Jumat, 28 Desember 2007

Berangkat, Jendraaalll!!!


SIAP BERTEMPUR : Berangkat, Jendraaalll!!! Ayo kayuh dengan sekuat tenaga perahu ini!!! Kita akan menuju medan perang dan jangan lagi menoleh ke belakang untuk mundur!!! Ini perang kita, jendral!!!

Selasa, 25 Desember 2007

Kokoh bertahan...


KOKOH BERTAHAN : Sebuah masjid di pantai Sarakan, Desa Tambaksari, Kec Tirtajaya, Kab Karawang, Jumat (21/12) masih kokoh bertahan. Alam begitu keras menghantam bangunan lain di sekitarnya. Hanya tersisa beberapa rumah yang sekali terpa saja sepertinya hancur. Tuhan itu ada, meski nanti masjid ini nantinya diterjang kerasnya alam. (teks dan foto: raka zaipul)

Senyum yang Sunyi...


SENYUM YANG SUNYI : Pantai Tanjung Baru, Desa Pasir Jaya, Kec Cilamaya Kulon, Kab Karawang, Minggu (23/12) sekitar pukul 13.00 WIB menyiratkan senyum yang sunyi. Dia berharap setiap dari kita sedikitnya memberi senyum kepadanya. Mudah katanya. Cukup menghargai alam. (foto & dan teks: raka zaipul)

Rekor MURI aku tolak...

Aku akan dihadiahi rekor MURI. Tapi aku tolak. Sebab, kenapa hal yang begitu lumrah harus diberi penghargaan spesial (karena aku juga tidak suka diperlakukan spesial).

Begini ceritanya...
Sejak jumat hingga senin kemarin (21-23 Desember 2007) tiga pantai berbeda aku jelajahi satu persatu. Kata MURI ini luar biasa. Emang sih. Tapi kalau luar biasa, apa harus diberi penghargaan??? Gak usah kataku. Nah, pada Jumat (22/12) aku pergi ke pantai Tanjung Bali dan pantai Sarakan, tepatnya di Desa Tambaksari, Kec Tirtajaya, Kab Karawang. Waw, pantainya indah. Meski sudah banyak bangunan yang hancur karena abrasi, tapi keindahan pasir putih (sedikit hitam juga) tetap terlihat. Pohon-pohon kelapa yang berjajar sudah habis diterjang angin. Ada yang tersungkur ke pasir dan sebagian tetap berdiri tanpa nyiur. Dari 80 rumah, yang tersisa hanya sekitar 20 rumah. Sisanya sudah mengungsi setahun lalu. Mereka yang ada, bertahan dengan terpaksa. "Bingung mau pindah kemana lagi," kata mereka.

Seandainya kalian biasa kesana. Ada satu masjid tersisa. Berdiri kokoh menunggu abrasi berikutnya menghantam. Tapi dia terlihat kokoh diantara tiga rumah di sekitarnya yang siap hancur diterpa satu angin lagi. Hanya pondasi-pondasi yang tersisa dari beberapa bangunan yang sempat megah kala itu. Meski begitu, aku justru melihat ada kedamaian di tempat itu. Mereka, yang setiap pagi, siang, sore dan malam diterpa angin, tetap kokoh bertahan hidup. "Anginnya terdengar indah di sana. Deru ombaknya bersiulan kencang memanggil setiap jiwa untuk melompat ke laut, dan bermain bersama pasir, laut, angin, matahari, kerang, ikan, nyiur, langit, ombak, juga tawa anak kecil yang tersisa. Pernahkah kalian bermain seasyik ini dengan mereka semua?"

Pada Sabtu (22/12), tepatnya esok harinya, aku pergi ke pesisir laut Pisangan, tepatnya di sekitar wilayah Desa Sedari, Kec Cibuaya, Kab Karawang. Perjalanan kali ini ditempuh sungguh luar biasa. Melewati jalan rusak, berjalan di sekitar luasnya tambak yang sepi, menyusuri pasir pantai, dan berkejaran dengan angin laut yang menderu kencang saat menyapa telinga. Sungguh menyenangkan, sayang. Kali ini, keluhan saudaraku di sana atas banjir yang menyapa mereka sebentar, tapi katanya sungguh merepotkan. Tapi untungnya mereka tidak menyalahkan alam, apalagi menyalahkan Tuhan seperti orang-orang yang terkena bencana sebelumnya. "Semua karena Tuhan, kita hanya pasrah saja," kata mereka yang suka menyalahkan Tuhan. Pliss deh... Jangan-jangan banjir datang karena kita tidak menjaga lingkungan. Jangan-jangan longsor datang karena kita sering membabat hutan seenaknya. Jangan-jangan air laut pasang datang karena bumi sudah terlalu panas dan akhirnya beberapa bagian yang dulunya "es" kini mencair... So, apa kita masih coba menyalahkan Tuhan? Nyanyian Ebiet G Ade sepertinya tepat... "bercermin dan banyaklah bercermin...."

Menyusuri laut Pisangan dan Desa Sedari sungguh luar biasa. Pantai yang sepi, bau ikan, derasnya ombak dan kencangnya angin membuat kita sadar, betapa indah hidup ini jika kita mau sedikit berupaya memberi kepada alam, bukan hanya sekadar memakainya... atau kita lebih banyak melecehkannya....

Minggu (23/12) pantai Tanjung Baru, Desa Pasir Jaya, Kec Cilamaya Kulon, Kab Karawang aku sambangi. Wah, ini lebih parah. Perjalanan kutempuh dengan berpeluh keringat, titik darah penghabisan, terperosok dua kali (belum lagi terperosok yang kecil-kecil beberapa kali) dan akhirnya saudara-saudara.... sampai juga ke pantainya. Di sana mengambil beberapa gambar, menikmati derunya ombak dan angin (di setiap pantai deru angin dan ombak berbeda), berbincang dengan orang-orang baik penjaga pantai, dan tentunya menikmati santapan khas pantai... Kali ini ikan etong bakar yang besar disuguhkan tuan penjaga pantai. GRATIS. Hanya dengan modal senyum lho...

