hanya ingin kebebasan...
Seperti saat angin laut menerpa rambut hitam kita. Kita mendengar derunya begitu keras di dua telinga kita. Kita merasakan angin itu menyentuh kulit kita, dan menerpa keringat di tubuh kita... Seperti saat mentari begitu berani membelai kulit kita, dan kita menikmatinya... Seperti saat ombak laut menderu kencang, saat buih-buih itu kita injak. Saat pasir putih itu kita tekan dengan telapak kaki kita. Saat langit, hari ini kembali kita lihat. Sesungguhnya, kita melihat, merasakan dan menginginkan kebebasan....
Maka, atas nama kebebasan, bersyukurlah, sayang....