Anak-anak penjaga dunia lain....
Dunia lain tidak seseram yang mereka bayangkan. Dunia lain – atau tepatnya dunia orang-orang yang telah meninggal – bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
Usia mereka masih kecil-kecil. Masih terlalu dini untuk mengenal kerasnya dunia. Masih terlalu lugu untuk merasakan hal yang sama seperti orang tua mereka. (betapa dunia menjadi semakin keras ketika mereka beranjak dewasa). Bagiku, seharusnya mereka tidak perlu mengerti hal itu... Tak perlu sama sekali. Tak ada alasan, maaf.
Suatu ketika mereka sedang bermain di sebuah pemakaman. Sebenarnya tidak terlihat seperti bermain. Lebih tepatnya bekerja. Ini adalah kisah nyata. Bersama tujuh bocah penjaga dunia lain. Bocah lugu yang seperti aku bilang tadi: seharusnya bermain di tempat indah. Tapi mungkin, tempat itu indah buat mereka.
Obrolan berawal ketika seorang bocah tiba-tiba bertanya kepadaku. “A, mau cari makam siapa?” tanya bocah itu. “Gak, Cuma mau maen aja,” kataku. Si bocah itu tertawa. Tak lama kemudian, enam bocah lainnya menghampiri dan bertanya dengan pertanyaan yang serupa. Sama dan serupa sambil membawa sebuah sapu lidi.
“Kok mau maen di tempat ini sih, A?” tanya bocah lainnya dengan polos.
“Terus kalian kenapa pada mau maen di sini?” tanyaku.
“Ya emang harus kesini, A,” jawab mereka, lagi-lagi dengan keluguan yang lucu.
“Kenapa harus kesini? Kan banyak tempat laen,” tanyaku iseng.
“Kerja, A,” jawab mereka.
Jawaban singkat mereka membuatku tersenyum. Tersenyum dengan perasaan yang aku sendiri tak pernah tahu. Tapi yang pasti, ada KAGUM di sana. Plus campur-sari perasaan.
Duduk ditepi sebuah kuburan aku dengan mereka....
Bercerita... sedikit...
Namanya Dian Rusdiana (13 tahun). Bocah lelaki yang rumahnya tak jauh dari areal pemakaman itu. Kini, dia kelas 2 SMP. Sambil tersenyum (dengan kebanggan seorang bocah) dia bercerita lebar-lebar.
“A, saya jadi penyapu di makam ini sejak kelas 6 SD. Kalo disuruh bapak-ibu sih enggak, A. Ya saya kesini cuma mau cari uang buat jajan. Mau gimana lagi, bapak-ibu kadang ngasih uang jajan, kadang enggak, A. Bapak kerja jadi tukang becak. Dan ibu biasa jadi buruh cuci di rumah tetangga,” tuturnya dengan terbata, tapi jelas. Jelas pula raut kegetiran yang aku sendiri tidak pernah tahu perasaan apa yang bergejolak di hatinya.
Dan saya pun menuliskan cerita si Dian dalam catatan kecil yang sengaja saya bawa...
“A, kenapa ditulis?” tiba-tiba seorang bocah perempuan nyeletuk.
Dan dia namanya Erika, kelas 6 SD. Satu-satunya bocah perempuan yang terlihat di tempat itu. Meski saya menilainya sudah mengarah kepada tomboy.
“Ah, enggak iseng aja. Saya juga kan sedang sekolah seperti kalian,” kataku.
Dan semua yang ada di sana tertawa.
Tawa yang selama ini ingin sekali kudengar. Salah satu tawa yang paling menenangkan hatiku. Salah satu tawa terbaik yang penah kudengar. Tawa yang datang dari lubuk hati terdalam tanpa rekayasa dan pengaruh kerasnya dunia. Tapi paling murni. Dan itu adalah tawa terlepas yang pernah kudengar.....
Aku pun ikut tertawa lepas... Tertawa di sebuah dunia lain. (aku pikir para penghuni dunia lain itu juga ikut tertawa bersama kami)
Dan mereka pun mengajariku sesuatu....
“Kalian gak takut emang ada di sini?” tanyaku singkat.
Erika, bersama Dian, Putra (yang ternyata masih kelas 1 SD) dan empat teman lainnya yang aku lupa namanya sama-sama menimpali pertanyaanku.
“Kita gak takut ada di sini, A. Yang penting sopan aja, jangan sompral. Kalo sompral biasanya kena sambet. Tuh, di pohon itu katanya ada hantunya,” jawab mereka, sambil menunjuk sebuah pohon beringin besar tepat berada di tengah makam. Masih lugu.
Pelajarannya: Rasa takut bisa hilang dengan kerendahan hati...
Dengan rasa sopan, dengan tidak berkata seenaknya, dengan tidak berbuat sesuka hati yang tentunya mengganggu orang lain. Dengan kerendahan hati, dunia lain pun akan menghormati kita....
Aku pulang dengan pelajaran sederhana itu...
Sebelumnya, kusempatkan merekam wajah-wajah lugu mereka...
Hasilnya, “Semua mengeluarkan jurus METAL..!!!”
Lihatlah gambar tujuh bocah penjaga dunia lain itu...
Gambar terindah yang pernah kuambil, bersama keluguan hati mereka...
Kelak, mereka seharusnya menjadi seseorang.
TPU Sadamalun Pangkal Perjuangan,
September 2007