Ada keluh kesah dari mereka, para penjaga pantai. Tapi biar bagaimanapun, ada tawa, senyum, canda, ditambah sedikit tangis yang disembunyikan. "Hidup itu terlalu indah. Kami menangis, tapi cukup dalam hati. Selebihnya kami harus tersenyum," kata para penjaga pantai itu...


Kawan, coba tanyakan dalam hati terdalam kita, "kehidupan seperti apa yang sebetulnya kita inginkan?"

"Setiap hari kita terbangun dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi hari ini. Hari ini kita tidak pernah tahu akan bertemu dengan siapa, dan siapa lagi yang akan menjadi teman, sahabat atau saudara kita. Kita tidak pernah tahu kita akan berada di mana nanti dan dalam situasi apa. Hari ini kita bisa mendengar angin pantai. Besok kita akan merasakan nyanyian pohon-pohon di atas gunung yang meminta kita untuk terus menjaga mereka. Setiap hari adalah kejutan. Kita tidak pernah tahu esok lusa matahari seperti apa yang akan menyapa kita. Kita tidak pernah tahu malam nanti akan tidur seperti apa, atau bahkan kita akan terus terjaga malam ini. Setiap hari, selalu ada senyum orang-orang miskin pinggiran, para petani, buruh, kernet, supir, tukang nasi, pedagang di pasar, para PSK, waria, para pengangguran, gadis-gadis imut, mahasiswi, tante-tante ceria, pejabat, para wakil rakyat, tentara, polisi, wartawan, para penuntut kebahagiaan, pedagang asongan yang semuanya mewarnai hidup kita... Kita selalu inginkan dan bertanya, kehidupan seperti apa yang kita inginkan? Dan kita kerap menjawab, KEBAHAGIAAN..."

Sayang, kita sebetulnya hanya ingin kebebasan...
Seperti saat angin laut menerpa rambut hitam kita. Kita mendengar derunya begitu keras di dua telinga kita. Kita merasakan angin itu menyentuh kulit kita, dan menerpa keringat di tubuh kita... Seperti saat mentari begitu berani membelai kulit kita, dan kita menikmatinya... Seperti saat ombak laut menderu kencang, saat buih-buih itu kita injak. Saat pasir putih itu kita tekan dengan telapak kaki kita. Saat langit, hari ini kembali kita lihat. Sesungguhnya, kita melihat, merasakan dan menginginkan kebebasan....

Maka, atas nama kebebasan, bersyukurlah, sayang....

Petani Berbaris


PETANI BERBARIS : Desa Pasir Kamuning, Kec Telagasari, Kab Karawang, Minggu (23/12) sekitar pukul 16.00 WIB. Sore yang indah untuk para petani yang terlelah kembali ke rumah. Bersama mereka berjalan menyisiri hijaunya sawah - tempat mereka bercengkrama sembari memberi harapan pada semua dari kita; bahwa esok hari, di atas meja kita ada nasi hangat mengepul siap kita santap pagi, siang, sore dan malam. "Pernahkan kita mengingat jasa mereka yang setiap pagi kita sarapan atas jerih payah mereka berjemur di bawah teriknya matahari siang? Ah, jangankan kepada mereka, kepada Tuhan saja kita lupa...". Jika kalian ingat, berdo'alah bagi mereka. Agar esok pagi, masih ada nasi hangat untuk sarapan kita... (foto & teks: raka zaipul)

Rabu, 12 Desember 2007

sejuta rasa Bandung

Kembali ke bandung itu ada sejuta rasa...

ada rasa macet, rasa cewek-cewek cantik (dan malah tambah bahenol. Apa sih yg ada dipikiran mereka dgn berpakaian seperti itu???), ada rasa fashionista, ada rasa musik-musik indie label yang jreng...jreng...ngiiikkk (kalo gaul lu mesti dengeri itu), ada rasa FO-FO yang kini BUMN sekalipun membuat FO (karena konsumen mereka pada kabur ngikuti teknologi yang memacu kencang), ada rasa kue-kue terbaru, ada rasa makanan-makanan enak yang sudah tercampur sunda-eropa-asia-amrik-timur tengah, ada rasa kerinduan, ada rasa haru teman-teman yang tersenyum dari kejauhan menyambut untuk memelukku, ada rasa ada deeehhh....

ah, bandung selalu menyimpan sejuta rasa... meski macet dan keringat para supir angkot yang kesemutan memainkan gas dan kopling yang sudah mulai habis, mereka tetap berteriak (sebagian ada yang kental dengan logat Batak), "Caheum... ledeng.... margahayu... binong... lapa... panjang... alun-alun..!!!"

Bandung itu... apapun hinaan, cacian, keluhan, makian orang-orang, tetap disenyumi jutaan orang yang entah kenapa masih bilang, "bandung itu enaak lhooo"

kembali ke Bandung....
kembali ke pangkuan, saat rasa kantuk mulai meradang...
terlelap di samping seseorang yang entah kenapa begitu mudah menghilang...
"semua rindu bandung," kataku.

Minggu, 28 Oktober 2007

Demi menyapa keluarga


(DEMI MENYAPA KELUARGA) Inilah yang kami katakan, demi menyapa dan melihat senyum keluarga - dan orang yang kita sayangi, semuanya rela menikmati perjalanan spektakuler ini. Ini adalah sebuah keajaiban. Atau kami namakan saja hal ini sebagai "HARI KASIH SAYANG". Karena secara serentak, semua orang (dengan rasa sayang) rela membawa bekal seadanya demi memberi kebahagiaan untuk orang lain (dimana pada Valentine hal ini tidak pernah terjadi)** [Foto by Raka Zaipul. 11 Sept 2007, jalan ahmad yani, Karawang]

Kami menyapa kembali... Demi KELUARGA

Menyapa pemirsa kembali....

Hualah, arus mudik-balik hingga bolak-balik sungguh menyita perhatian ratusan juta umat manusia di negeri paman Roy ini. Betapa tidak, kemacetan yang biasanya kerap terjadi di ibukota negeri ini, dengan sekejap mata pindah ke kampung-kampung dan desa-desa yang jalannya saja setengah aspal setengah tanah dan setengah semen...
Tapi, beruntunglah mereka warga yang dilintasi jutaan orang yang disebut "pemudik" itu memiliki tontonan baru. Mereka asyik tertawa melihat tingkah pemudik itu. Membawa barang bawaan yang sudah over-kapasitas, dua anak yang diselipkan di tempat tersisa dari sebuah motor, ditambah kardus bekas mie instan (yang artis sekelas Titi Kamal saja sampai gak tahan. Atau artis secantik Luna Maya saja sampai pasang wajah jeleng. "Sungguh hebat iklan!") yang diikat kuat di belakang jok motor dengan tambahan kayu seadanya...

Orang-orang berbahagia. Meski sedikit tersiksa di jalanan, tapi mereka terlihat menikmati semuanya. Begitu juga dengan penonton itu. Ada polisi yang sudah terlalu sering mengeluh dengan "tren" ini. Tapi semua akhirnya tertawa.... "Syukur dech itu semua sudah selesai," kata mereka....

Ya, kami juga bersyukur....
Dalam nuansa budaya mudik yang spektakuler. Dalam berbagai kata yang sempat diucapkan ketika macet total di jalan-jalan Pantura, Nagreg, Merak, Bakauheni hingga di kampung halaman.. Kami bersyukur...

Keluarga kami telah menerima kami dengan selamat. Dan akhirnya kami pun kembali ke dunia nyata dengan selamat...
Banyak hal yang terjadi, sahabat...
Dan akhirnya semua kelak akan mengerti, KELUARGA adalah harta...
Boleh kalian menyebutnya karunia...
Karena bagi kami, sebetulnya tak ada kata yang bisa menjelaskan KELUARGA itu apa?

Kami bahagia dan semoga juga kalian...

Mohon maaf karena kami lama tidak menyapa...
Bukan karena mudik atau merayakan lebaran. Bukan.
Karena kami sadar, keterbatasan kami memaknai pemberian dariNya adalah suatu hal yang membuat kami harus merasa malu...

Karena kami, sampai detik ini, belum berbuat apapun bagi KELUARGA...

Maaf lahir dan batin buat semua....
Selamat menempuh hidup baru... Dan meraih impian itu tentunya.


Salam hangat dari yang selalu jatuh cinta....
Raka Zaipul dan temans
Direktur Kantor Berita Curahan Hati

Rabu, 19 September 2007

C I N T A (Budi MS)


Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas, tapi kamu tetap mencintainya.
Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.
Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah.
Aku pernah.......
Aku pernah tersenyum meski kuterluka, karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku. Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja.
Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan..... Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.
Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga.
Semua orang pasti pernah merasakan cinta.. baik dari orang tua... sahabat.. kekasih dan akhirnya pasangan hidupnya.
Buat temenku yg sedang jatuh cinta.. selamat yah..karena cinta itu sangat indah. Semoga kalian selalu berbahagia.
Buat temanku yg sedang terluka karena cinta...Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar. Satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit, tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya, bersabarlah dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu. Buat temanku yang tidak percaya akan cinta... buka hatimu jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia.
Buat temanku yang mendambakan cinta.. bersabarlah. .karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejap.. Tuhan sedang mempersiapkan segala yang terbaik bagimu.
Buat temanku yang mempermainkan cinta.... Sesuatu yang begitu murni dan tulus bukanlah untuk dipermainkan. Cinta bukan suatu kehampaan. Semoga kalian berhenti mempermainkan cinta dan mulai merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.


KONTRIBUTOR tulisan ini adalah Budi MS. Beliau adalah wartawan METRO TV untuk wilayah liputan Purwasuka. Sangat hobi berbicara CINTA, apalagi menyanyikan lagu CINTA duet Melly Goeslaw dan Krisdayanti. Asam-garam cinta telah dilaluinya dengan keringat dan darah yang mengucur deras. Kini, selain sibuk liputan (persiapan liputan arus mudik lebaran 2007), dia sibuk menciptakan film pendek dengan backsound CINTA bangget dech... Tinggal di Karawang Kota bersama teman-teman AJHIP yang selalu mencintainya sepanjang masa....
(Lihatlah foto sang maestro CINTA ini di atas.... Wajah penuh cinta, bukan?)

Minggu, 16 September 2007

Bocah-bocah penjaga dunia lain....

Anak-anak penjaga dunia lain....

Dunia lain tidak seseram yang mereka bayangkan. Dunia lain – atau tepatnya dunia orang-orang yang telah meninggal – bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.

Usia mereka masih kecil-kecil. Masih terlalu dini untuk mengenal kerasnya dunia. Masih terlalu lugu untuk merasakan hal yang sama seperti orang tua mereka. (betapa dunia menjadi semakin keras ketika mereka beranjak dewasa). Bagiku, seharusnya mereka tidak perlu mengerti hal itu... Tak perlu sama sekali. Tak ada alasan, maaf.

Suatu ketika mereka sedang bermain di sebuah pemakaman. Sebenarnya tidak terlihat seperti bermain. Lebih tepatnya bekerja. Ini adalah kisah nyata. Bersama tujuh bocah penjaga dunia lain. Bocah lugu yang seperti aku bilang tadi: seharusnya bermain di tempat indah. Tapi mungkin, tempat itu indah buat mereka.

Obrolan berawal ketika seorang bocah tiba-tiba bertanya kepadaku. “A, mau cari makam siapa?” tanya bocah itu. “Gak, Cuma mau maen aja,” kataku. Si bocah itu tertawa. Tak lama kemudian, enam bocah lainnya menghampiri dan bertanya dengan pertanyaan yang serupa. Sama dan serupa sambil membawa sebuah sapu lidi.

“Kok mau maen di tempat ini sih, A?” tanya bocah lainnya dengan polos.
“Terus kalian kenapa pada mau maen di sini?” tanyaku.
“Ya emang harus kesini, A,” jawab mereka, lagi-lagi dengan keluguan yang lucu.
“Kenapa harus kesini? Kan banyak tempat laen,” tanyaku iseng.
“Kerja, A,” jawab mereka.
Jawaban singkat mereka membuatku tersenyum. Tersenyum dengan perasaan yang aku sendiri tak pernah tahu. Tapi yang pasti, ada KAGUM di sana. Plus campur-sari perasaan.

Duduk ditepi sebuah kuburan aku dengan mereka....
Bercerita... sedikit...

Namanya Dian Rusdiana (13 tahun). Bocah lelaki yang rumahnya tak jauh dari areal pemakaman itu. Kini, dia kelas 2 SMP. Sambil tersenyum (dengan kebanggan seorang bocah) dia bercerita lebar-lebar.
“A, saya jadi penyapu di makam ini sejak kelas 6 SD. Kalo disuruh bapak-ibu sih enggak, A. Ya saya kesini cuma mau cari uang buat jajan. Mau gimana lagi, bapak-ibu kadang ngasih uang jajan, kadang enggak, A. Bapak kerja jadi tukang becak. Dan ibu biasa jadi buruh cuci di rumah tetangga,” tuturnya dengan terbata, tapi jelas. Jelas pula raut kegetiran yang aku sendiri tidak pernah tahu perasaan apa yang bergejolak di hatinya.

Dan saya pun menuliskan cerita si Dian dalam catatan kecil yang sengaja saya bawa...

“A, kenapa ditulis?” tiba-tiba seorang bocah perempuan nyeletuk.
Dan dia namanya Erika, kelas 6 SD. Satu-satunya bocah perempuan yang terlihat di tempat itu. Meski saya menilainya sudah mengarah kepada tomboy.
“Ah, enggak iseng aja. Saya juga kan sedang sekolah seperti kalian,” kataku.

Dan semua yang ada di sana tertawa.
Tawa yang selama ini ingin sekali kudengar. Salah satu tawa yang paling menenangkan hatiku. Salah satu tawa terbaik yang penah kudengar. Tawa yang datang dari lubuk hati terdalam tanpa rekayasa dan pengaruh kerasnya dunia. Tapi paling murni. Dan itu adalah tawa terlepas yang pernah kudengar.....
Aku pun ikut tertawa lepas... Tertawa di sebuah dunia lain. (aku pikir para penghuni dunia lain itu juga ikut tertawa bersama kami)

Dan mereka pun mengajariku sesuatu....

“Kalian gak takut emang ada di sini?” tanyaku singkat.
Erika, bersama Dian, Putra (yang ternyata masih kelas 1 SD) dan empat teman lainnya yang aku lupa namanya sama-sama menimpali pertanyaanku.
“Kita gak takut ada di sini, A. Yang penting sopan aja, jangan sompral. Kalo sompral biasanya kena sambet. Tuh, di pohon itu katanya ada hantunya,” jawab mereka, sambil menunjuk sebuah pohon beringin besar tepat berada di tengah makam. Masih lugu.

Pelajarannya: Rasa takut bisa hilang dengan kerendahan hati...
Dengan rasa sopan, dengan tidak berkata seenaknya, dengan tidak berbuat sesuka hati yang tentunya mengganggu orang lain. Dengan kerendahan hati, dunia lain pun akan menghormati kita....

Aku pulang dengan pelajaran sederhana itu...
Sebelumnya, kusempatkan merekam wajah-wajah lugu mereka...
Hasilnya, “Semua mengeluarkan jurus METAL..!!!”
Lihatlah gambar tujuh bocah penjaga dunia lain itu...
Gambar terindah yang pernah kuambil, bersama keluguan hati mereka...

Kelak, mereka seharusnya menjadi seseorang.


TPU Sadamalun Pangkal Perjuangan,
September 2007

Si Mbok dengan bakul jamu di punggungnya... (Epin)

Pagi yang tenang, tapi tidak tenang dengan hatiku.
Baru sehari merasa tenang setelah terbebas dari bangku akademis, aku kembali merasa gundah gulandings. Gimanings nggak gundah-gulandings? pasti setelah ini banyak yang menanyakan status pekerjaan.

Ya Allah, paringono kerjaan yang ga perlu pake kemeja dan waktunya fleksibel.
Aku marah nih, kenapa si mbok yangn gegendong bakul jamunya, yang besarnya setengah kali badannya yang kecil itu, berusaha bekerja keras, sementara aku kembali buang2 uang di warnet yang sudah habis masa jaya akses cepatnya ini?

Semua bekerja keras. Anak muda yang mencuci mobil di bengkel, penyapu Jalan Cihampelas, dan hey...seorang wanita berblazer kuning busuk turun dari motor sambil menciumi tangan lelaki pengendara motor.

Konsentrasiku kembali buyar, rear si wanita mengingatkanku pada Ellen Barkin, Maria Bello, Peta Wilson, Silvia Rossi,Maruzka Albertazzi, Serena Grandi.
Euweuh Gawe'


KONTRIBUTOR tulisan ini adalah handsome boy. Dia dipanggil epin. Sahabat lawas yang pernah meneteskan darah bersama dalam sebuah media perjuangan EUFORIA! yang sempat akan dibredel para penguasa saat itu. Eksentrik orangnya. Sering terlihat sendiri, tapi saya tahu dia tak pernah ingin sendiri di dunia ini. Epin kini sedang mencari seorang istri solehah. (dan tulisan ini saya catut begitu saja)

Dia tidak pernah menangis.... #1

Coba pikir sebentar.. Satu nama cewek yang ada di hati dan pikiran kamu sekarang...Yang cukup berperan dalam hidup kamu saat ini...Let's start.

1. Kenal dia dimana?
disuatu taman hijau, di bawah pohon...

2. Kapan kamu kenal dia?
beberapa waktu yg lalu...

3. Agama dia apa?
sampai saat ini katanya dia sedang mencari Tuhan..

4.Makanan kesukaan dia apa?
semua yang berasal dari alam katanya...

5. Kamu kenal teman2nya?
mereka yang katanya kenal banget aku..

6. Kenapa milih dia buat bulletin ?
secara tidak sengaja, bayangannya muncul di depan komputer... Damn!

7. Pernah liat dia nangis?
dia pintar sekali menyembunyikan perasaannya...

8. Dia pernah liat kamu nangis?
tidak pernah sama sekali... katadia, "kamu selalu membuat aku bisa tersenyum".

9. Kapan terakhir ketemu dia?
suatu hari yg lalu

10.Kamu benci dia?
belum...

11. Dia sayang kamu?
sangat katanya...

12. Kamu inget baunya dia?
harum...

13. Seneng kenal sama dia?
semoga...

14. Tau no. HPnya?
nomer telepatinya juga tau

15. Kapan terakhir kontak dia?
beberapa detik yang lalu

16. Kangen dia?
kadang...

17. Pernah diomelin ma dia?
tidak berani dia...

18. Pernah ke rumahnya?
alam adalah rumahnya katanya

19. Pernah liat dia sakit?
dia selalu tersenyum. tidak pernah memperlihatkan perasaannya...

20. Dia mandi berapa lama?
bukan urusan saya...

21. Dia perhatian sama kamu?
sepertinya...

22. Kamu tau dia jago apa?
jago menyembunyika perasaan... jago membuat orang merasa nyaman di dekatnya

23. Dia tau temen2 kamu?
tidak untuk saat ini

24. Dia ada dimana sekarang?
katanya di tempat biasa...

25. Berapa lama udah kenal dia?
beberapa waktu yang katanya lama, sekaligus sebentar...

26. Sifat sifat dia?
memilih mengalahkan perasaannya sendiri...

27. Shio dia?
bukan urusan berarti buat saya...

28. Kamu tau hobby nya apa aja? apa?
berbicara dengan alam katanya...

29. Pernah marah sama dia?
belum

30. Dia pernah kecewa sama kamu?
tidak akan pernah katanya

31. Dia lagi ngapain? Tau nggak?
di tempat biasa... berfikir sepertinya

32. Apa lagu favoritnya?
lagu tentang hidup dan cinta... tapi dia sangat tidak suka kecengengan...

33. Punya kenangan khusus sama dia?
semoga...

34. Kamu tau apa masalah2 dia sekarang?
tidak pernah ada masalah dia...

35. Ok... Nah, siapa dia???
seseorang dengan hati yang indah, seindah namanya, selembut wajahnya, serta seseorang yang sulit sekali menangis... meski begitu, aku selalu tahu perasaannya....

salam untuk kamu, di sana...
di tempat biasa kita bertemu, sayang. dan selalu...

Sabtu, 15 September 2007

Orang laut suka berpesta (juga)


Orang-orang laut berpesta.


Mereka menari, bernyanyi, tertawa, bermandikan matahari, menyantap hidangan alam, berjingkrak lalu saling mengucapkan selamat."SELAMAT berpesta, saudara," ucap mereka.


Tamu yang datang tidak hanya dari laut, tapi juga dari darat. Bagi mereka, ini semua adalah berkah. Sebab, sangat jarang menemui orang darat yang mau ke laut. Kadangkala, ada prasangka orang laut kepada orang darat, bahwa orang darat itu hebat dan seringkali mengagumkan. Makanya, orang laut merasa terhormat jika ada orang darat datang ke kampung halaman mereka. Apalagi berbondong-bondong seperti yang terjadi pada Pesta Laut. "Kami senang. Karena dengan judul 'Pesta Laut', saudaraku orang-orang darat mau datang menjenguk kami, meski sebentar saja," kata beberapa dari orang laut.


Dan acara puncak pun dimulai...

Orang laut yang ramah, mengajak orang darat jalan-jalan dengan perahu sederhana mereka. Perahu dengan panjang sekitar 10 meter, yang terbuat dari kayu. Hanya ada tiang dan sebuah terpal yang berperan menjadi peneduh mereka dari santapan rakus matahari siang yang kadangkala membuat gerah orang darat. Orang darat sendiri sangat membenci matahari. Sampai-sampai mereka memakai krim anti matahari dulu sebelum pergi memutuskan melawan matahari. Apalagi matahari yang sadis seperti di laut. Yang kata orang darat, matahari yang tidak tahu diri. Menyengat tanpa pandang bulu. Matahari yang tidak pernah pilih kasih menyengat. Matahari yang tidak bisa membedakan mana orang darat dan mana orang laut.


Tak disangka, orang darat senang juga setelah perahu sederhana yang mereka naiki berjalan mulus dengan angin kencang yang menerpa bertubi-tubi. "Tak apalah diterpa angin bertubi-tubi," kata orang darat. Sebab, di darat kini sudah jarang ada angin bertubi-tubi datang menyegarkan tubuh mereka. Termasuk pikiran mereka yang terpenting. Orang darat kini banyak memakai angin buatan yang biasa disebut AC. Yang mereka sendiri tidak tahu apa itu menyehatkan atau tidak.


Sampai di tengah lautan, dengan peralatan serba hebat dan lengkap untuk merekam diri mereka dengan rasa narsis yang super-tinggi, orang darat yang penasaran dengan seenaknya berpindah tempat guna mencari angle yang sensasional agar hasil rekaman mereka bisa menjadi karya spektakuler seperti pendahulu mereka sebelumnya. Alhasil, perahu kelas menengah ke bawah itu pun bergoyang keras. "Hei orang darat, diamlah sedikit. Ini laut lepas, bukan darat terbatas," teriak orang laut bersamaan. "Kalian mau mati?" tiba-tiba satu orang laut nyeletuk.


Orang darat yang baru sadar dengan kecerobohannya itu langsung memasang gaya batu sesuai tindak-tanduk mereka yang terakhir. Ada yang hanya melongo, seperti orang bodoh. Padahal, dimata orang laut, mereka itu luar biasa pintar. Untuk sesaat, orang laut masih menganggap mereka pintar. Tapi entah setelah kejadian ini....


Hanya selang sepersekian detik, dengan rasa berdebar kencang yang datang begitu cepat, orang darat mulai sadar. Rupanya, untuk sadar itu orang hanya perlu waktu tidak lebih dari satu detik....


Perahu pun kembali ke darat.

Pesta laut yang meriah dan girang-gembira terus berlanjut.

Ada atraksi buaya, bakar ikan yang panjang-panjang, karnaval artis ibu-ibu laut dan bapak-bapak laut - tak lupa anak-anak mereka juga ikut.

Ramai sekali... Sebab, gendang yang menderu, riak gelombang tengah hari, suara pasir putih yang diinjak orang laut dan darat yang tiba-tiba terbang diterpa angin, suara kicauan burung, semilir nyiur di pesisir laut dan lagu dangdut murahan yang dibuat eksklusif terus berperang mencari penggemar mereka yang sungguh sangat memilih satu dari seribu suara itu...


Pesta laut, adalah wujud syukur katanya....

Karena alam, lebih sering berteman, ketimbang menjaili manusia....
Tanjung Pakis, Pakisjaya,
Agustus 2k7

Lembayung (Bali)


Menatap lembayung di langit bali
Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Dikala jiwaku tak terbatas bebas berandai mengulang waktu

Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
Oh cinta...

Teman yang terhanyut arus waktu
Mekar mendewasa
Masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku
semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan semangatmu itu
Oh, jingga...

Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
Oh, cinta...

Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan semangatmu itu
Oh, jingga..

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
Senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
Tak terbangun dari khayal keajaiban ini
Oh, mimpi..

Andai ada satu cara
Tuk kembali menatap agung suryamu
Lembayung bali

Kamis, 13 September 2007

Kisah abadi "Raka sang Sutradara" #3

Film eksentrik dan kepergian raka (lagi)

Ada yang unik sejak sore yang damai itu dirasakan. Sejak percakapan raka bersama timnya untuk membuat sebuah film yang akan segera dirilis sebentar lagi. Sebagai bocoran untuk para wartawan infotainment, kali ini raka akan membuat film bertemakan cinta dan keluarga. Tapi sekali lagi, bukan tema cinta seperti Eifel I'm in Love apalagi Heart atau film cinta murahan yang cengeng. Film ini pasti akan menggugah semua penonton. Dan efek dari film ini, para lelaki tidak akan malu lagi untuk menangis bombay di muka umum. Mereka akan mencurahkan segenap perasaannya kepada pacarnya atau keluarganya. Jauh-jauh hari tim raka selalu memikirkan hal ini. Apa efek yang akan terjadi buat para penonton??

Oh ya, sebagai informasi aja, beberapa judul film karya Production House Raka and Little Star Project yang telah tayang di bioskop kemaren telah menghasilkan untung bagi semua orang, hingga penjual kacang depan BIP, BSM, CIWALK, Blitz MegaPlex PJV dan Jakarta. Film-film yang sempat sukses menyita jutaan penonton dari anak-anak, ABG, Dewasa Muda, pengantin baru hingga orangtua wali murid ini berjudul : "Pembalasan Samsul Bahri" yang bertahan selama enam bulan di bioskop terkemuka. Ada lagi film "Kembalinya Si Midun" yang bertahan lima bulan di bioskop terkemuka juga. Terus ada juga film "Kabayan Mencari Jimat" yang juga laris manis tanjung kimpul di pasaran. Belum lagi tema film remaja yang diantaranya bertajuk : "Ada Asmara Di Tanah Abang" serta film bertema romantic comedy "Kejar Cinta Sambil Tertawa" telah meraup milyaran rupiah. Uang ini tak lupa dibagikan kepada fakir miskin, anak terlantar dan yatim piatu yang konon dipelihara negara dalam UUD 1945 tapi nyatanya bohong belaka, tertipu mereka...

Oh ya, sepertinya raka akan pergi dulu sebentar... saat dikonfirmasi oleh wartawan hiburan dan infotainment yang menunggu di depan rumahnya sedari subuh buta, raka berkata, "saya hanya jalan-jalan sebentar mencari angin dan inspirasi. saya belum berniat menghilang lagi, kok. Jadi, rekan-rekan harap santai saja. Do'akan saja saya... tapi memang sempat juga terbesit untuk 'hibernasi' selama beberapa hari, cuman belum ada waktu aja... saya masih sayang kalian...". Dan mobil cheeroke raka langsung melesat meninggalkan kerumunan wartawan yang beberapa diantaranya begitu terharu sampai menitikan air mata.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang...60.....90....110....km/jam sambil mendengarkan cd lagu kenangan abadi yang easy listening, mobil terus melaju di jalan tol yang panjang itu....entah mau kemana dia...???

bersambung.....

Kisah abadi "Raka sang Sutradara" #2

Suatu sore damai....

Sore itu, sore yang damai. Seperti biasa, raka sang sutradara sedang bersantai di sebuah cafe outdoor dengan pemandangan taman, sebuah kolam dengan air mancur dan para pejalan kaki yang girang gembira menikmati suasana sore itu. Sekali lagi, emang sore yang damai kala itu. Raka bersama kekasih gelapnya dan teman-teman rupanya sedang berbincang mengenai film barunya yang akan segera dirilis. Perbincangan semakin hangat, karena disitu juga hadir assisten raka, sang penulis skenario dan pencari talent serta seorang kameramen.

Sang pelayan dari kejauhan curi-curi pandang melihat ke arah meja dimana raka dkk duduk. Rupanya si pelayan ingin minta tanda tangan, tapi dia malu dan takut dipecat. Dengan perasaan berdebar-debar dia menyuguhkan minuman dan makanan pesanan raka dkk. Raka hanya tersenyum ketika si pelayan tadi datang. Hhhmm, raka memang orang yang ramah. Si pelayan pun langsung pergi dengan wajah memerah. Perbincangan terus berlanjut dan semakin hangat. Terjadi perdebatan sengit dan tajam antara teman-teman raka mengenai jalan cerita dan talent yang akan dipakai nanti. Raka sendiri masih mengamati kearah mana perdebatan itu terjadi. Membuat film memang bukan perkara mudah. Apalagi sutradara sekaliber raka harus membuat segalanya tampak sempurna. Detil-detil dari setiap adegan harus dirasakan oleh penonton. Dalam setiap film made in raka, penonton jangan berkedip sedikitpun. Sekali berkedip ia akan kehilangan moment berharga dari pelem itu.

Pada sore damai itu, sayup-sayup terdengar burung berkicau. Suara pepohonan yang bergoyang menambah damai suasana di cafe itu. Cafe dengan suasana alam alami. Orang-orang masih asyik dengan aktivitas mereka. Ada yang tertawa sambil bermain di dekat kolam, ada yang memberi makan burung-burung merpati di sekitar taman, ada juga yang pacaran, atau ada juga asyik memotret dan melukis pemandangan sekitar untuk mengabadikan suasana damai tempat itu. Emang damai sich. Sementara di meja tempat raka dkk duduk, obrolan hangat masih mengalir. Sedikit demi sedikit raka mencicipi cappucino hangat dan donat yang terasa manis dibibirnya. Tak jarang ia juga menyempatkan diri untuk berbincang hangat dengan kekasih gelapnya lalu mencium keningnya.
Ah, indah ya....

detik terus berjalan...
bersambung......

Selasa, 28 Agustus 2007

Kisah abadi "Raka sang Sutradara" #1

Kisah abadi "Raka sang Sutradara" kini ditulis kembali...
Kenapa ditulis kembali? Lalu, kemana tulisan sebelumnya ketika raka pergi?
Sudahlah....
Toh, misteri kepergiannya yang mendadak di tengah publik sampai saat ini tidak pernah terkuak.
Maka, setiap penggemar dan pemirsa hanya bisa secara tiba-tiba mendengar, melihat dan merasakan kisah kedatangannya kembali di jagat infotainment penjuru dunia...

begini ceritanya.....


Setelah sekian lama bergelut dengan kenyataan yang ada, kini seorang manusia yang selalu mengisi hari-hari biasanya kembali lagi kehadapan pemirsa semuanya. Saat ditanya oleh sekira ratusan wartawan infotainment mengenai kemana saja dia menghilang selama ini, dengan santai pria yang akrab disapa raka ini menjawab, "Aku ada karena kau ada". Rupanya virus dari Ian Kasela (yang konon dalam Ripple Magz Bandung disebut-sebut sebagai tukang gali yang beralih profesi menjadi anak band dan kini telah memiliki keradjaan di sebuah stasiun tivi bernama Trans TV) telah merasukinya. Lagu-lagu yang tersebar hingga pedalaman ini merasuk jiwa muda dan tentunya orang tua. Wajah pas-pasan dengan kacamata hitam hasil sumbangan sponsor kacamata internasional yang entah kenapa tak pernah lepas melindungi mata sang penyanyi dan gitaris pake gigi ini selalu muncul di media bahkan menjadi poster yang dijual di emperan kaki lima.

Wartawan infotainment yang terus mengejar tiada henti, akhirnya memaksa raka untuk menceritakan sedikit apa yang terjadi saat ia mengasingkan diri. Di dalam mobil Cheeroke-nya, raka akhirnya bercerita. "Selama ini saya sibuk sehingga belom sempet buka FS dan update blog lagi. Kemaren saya dipanggil untuk interview dan presentasi. Lalu saya sidang dan akhirnya naek gunung menuntut ilmu selama tiga hari. Tapi saya bukan menemui Aa Gatot seperti yang diberitakan beberapa infotainment kemaren. Saya kan tidak sedang punya masalah rumah tangga, masa ke Aa Gatot? Saya juga gak pernah bertemu dengan Ki Joko Bodo apalagi Mbah Marijan seperti ditayangkan tivi kemaren. Kini, saya telah turun gunung dan alhamdulillah saya baik-baik saja. Kekasih gelap saya juga baek dan hubungan kita lancar. Malah saya mau ketemu setelah ini. Jadi, gosip yang beredar tidak benar. Saya sayang kalian kok." Lalu sambil melambaikan tangan dan tersenyum, raka pun pergi dengan Cheeroke-nya. Para wartawan infotainment girang bukan kepalang dan terharu. Pasalnya mereka kini bisa lagi melihat raka, seorang biasa yang selalu menjadi public figur yang terkadang cukup kontroversi. Mereka kangen ma raka.

Esoknya....Ditemani secangkir capuccino hangat, di dekat kolam renang di belakang rumahnya, raka membeli semua media cetak yang memuat beritanya kemarin. Semua stasiun tivi sejak subuh buta sudah menayangkan beritanya kemarin. Namun, berita media cetak biasanya lebih heboh. Sambil tersenyum, raka membaca sebuah tabloid gosip paling hot negeri ini. Covernya adalah dia, dengan judul "Kembalinya Si Penghayal Ca'em Membawa Cinta". Berita gosip itu juga membuat wartawan infotainment makin suka dengannya. Apalagi ibu-ibu, mba-mba, tante-tante dan para remaja cewek yang selalu histeris jika melihatnya.

Ah, raka sang sutradara akhirnya kembali.

Semua masyarakat akhirnya bahagia....

Damai Malam episode1

Malam yang damai...
Sebuah pekerjaan rumah yang harus kumulai dari sekarang....
Mencari sejarah yang sempat tertutup rapat atau bahkan hilang.
Ya, aku harus merangkainya.
Setidaknya agar aku tahu di mana aku mulai berdiri dan melangkahkan kakiku. Aku hanya tidak ingin durhaka. Sepertinya semua akan terasa berat. Tapi hidup belum berhenti.
Sejarah harus kutulis lewat tinta biruku. Untuk anak dan keluargaku kelak. Agar mereka menjadi lebih memahami betapa hidup perlu menghargai masa lalu.
Meski kita hidup untuk hari ini dan (mungkin) untuk besok.
Ah, waingapu tunggu aku. Aku rindu birunya laut dan bintang laut yang dulu pernah kutemukan di pesisir laut itu. Berjalan sendiri dan merenungi betapa indah hidup bersama kedamaian. Aku pasti kesana. Pasti. Meski untuk mendengar cerita betapa orang berbahagia dengan orang-tuaku dahulu....
Aku akan datang....
Suatu saat kelak. Dan itu harus.
Sayang, tunggu aku di rumah...
aku juga akan kesana.
Semoga ini bisa kuceritakan nanti padamu.
Ketika suatu malam yang damai datang menyapa. Dan ketika itu pula kegelapan yang merupakan kehendak alam datang. Semua orang berdo'a... aku pun juga.
Semua akan terjadi. Ketika aku mulai berjuang melawan lupa. Berjuang dari kemapanan dan keangkuhan masa muda....

Melawan sesuatu yang kita sebut nyaman.
Jika tidak seperti itu, aku akan tetap di sini.
Menangisi sejarah yang kuukir sendiri.
Atau bahkan aku malah tidak punya sejarah sama sekali.

Aku tidak mau, sayang...

Malam damai, bersama gerhana bulan... ada do'a teriring.
duapuluhdelapan delapan kosongtujuh

Sabtu, 25 Agustus 2007

Grand Launching Kata Curhat

Selamat malam, pagi, siang juga sore...

Yth Bpk Presiden Republik Curahan Hati beserta keluarga...
Yth Bpk Wakil Presiden Republik Curahan Hati beserta keluarga (juga selingkuhannya)...
Yth Menteri Kabinet Republik Curahan Hati bersama para istri mudanya...
Yth Duta Besar Negara-negara tetangga yang sering juga curhat sambil gelap-gelapan...
Yth Para Pemimpin Redaksi berbagai media dalam bentuk apapun...
Yth Para tamu undangan yang sudah jauh-jauh hari menunggu launching kantor berita curahan hati atau kita sebut "KATA CURHAT"....

Dengan ini, pada Sabtu, malam Minggu bertempat di dunia maya tepatnya di Indonesia, tanggal 25 Agustus 2007 pukul 20.04 WIB, dengan ini kita resmikan KATA CURHAT sebagai kantor berita satu-satunya yang sah dan legal untuk mengungkapkan kata hati dan berbagai perasaan (pedih, sakit, dendam, benci, CINTA, SAYANG, suka-duka, girang-gembira dan berbagai perasaan yang mendera kita) dalam bentuk kata-kata yang teruntai indah mendayu-dayu...
Maka, kejujuran hati menjadi elemen pertama para koresponden/kontributor di KATA CURHAT ini... setelah itu, kemapuan imajinasi dan kemampuan memainkan kata menjadi elemen selanjutnya...

Akhirnya, uraian singkat ini semoga menjadi kebahagiaan kita semua dalam menyambut kehadiran KATA CURHAT di belantika media tanah air dan tanah orang lain di dunia manapun... Menyimak sebuah novel populer yang tidak mau saya sebutkan judul dan pengarangnya, maka prinsip (katakanlah begitu) di KATA CURHAT ini adalah : "Kita tidak perlu punya idealis yang malah memusingkan kita untuk melangkah. Tapi di sini, kita hanya perlu etika hidup. Apa itu? Mari kita cari bersama."

Salam sejahtera untuk kita bersama....
katakan apa kata hatimu...

Pemimpin redaksi,
Raka Zaipul
"Selalu jatuh cinta..."